Memikirkan Kembali Sistem Pangan Kita

Memikirkan Kembali Sistem Pangan Kita

Sebagian besar masyarakat di pedesaan adalah petani miskin yang prioritas hidupnya adalah mencukupi kebutuhan pangan keluarga dan individunya sehari-hari. Petani miskin di Indonesia rata-rata merupakan buruh tani atau sebagai petani gurem yang mengelola lahan kurang dari 0,5 Ha. Prioritas hasil pertanian bertujuan untuk mencukupi kebutuhan utama dalam rumah tangga dan individu diistilahkan sebagai subsistensi. Seperti itulah kondisi masyarakat petani di pedesaan yang merupakan penyedia pangan yang ada di meja makan kita sehari-hari.

Petani subsisten merupakan ciri pertanian di Asia Tenggara. Eksploitasi dan ketidakadilan yang lahir di pedesaan kemudian mengotak atik kondisi subsistensi petani dimana dibahasakan oleh James C. Scott dengan prinsip “utamakan keselamatan” bagi petani. Prinsip ini menyebabkan petani lebih memilih menghindari resiko-resiko yang megancam subsistensinya. Daripada subsistensinya terancam, lebih baik mendapatkan margin yang lebih sedikit atau pas-pasan dari hasil bertaninya. Kondisi-kondisi yang mengancam subsistensi petani berlanjut hingga era saat ini.

Penemuan sistem rekayasa genetik yang dianggap sebagai sebuah jawaban yang dianggap mematahkan teori Malthus merupakan pintu gerbang hadirnya revolusi hijau. Perusahaan-perusahaan multinasional di bidang agrokimia dan pangan semakin berekspansi ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Merasuk ke dalam sistem pertanian kita melalui kesepakatan-kesepakatan politik para elit-elit negara. Sistem pangan kemudian berorientasi pada sistem produksi besar-besaran, monokultur, dan terpusat. Hal tersebut kemudian mempengaruhi perubahan dalam sistem pertanian subsistensi di Indonesia.

Seiring perkembangannya, sistem revolusi hijau mendapat resistensi dari berbagai kelompok masyarakat di berbagai negara. Semakin hari, masyarakat semakin sadar bahwa produksi pangan berbasis kimia dan monokultur tidak menjaga kesimbangan dan kelestarian alam. Produksi monokultur dan skala besar merupakan lawan dari istilah locally grown food, grow your food, dan semacamnya yang banyak diprakarsai oleh berbagai elemen masyarakat yang tidak sepakat dengan sistem pangan yang sangat kapitalistik sebagai jalan untuk mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan dewasa ini. Namun saat ini sistem pangan di masyarakat semakin kabur dimana lestari menjadi slogan rezim pangan global yang berevolusi maupun kelompok masyarakat yang penentang revolusi hijau. Tentu hal tersebut berdampak pada kondisi masyarakat petani di pedesaan dimana subsistensinya tetap terancam.

Secara historis, sistem pertanian di Indonesia adalah subsisten. Adanya sistem revolusi hijau kemudian melahirkan jebakan subsisten bagi petani yang berbeda dengan bentuk subsistensi sebelumnya. Perusahaan-perusahaan pangan yang lahir di tengah kondisi subsistensi petani, menciptakan bentuk subsistensi baru dimana perusahaan menguasai pasokan input melalui cara-cara yang elitis dan menyebabkan ketergantungan terhadap petani. Dengan sistem tersebut, pada satu sisi petani yang minim sumber daya menyediakan inputnya dengan membeli dari perusahaan kemudian dijual secara murah untuk kebutuhan keluarga dan individunya. Di sisi yang lain, sistem ketergantungan atas input merupakan skema yang dibangun perusahaan pangan skala besar untuk meraup margin yang maksimal. Petani memiliki hak susbsistensi dan ketika hak subsistensi terbut terancam, maka hal ini menjadi hal yang perlu ditentang. Ancaman terhadap hak-hak subsistensi petani terwujud dalam sistem pangan yang sangat industrialis saat ini.

