Memory of Palembang #Part2

Memory of Palembang #Part2

Tiba saatnya pembukaan Rapat Umum Anggota (RUA) HMPPI di Universitas Sriwijaya, Palembang. Tepatnya tanggal 21 November 2013, perwakilan mahasiswa dari berbagai almamater berkumpul dengan warna jas kebanggan masing-masing meramaikan ruang pertemuan LPPM Universitas Sriwijaya. Belum semua universitas datang, termasuk dari Andalas, USU, UGM, dan Riau. Pejabat kampus tuan sebagai tuan rumah yang akan menyambut juga belum kunjung jelas kabarnya. Dekan Fakultas Pertanian dikabarkan akan datang, namun beberapa menit berselang acara dimulai, tetiba ada kabar yang akan membuka acara kami adalah Prof. Rindit Pambayun, ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan (PATPI) yang juga guru besar di Fakultas Pertanian Unsri. Sebuah berita gembira dan suatu kehormatan tentunya karena beliau yang bersedia langsung.

Jalannya acara pembukaan tampak sederhana, saya turut memberikan sambutan pembukaan. Tugas saya adalah menggelorakan semangat mahasiswa untuk tetap eksis berjuang di bidang pangan, berjalan beriringan, dan belajar bersama tidak hanya menyoal teknologi namun analisis berbagai sudut pandang yang berkaitan dengan pangan agar dapat melahirkan solusi jitu permasalahan pangan yang ditawarkan mahasiswa di era sekarang dan kedepannya. Dilanjutkan dengan sambutan Prof. Rindit yang berhasil membangun antusiasme mahasiswa pangan yang hadir pada hari itu. Sanjungan dilontarkan Prof. Rindit seakan membuat saya melayang. Sebelumnya saya dan Prof. Rindit sudah pernah bertemu dan berinteraksi dalam pelaksanaan acara Indonesia Food Bowl Quiz Comeptition 2013 yang merupakan acara besar tingkat nasional HMPPI yang bermitra dengan PATPI. Acaranya tergolong sukses dengan sambutan baik dari dosen-dosen anggota PATPI se-Indonesia, termasuk Prof. Rindit. Saya termasuk mahasiswa beruntung yang bisa menerima banyak inspirasi dan motivasi dari seorang Prof. Rindit.

Akhirnya setelah acara pembukaan selesai, sidang dimulai dengan pimpinan sementaranya Lani dari Universitas Pasundan, Saya, dan Antaria Marsega dari Universitas Sriwijaya. Sidang diawali seperti biasanya sesuai aturan sidang pertemuan nasional. Seketika datang rombongan dari Universitas Riau yang baru saja tiba bersama perwakilan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU). Setibanya mereka, kondisi sidang langsung meriah. Meriah dengan lontaran protes, interupsi, dan komentar-komentar pedas dari mereka. Saya merasa bahwa rapat selanjutnya akan bertambah seru dengan kehadiran mereka yang cukup militan, vokal dan solutif. Kalau tidak ramai, sidang terasa biasa saja karena ide tidak greget jika semangat militan tak membumbuinya. Sidang dilanjutkan dan terpilihlah presidium sidang yang akan memimpin sidang RUA sampai akhir yakni, Imam (Universitas Sriwijaya), Fadro (Universitas Riau), dan Isa (Universitas Sebelas Maret). Dari tampang-tampang mereka sepertinya merupakan aktivis di kampusnya masing-masing, sangar-sangar dan menakutkan. Pemilihan presidium sidang cukup efektif dengan terpilihnya mereka yang dinilai mampu membawa kesuksesan acara hingga akhir.

Fadro, Imam, Isa (Persidium sidang)
Fadro, Imam, Isa (Persidium sidang)

Sidang hari pertama selesai, malam itu panitia masih sibuk mempersiapkan perlengkapan dan menjemput beberapa perwakilan mahasiswa yang belum kunjung tiba. Sembari menunggu, saya dan beberapa Badan Pengurus Pusat melalukan pertemuan untuk mempersiapkan pertanggungjawaban. Lagi-lagi kita baru bisa bertemu sekilan lama setelah mempersiapkan LPJ masing-masing melalui rapat online. HMPPI identik dengan rapat online karena kami saling jauh, tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Inilah yang membuat kita beda dan lebih terdidik lebih kuat dalam hal komunikasi jarak jauh.

Poppy (Sekum-UNEJ), Dewi (Infokom-UGM), Saya (UMBY)
Poppy (Sekum-UNEJ), Dewi (Infokom-UGM), Saya (UMBY)

 

Setelah itu, kami mengumpulkan mahasiswa magang calon pengurus pusat HMPPI yang telah hadir untuk bertemu dan sharing. Maklum ini adalah pertemuan pertama kami dan mereka setelah sekian bulan diseleksi, lagi-lagi via online. Akhirnya mereka dipertemukan, yang sebelumnya hanya melihat foto profil di media sosial dan bekerja sama menjalankan program hanya lewat online, dan meski letih karena hari itu mereka baru saja tiba dari daerahnya masing-masing. Namun, satu hal yang menurut saya membuat pertemuan lebih menyenangkan adalah sajian snack buatan panitia. Itu semacam mpek-mpek dicocol dengan larutan asamnya, maknyus banget deh pokoknya. Terima kasih seksi konsumsi, hehehehe.

Magangers HMPPI
Magangers HMPPI

—————————–

Jumat, 21 November 2013 merupakan salah satu acara inti pertemuan nasional HMPPI, Seminar Nasional tentang peran stakeholder termasuk mahasiswa dalam perkembangan teknologi pangan. Pembicara seminarnya adalah orang-orang luar biasa yang berkompeten yaitu Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Selatan, BPOM Sumatera Selatan dan Prof. Rindit Pambayun sebagai ketua PATPI. Konten materi seminar yang mereka sajikan sangatlah menarik dan saling berkesinambungan terutama materi dari Prof. Rindit. Beliau membawakan materi dengan sangat komprehensif dan memberikan fakta-fakta menarik tentang pangan nusantara dan strategi pengembangannya. Menurut beliau, makanan-makanan yang ada di Eropa tidak kalah enaknya dengan makanan tradisional di Indonesia. Hal ini diungkapkan berdasarkan pengalaman pribadinya saat ke Jerman bertemu dengan Profesor koleganya di sana. Beliau disajikan makanan khas Eropa yang mahal dan apik. Suatu hari giliran Profesor asal Jerman tersebut yang berkunjung ke Indonesia. Prof. Rindit mengajaknya makan makanan tradisional Indonesia, dan Profesor tersebut takjub dengan kenikmatan makanan Indonesia. Saat pemaparan materinya, Prof. Rindit memberikan contoh bumbu karedok khas Indonesia ternyata tidak kalah dengan mayonaise asal luar negeri, hanya beda di sentuhan teknologi. Kalau bumbu karedok masih dengan perlakua tradisional, mayonaise sudah menggunakan teknologi canggih. Menurut Prof. Rindit, jika bumbu karedok mampu diolah secara mutakhir dengan teknologi, dikemas dengan baik dan dipatenkan, maka akan menjadi idola hingga tingkat Internasional. Tidak hanya karedok, beliau juga memperbandingkan salad dari luar negeri dan rujak makanan tradisional Indonesia, tentunya lebih mantap rujak. Sama sama menyehatkan namun berbeda sentuhan. Dan masih banyak lagi makanan tradisional Indonesia yang bisa bersaing di luar negeri. Peran kita sebagai mahasiswa peduli pangan perlu mulai memperhatikan dan mengembangkan pangan Indonesia agar mampu bersaing di tingkat Internasional.