Tantangan dunia dan di Indonesia saat ini adalah kecukupan pangan di tengah pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan iklim. Mempertimbangkan karakteristik subsistensi petani di Indonesia dan masifnya ekspansi perusahaan-perusahaan pangan luar negeri yang berslogan lestari yang bertujuan mulia untuk memberi pangan dunia, sistem pangan seperti apakah yang akan diwujudkan di Indonesia?

 

Bogor, 19 Februari 2016

Kedaulatan Pangan untuk Siapa?

Kedaulatan Pangan untuk Siapa?

Petani-petani kita kini tengah berjuang di atas lahannya. Mereka berhadapan dengan kekuatan besar rejim korporasi. Petani Rembang menghadapi Perusahaan Semen Indonesia sementara Petani Takalar melawan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). Ironisnya, keduanya adalah Badan Usahan Milik Negara (BUMN) yang baru-baru ini dikabarkan mendapat suntikan dana APBN untuk optimalisasi usahanya. Hal ini mencerminkan ada ketimpangan dalam implementasi reforma agraria dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Konflik agraria selalu menyisakan luka yang mendalam. Menguras darah dan keringat, serta merusak tatanan kehidupan masyarakat kecil, khususnya petani di pedesaan. Tak hanya itu, konflik agraria juga menjadi salah satu alasan petani lebih memilih beralih dari pertanian tanaman pangan menjadi perkebunan, merantau ke perkotaan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, dan bahkan menetap dengan segala kemelaratannya. Petani kita kini tergusur dan pangan kita pun terancam akibat akumulasi kapital yang tidak berkesudahan.

Pangan adalah hak azasi manusia. Atas dasar itu, lahirlah Kedaulatan Pangan untuk mengakomodir perwujudan hak tersebut. Food sovereginty is the right of people to domocratically control or determine the shape of their own food system, and to produce sufficient and healthy food in culturally appropriate and ecologically sustainable ways in and near their territory (Li, 2014). Dalam Undang-Undang Pangan No. 18 Tahun 2012, Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan pangan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal. Nawacita pemerintahan Republik Indonesia saat ini dalam poin 7 juga menyatakan ingin “mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik” dengan jabaran poin pertama adalah “membangun kedaulatan pangan”.

Kedaulatan pangan merupakan perwujudan hak rakyat atas pangan secara demokratis. Selain itu juga menjadikan petani sebagai subjek pembangunan. Dalam konteks Indonesia, petani kecillah subjek pembangunan. Berangkat dari situ, maka nawacita sebagai visi misi pemimpin negara saat ini tentu terikat dengan makna kedaulatan pangan yang dimaksud. Kenyataannya, keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan dipertanyakan. Ditarik lebih dalam lagi, bagaimana sebenarnya konsep kedaulatan pangan yang selama ini diyakini dan dijalankan?

Kasus Rembang, Takalar dan konflik agraria yang masih terjadi di Indonesia saat ini mencerminkan bahwa negara ingkar terhadap pencapaian kedaulatan pangan. Tak ada keberpihakan terhadap petani kecil. Ingkar terhadap undang-undang dan nawacitanya. Lantas, kedaulatan pangan itu untuk siapa? Pemerintahan baru berjalan satu semester, jadi masih ada waktu kembali berbenah dan melaju di jalur yang seharusnya ditempuh.

Belajar dari Petani: Merawat Alam dan Masyarakat

Belajar dari Petani: Merawat Alam dan Masyarakat

Melakukan praktik pertanian berkelanjutan di suatu daerah tidaklah mudah, apalagi jika di negara yang sejak tahun 60an telah menggunakan bahan kimia sebagi input tanaman pangannya. Butuh waktu yang lama untuk merestorasi ekosistem seperti sedia kala dan kembali ke sistem organik yang ramah lingkungan.