Prof. Rindit Pambayun saat membawakan materi seminar
Prof. Rindit Pambayun saat membawakan materi seminar

 

Materi seminar yang dibawakan Prof. Rindit dan pemateri lainnya memang sungguh menginspirasi. Selain materi, saya punya pengalaman inspiratif yang mungkin layak dibagikan untuk pembaca blog saya. Ini tentang satu mimpi yang diamanahkan dan melebur menjadi cita bersama. Ini tentang program yang menjadi serangkaian acara dalam seminar, yaitu P3L Show atau bisa dikatakan pameran produk pangan lokal hasil binaan komisariat HMPPI.

Suatu hari ketika saya baru tahu tentang HMPPI, saya mungkin salah seorang kepo-ers terdahsyat waktu itu. Wajar saja kiranya, keingintahuan dan impian saya berkiprah di organisasi nasional saat mahasiswa itu sangat besar, apalagi dipertemukan dengan inspirator HMPPI saat itu seperi mbak Dewi Octaviany dari UGM, mbk Murdiati dari IPB, Mbak Rosy dari IPB, dan senior-senior di HMPPI saat itu. Cara mereka yang elegan dalam kultur organisasi nasional membuat saya terpukau dan ingin menjadi seperti mereka suatu saat, mampu menginspirasi dan menjadi teladan bagi adik-adiknya. Waktu berjalan, saya mulai banyak berinteraksi dengan mereka dan merasa sangat bersemangat setiap bertemu dan bekerja bareng mereka. Suatu hari saya dan Mbak Dewi Octaviany berbincang-bincang. Saya lupa persis waktu dan tempatnya, namun saya ingat persis apa konten pesannya. Mbak Dewi adalah Ketua HMPPI periode 2009-2011, terpilih di Aceh dan ketua perempuan yang pertama HMPPI. Hari itu Mbak Dewi mengutarakan impiannya tentang program Industrialisasi Pangan Pedesaan (IPP) saat periode kepengurusannya yang kini bertransformasi menjadi Pengangkatan Produk Pangan Lokal (P3L) saat periode kepengurusan 2011-2013 sampai sekarang.

Dewi Octaviany saat membawakan materi HMPPI tahun 2011 di acara mahasiswa UMBY
Dewi Octaviany saat membawakan materi HMPPI tahun 2011 di acara mahasiswa UMBY

 

Mbak Dewi mengutarakan citanya suatu saat HMPPI mengadakan pameran pangan hasil binaan mahasiswa HMPPI tingkat nasional. Saya merasa program ini sangat masuk akal sebagai follow up IPP yang saat itu jadi program idola HMPPI di tingkat nasional. Mungkin jika menakar perasaan saya saat itu, sangat antusias dan bersemangat, namun masih belum paham betul, mengingat pengetahuan dan pemahaman saya yang masih minim akan hal itu, dan hanya menjadi pendengar yang baik, namun sesekali berucap menanggapi. Seiring berjalannya waktu, saya aktif di HMPPI di tingkatan lebih jauh dan memegang tongkat estafet yang diberikan oleh Mbak Dewi dan jajarannya. Saya terpilih di Bandung sebagai Ketua HMPPI yang ke-4 periode 2011-2013.

BPP HMPPI 2011-2013 pada Seminar Nasional di Universitas Sriwijaya
BPP HMPPI 2011-2013 pada Seminar Nasional di Universitas Sriwijaya

 