Inilah yang dirasakan petani organik di Sawangan. Sulitnya mengubah sistem pertanian konvensional yang menggunakan input bahan kimia menjadi pertanian organik yang ramah lingkungan. Sulit bukan berarti tidak bisa. Saat ini para petani di Sawangan telah sejak lama beralih ke pertanian organik meskipun langkahnya tidak cepat, namun perlahan tapi pasti. Dan memang, beralih ke pertanian organik perlu perlahan dan hati-hati sebab menyangkut multidimensi kehidupan masyarakat.

Mari kita melihat contoh perjuangan sosok­ petani organik di Sawangan, Magelang, Jawa Tengah yaitu Pak Saleh dan Pak Sunyata yang telah mengaplikasikan sistem pertanian organik. Pak Saleh memiliki usaha pertanian padi khusunya varietas lokal Menthik Susu dan Pak Sunyata fokus pada usaha pertanian hortikultura khususnya pada Mentimun. Mereka telah menjalani pertanian organik sejak lama dan menyadari bahwa sulitnya untuk mengembalikan budaya tanam organik khususnya di masyarakat.

Dari diskusi kecil yang saya lakukan bersama Pak Soleh dan Pak Sunyata, tantangan untuk pengaplikasian sistem organik adalah pertama, budaya masyarakat yang telah lama menggunakan sistem konvensional (menggunakan input kimia) sulit untuk diubah. Kedua, upaya transformasi sistem pertanian konvensional ke organik tidak serta merta berjalan mulus, sebab awalnya akan mengalami kerugian akibat perubahan lingkungan tanaman secara tiba-tiba misalnya; serangan hama yang sulit dikendalikan. Ketiga, rendahnya kualitas dan volume panen. Sulit memang, tapi Pak Soleh dan Pak Sunyata hingga saat ini telah menikmati hasil dari transformasi sistem pertanian konvensional ke pertanian organik di wilayahnya. Apa yang membuat mereka bertahan kemudian nyaman menjalaninya dan bagaimana cara mereka memperjuangkan transformasi sistem tersebut di wilayahnya masing-masing? Berdasarkan cerita pengalaman yang mereka sampaikan, saya menangkap beberapa hal yaitu tentang kepemimpinan, penguatan kelembagaan, komunikasi dan inovasi, kepedulian.

obrolan di lahan bersama Pak Sunyata (baju biru) dan Pak Saleh (jaket merah)
obrolan di lahan bersama Pak Sunyata (baju biru) dan Pak Saleh (jaket merah)

Kepemimpinan

Pak Sunyata dan Pak Saleh masing-masing adalah ketua keloompok tani di wilayahnya masing-masing. Setiap mereka memimpin kurang lebih 25 petani dari berbagai latar belakang budidaya pertanian. Kedua petani ini memiliki karakteristik yang berbeda namun keduanya memiliki daya pengaruh yang kuat di kelompoknya. Apa yang membuat mereka memilliki daya pengaruh yang kuat? Jawabannya adalah kemempinan profetik yang mereka miliki dan mereka aplikasikan di dunia pertanian. Dalam menularkan sistem pertanian organik yang ramah lingkungan, tentunya mereka telah terlebih dahulu mengaplikasikan sistem tersebut sebelum mengajak anggotanya beralih ke pertanian yang ramah lingkungan. Artinya keteladanan adalah kunci pengaruhanya.

Pak Saleh mengungkapkan bahwa, diantara anggota kelompok tani yang dia pimpin yang sebagian besar menanam padi lokal, hanya dia sendiri yang menanam padi menthik susu dengan sistem 100% organik, petani yang lain tidak berani karena beresiko tinggi. Namun, Pak Saleh mengaku puas dengan apa yang dicapainya. Saat itu, saya sembari menikmati makan siang di rumahnya dengan beras menthik susu yang berasal dari lahannya sendiri.

Pak Sunyata memiliki inovasi nutrisi tanaman nabati yang dia buat sendiri. Dia pergunakan sendiri untuk tanaman hortikultura yang dibudidayakannya. Melihat produktivitas dan kualitas hasil pertaniannya bagus, Pak Sunyata tidak serta merta berbangga hati sendiri, tetapi dengan harapan anggota kelompoknya juga bisa menikmati hasil yang sama, maka Pak Sunyata memberikan secara sukarela nutrisi tanaman yang dia buat untuk petani-petani anggota kelompoknya secara gratis setiap kali dibutuhkan. Dia mengungkapkan bahwa, ingin mengurangi ketergantungan kelompoknya terhadap penggunaan pestisida kimia. Perlahan tapi pasti, anggota kelompok mulai beralih ke pertanian ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan pestisida dengan nutrisi tanaman yang diciptakan oleh Pak Sunyata sembari bercerita dan makan singkong goreng sore itu di kediamannya.

IMG20150222104837
Timun “Gilang” karya pak Sunyata, disimpan sejak Oktober, sampai sekarang masih bagus

Kedua petani ini merupakan petani-petani berprestasi di kelompoknya. Pak Saleh dan Pak Sunyata kerap kali diundang untuk mengisi pelatihan dan penyuluhan di berbagai daerah. Mereka bukanlah penyuluh lapangan yang dibayar negara, mereka adalah penyuluh swadaya yang hadir atas kerelaan membantu sesama. Kepemimpinan memanglah harus memberi keteladanan, berani mengambil resiko, melayani, serta mengayomi anggotanya. Nilai-nilai kepemimpinan yang mereka terapkan di kelompok tentu tercermin juga dari keharmonisan keluarga saat saya menyambangi dan menyempatkan berdiskusi di rumah mereka masing-masing.

Penguatan Kelembagaan

Dengan modal kepemimpinan yang baik, Pak Sunyata dan Pak Saleh juga membawa kelompok tani yang dipimpinnya menjadi kuat dan mandiri. Implementasi sistem pertanian ramah lingkungan di wilayah mereka tidak dapat berjalan tanpa adanya kelompok tani yang kuat dan solid, sebab hal tersebut membutuhkan persetujuan bersama dan akan berpengaruh pada sistem sosial di wilayah tersebut. Persetujuan bersama dimaksudkan untuk menghindari konflik sosial yang terjadi akibat perbedaan praktek pertanian yang berbeda di wilayah tersebut sebab saling mempengaruhi. Semisal serangan hama pada lahan pertanian konvensional dan organik berbeda, serta kemungkinan terjadi pencemaran zat kimia jika terdapat praktik pertanian organik dan konvensional yang berbeda. Hal-hal tersebut yang menjadi tantangan dalam membangun kesepakatan untuk beralih ke pertanian organik dalam skala kelompok.

Namun, kendala tersebut dapat diatasi dengan penguatan lembaga dan aktivitas positif dari kepemimpinan yang telah diterapkan oleh Pak Saleh. Kelompok tani yang dipimpin Pak Soleh memiliki lahan usaha bersama. Saat itu saya diajaknya untuk meilhat lahan usaha bersama yang digarap kelompok tersebut. Pak Saleh menunjukkan 3 petak sawah yang level input pertaniannya (pupuk kimia) berbeda-beda. Metode yang diberlakukan oleh kelompok tani di wilayah Pak Saleh adalah sistem Low Eksternal Input Sustainable Agriculture (LEISA), yaitu dengan mengurangi secara perlahan input bahan kimia pertanian dalam lahan mereka. Dalam petak sawah yang ditunjukkannya ada yang masih menggunakan pupuk kimia, tapi sudah menggunakan pestisida nabati, ada yang sudah mengkombinasi pupuk kimia dengan pupuk organik, dan ada yang telah menggunakan pupuk organik secara keseluruhan.