Kepengurusan saya jalankan, selain dari dukungan pengurus, juga dengan bermodal inspirasi kakak-kakak pendahulu saya salah satunya. Hingga hari itu tiba, momen pertemuan nasional untuk mengakhiri kepengurusan yang saya pimpin, di Universitas Sriwijaya. Saat itu ratusan mahasiswa berkumpul menyaksikan seminar inspiratif di auditorium universitas. Saat seminar selesai, peserta berbondong-bondong ke bagian belakang untuk berkunjung dan berinteraksi bersama mahasiswa di berbagai stand mahasiswa. Stand-stand tersebut menyajikan produk-produk pangan olahan. Produk-produk pangan olahan tersebut adalah hasil dari binaan desa dan komunitas mahasiswa anggota HMPPI yang mereka bawa dari daerah masing-masing. Setelah berpamitan dengan para pembicara seminar, saya menengok ke belakang, melihat antusias peserta dan riuhnya pengunjung stand yang berjejer sederhana membuat saya mengingat momen pertemuan dengan mbak Dewi. Saat itu saya terpaku, dalam hati saya mengatakan, mungkinkah ini yang dimaksud mbak Dewi waktu itu. Saya mungkin merasakan apa yang dicitakan mbak Dewi. Saat itu saya sadar bagaimana rasanya punya program yang diimpikan untuk terealisasi. Mungkin saja ini berbeda dari apa yang diharapkan beliau. Namun setelah mendengar cerita dan mimpinya saat itu, saya mentransformasikannya di dalam otak saya, cita itu menjadi bagian dari cita saya, semangatnya pun menjadi semangat saya meskipun tatanan realisasinya mungkin akan tidak sesuai dengan ekspektasinya. Tapi karena telah menjadi bagian mimpi saya, maka terealisasinya saya sesuaikan dengan apa yang saya miliki saat itu. Inilah yang saya maksudkan dengan mimpi yang diamanahkan dan menjadi cita bersama. Pameran hasil IPP yang dicitakan mbak Dewi lewat bincangan kami saat itu kini terwujud meski dalam kesederhanaan dan bertransformasi dalam bentuk P3L Show. Namun saya merasa kami berada dalam satu cita dan motivasi bersama, untuk berbuat, menginspirasi, dan berkontribusi dalam semangat peduli pangan.

Suasana P3L Show di Auditorium Universitas Sriwijaya tahun 2013
Suasana P3L Show di Auditorium Universitas Sriwijaya tahun 2013

Hari itu sungguh pengalaman yang sangat inspiratif, mulai dari seminar hingga memori tentang impian dan cita-cita bersama mahasiswa yang berjuang dalam bidang profesinya. Tentang motivasi dan keikhlasan serta keteladanan. Tentang tongkat estafet yang digenggam kuat untuk dijaga hingga berpindah ke generasi selanjutnya dengan kualitas yang lebih baik tentunya.

seminar selesai, pameran selesai, RUA dilanjutkan hingga perpisahan yang berhasil mengurai air mata dan menciptakan kenangan indah untuk dibawa pulang. Bersambung……..

Memory of Palembang #Part1

Memory of Palembang #Part1

Suatu hari saya bercita-cita akan menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Hal itu terwujud di penghujung tahun 2013 tepatnya di bulan November. Momentum tersebut bertepatan dengan pertemuan nasional yang bertempat di Universitas Sriwijaya, Indralaya. Setibanya di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II disambut cuaca yang panas menyengat ditambah lokasi kota dan Universitas Sriwijaya yang tidak tahu entah ke mana jalannya. Sambutan tersebut tidak membuat kekaguman saya terhadap bandara ini hilang. Memasuki bandara, langsung saya teringat kata teman saya sebelumnya bahwa bandara ini adalah yang terbersih di Indonesia. Hal itu terbukti melihat kebersihan dan kerapian bandara di bagian dalamnya, membuat saya betah berjalan menelusuri setiap sudut ruangnya. Diperkuat lagi dari adanya artikel dari National Geographic yang menjelaskan bahwa bandara ini dianugerahi sebagai bandara tersehat di Indonesia oleh Menteri Kesehatan RI karena kebersihannya. Tak sabar menunggu teman-teman Unsri datang menyambangi, saya memutuskan untuk “ngebolang” menelusuri jalan kota Palembang menuju rumah sanak keluarga di daerah Griya Agung. Berbekal google map dan tanya-tanya akhirnya ketemulah jalur lokasi tujuan saya. Berkeliling dan transit di beberapa halte selama satu jam dengan transportasi unggulan kota Palembang yaitu Trans Musi, sangatlah menyenangkan. Kalimat yang sering kubaca Get lost if you want to find yourself, selalu terngiang ketika melakukan perjalanan sendiri di berbagai kota. Saya harap dengan “ngebolang” di waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota Palembang membuat saya bisa beradaptasi lebih cepat di pulau rempah ini, Sumatera.

source: clinicoustic.blogspot.com
source: clinicoustic.blogspot.com

Transit semalam di rumah keluarga, esok harinya perjalanan misi utama di mulai, menuju ke Universitas Sriwijaya, kampus Indralaya. Ternyata oh ternyata, kampus terpadu Universitas Sriwijaya terletak jauh dari kota Palembang. Membutuhkan waktu sekitar satu jam mengendarai kendaraan pribadi ke sana, itupun jika tidak macet karena jalur menuju Indralaya juga merupakan jalan poros antar provinsi menuju ke daerah sumatera yang lain. Kata teman-teman di sana, kemacetan sering terjadi biasanya karena truk pengangkut batu bara terbalik atau ada kecelakaan yang terjadi, ngeriiii….

Sampailah saya di kampus Universitas Sriwijaya, kampus mahasiswa beralmamater kuning mentereng. Pertama kali sampai, teringat dengan desas desus bahwa ini adalah kampus terluas di Asia Tenggara, benarkah itu? kita lihat setelah ini. Sesampainya tepat di samping ukiran besar nama Unsri, Imam sudah menunggu dengan motor maticnya. Imam yang merupakan ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (HIMATETA) Unsri ini mengajak langsung menuju ke Fakultas Pertanian. Menurutku, perjalanan dari pintu gerbang kampus menuju ke Fakultas Pertanian ini cukup lama rasanya, atau hanya perasaanku saja, entahlah. Sesampainya di fakultas, suasana tampak ramai dengan mahasiswa yang mengerjakan tugas dan berdiskusi. Saya tampak jadi orang aneh diperhatikan mahasiswa. Boleh jadi tampak seperti orang aneh karena mana ada mahasiswa Unsri bawa tas punggung dan tas jinjing besar ke kampus, emangnya kampus hotel buat nginap. Setelah mengalami kejadian tampak seperti orang aneh itu, untungnya Ilham datang menyambangi dan menemani saya ngobrol. Ilham adalah mantan ketua HIMATETA sebelum Imam, seangkatan dengan saya masuk tahun 2009. Kamipun baru saja bertemu setelah sekian tahun berinteraksi hanya lewat internet. Berbincang sebentar, Ilham mengajak saya mengikuti acara seminar hasil pertanian mahasiswa jurusan THP. Tanpa banyak basa basi, saya langsung ikut ke seminar tersebut. Sesampainya di ruang seminar, kejadian lagi untuk kedua kalinya tampak seperti orang aneh di ruang yang lebih formal celakanya. Bahkan mahasiswa yang hendak presentasi di seminar pun tampak heran melihat keberadaan saya, lebih celakanya lagi bangku kosong tinggal beberapa dan adanya di depan semua. Dengan terpaksa saya duduk di depan dan berada di samping meja snack yang hendak dibagikan, jadilah saya stranger seutuhnya di ruangan itu.

Setelah beradaptasi dengan berbagai sikap-sikap aneh saya tadi, masuklah sesi seminar dan saya mulai terhanyut untuk menyimak lebih dalam hasil penelitian kawan-kawan calon sarjana itu. Setelah disimak baik-baik, sepertinya saya agak mengenal sosok salah satu penyaji tersebut. Setelah mengingat-ngingat, ternyata dia adalah salah satu finalis Indonesian Food Bowl Quiz Competition 2013 yang diadakan di UGM di bulan Mei yang lalu. Irfan adalah finalis yang mewakili regional Sumatera bersama rekan satu timnya, ternyata kami berjodoh bertemu di suasana sidang salah seorang mahasiswa berprestasinya THP Unsri. Saat seminar saya memilih diam meski ada beberapa pertanyaan yang timbul di benak saya tentang topik yang disajikan karena pertama, saya bukan mahasiswa sana dan nanti dikira sok dan akan makin memperkeruh suasana kalau dosen-dosennya tahu saya bukan mahasiswa sana dan yang kedua, saya juga pernah mengalami hal yang sama beberapa tahun lalu jadi tahu rasanya kalau begitu banyak pertanyaan yang diajukan peserta apalagi dosen, jawaban dari pertanyaan saya nanti saya cari sendiri di literatur lainnya, heheh.