Dengan adanya lahan bersama ini, keuntungan yang diperoleh oleh kelompok tani dapat dinikmati bersama dan yang terpenting adalah kepemilikan lahan kelompok ini menjadi media yang tepat untuk memperkuat kelompok dan bersama bertransformasi menuju pertanian yang ramah lingkungan.

Komunikasi dan Inovasi

Saat berdiskusi bersama, ketika keduanya menyampaikan pendapat dan informasi tentang pengalaman mereka di dunia pertanian, saya menangkap bahwa petani memiliki cara berkomunikasi yang khas dan hanya bisa dimengerti sesama petani. Kemampuan komunikasi lobi yang dimiliki Pak Saleh menjadi kekuatan untuk memperoleh informasi terbaru tentang pertanian dari berbagai sumber. Sehingga infromasi tersebut dapat digunakannya untuk pengembangan kelompok tani di wilayahnya. Kalimat andalan pak Saleh adalah “Kita harus menjemput bola”. Kenyataannya memang banyak proyek fasilitasi pertanian yang dikucurkan pemerintah maupun lembaga donor lainnya, namun kemampuan manajerial dan mengelola peluang ini tidak serta merta dimiliki setiap kelompok tani. Pak Saleh salah satunya mampu menangkap peluang ini sehingga inovasi dapat berkembang pesat di kelompoknya.

Tidak jauh berbeda dengan Pak Sunyata. Inovasi yang telah dia ciptakan berupa nutrisi nabati untuk tanaman dan ternak adalah hasil dari kemampuan analisa dan jaringan akademis yang dia miliki. Sehingga khasiat produknya dapat dievaluasi dengan terukur. Selain itu, Pak Sunyata seringkali diundang memberi pelatihan-pelatihan di berbagai daerah dan mendapat banyak masukan pengalaman dari petani lainnya. Hal tersebut merupakan modal yang baik untuk memotivasi anggota-anggota kelompok tani di wilayahnya.

Kepedulian

Tidak dapat dipungkiri bahwa Pak Saleh dan Pak Sunyata memiliki kemampuan teknik budidaya yang mumpuni, manajerial yang baik, inovatif dan konsisten dalam menjalani perannya sebagai petani dan pemimpin. Selama sehari meluangkan waktu dan berbincang-bincang dengan mereka, ada hal penting yang menjadikan usaha mereka dicintai oleh anggota petani mereka, dan termasuk saya yang mencoba menggali kisah mereka berjuang untuk pertanian berkelanjutan. Hal tersebut adalah kepedulian dan rasa cinta terhadap alam. Mereka dalam kesempatan yang berbeda mengakui hal yang sama bahwa alam dititipkan untuk manusia untuk dijaga dan dilestarikan.

Mereka berjuang dengan pertanian organik untuk menjaga titipan tersebut. Mereka lakukan dengan cinta. Pak Sunyata dengan inovasi pestisida nabatinya dengan sukarela memberikan produknya kepada petani di wilayahnya. Belum sempat saya bertanya tentang hak paten seperti yang dilakukan pengusaha-pengusaha lainnya, Pak Sunyata secara langsung mengakui bahwa dirinya tidak berniat untuk mematenkan produk yang nyatanya efektif itu, sebab mereka peduli terhadap petani yang tidak sanggup membeli pestisida nabati dengan harga mahal. Dia lebih suka dengan kondisi yang sekarang, dimana petani tidak harus bayar mahal untuk bertani organik.

Menjaga alam dengan praktek pertanian ramah lingkungan atau yang sering disebut pertanian organik memang tidak mudah. Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Selama ada niat yang tulus, akan ada jalan dan dukungan yang datang. Seperti yang dilakukan Pak Sunyata dan Pak Saleh dari Sawangan, syarat yang mereka miliki adalah harapan untuk pertanian berkelanjutan di Indonesia. Petani-petani seperti mereka patut diapresiasi dan ditempatkan pada garda terdepan untuk kedaulatan pangan Indonesia.

ulil ahsan/3 April 2015