Selanjutnya saya diantar menuju penginapan tempat para peserta pertemuan nasional HMPPI diinapkan nantinya. Saya diantar Imam ke sana menggunakan motornya, dan sekali lagi saya merasakan bahwa jarak tempuh dari Fakultas Pertanian menuju ke tempat penginapan itu lumayan lama dalam cakupan sebuah universitas. Tempat menginap kami adalah di rumah jabatan petinggi kampus yang jarang juga ditempati oleh pemiliknya, namun berada dalam kompleks universitas. Kesan itulah yang meyakinkan saya bahwa memang Universitas Sriwijaya ini kampusnya sangat luas. Tiap bangunan jaraknya sangat jauh, capek pastinya kalau jalan kaki. Ditambah lagi baru saja dilakukan pembukaan lahan di sana untuk pembangunan infrastruktur kampus. Sepertinya memang dulunya kampus ini hutan. Kata teman-teman Unsri, di bagian belakang kampus masih adalah lahan kebun milik kampus yang begitu luas. Makin saya yakin bahwa memang kampus ini tidak aneh jika dikatakan kampus paling luas di Asia Tenggara. Untuk mengakses dari pust gedung perkuliahan ke rumah jabatan di belakang kampus pun biasanya mahasiswa menggunakan angkot atau bus kampus yang memang tersedia lalu lalang di dalam Unsri.

Pengalaman hari pertama saya rasa cukup untuk membuat saya mengenal lebih dekat dengan suasana Palembang dan kampus Universitas Sriwijaya. Sebelum mengakhiri cerita pertama ini, masih ada kejadian lain yang merupakan bagian dari adaptasi saya di Unsri, utamanya dengan para panitia tuan rumah pertemuan nasional. Ceritanya cukup lucu. Setibanya di penginapan, dua rumah yang akan ditempati masih sementara dibereskan dan dibersihkan. Salah satu alasan yang membuat saya datang lebih awal 2 hari daripada teman-teman HMPPI yang lainnya adalah melakukan perkenalan dan berkoordinasi lebih dekat dengan panitia lokal, karena sejauh ini persiapan beberapa bulan sebelumnya kami hanya mengadakan pertemuan melalui internet alias rapat online. Saat mengadakan bersih-bersih, saya bersama teman-teman akomodasi mengecek rumah tempat penginapan tersbut. Kasur dan bantal sudah digelar, kondisi sudah mulai rapi, dan aliran air telah dicek. Tiba suatu waktu hari itu, keran air di salah satu rumah lupa dimatikan. Saluran pembuangannya di lantai pun tersumbat dan air mengalir menuju ruang dimana kasur telah digelar. Terjadilah kejadian yang membuat panik panitia. Semua kasur basah dan panitia berbondong-bondong gotong royong membereskan, menjemur, memeras dan mengepel lantai. Kebetulan saya berada di TKP dan langsung ikut membantu panitia membereskan kasur-kasur basah tersebut. Dalam pikiran saya, mungkin kejadian ini bisa membuat saya mengenal lebih dekat panitia tuan rumah nasional ini. Walhasil tepat, setelah kejadian ini komunikasi lebih terbangun dan saya bisa mengenal satu per satu wajah panitia dan bisa berinteraksi lebih aktif untuk mensukseskan pertemuan nasional di Universitas Sriwijaya ini. Hari itu cukup berkesan, Sumatera menyambut dengan anak-anak emasnya. Budak-budak Palembang nan lihai dan kooperatif, tampak dalam benak saya pertemuan nantinya akan sukses semanis senyuman para panitia saat pertama kali bertegur sapa dalam acara penjemuran kasur-kasur basah hari itu.

bersambung…….