Belajar dari Petani: Merawat Alam dan Masyarakat

Belajar dari Petani: Merawat Alam dan Masyarakat

Melakukan praktik pertanian berkelanjutan di suatu daerah tidaklah mudah, apalagi jika di negara yang sejak tahun 60an telah menggunakan bahan kimia sebagi input tanaman pangannya. Butuh waktu yang lama untuk merestorasi ekosistem seperti sedia kala dan kembali ke sistem organik yang ramah lingkungan.

Inilah yang dirasakan petani organik di Sawangan. Sulitnya mengubah sistem pertanian konvensional yang menggunakan input bahan kimia menjadi pertanian organik yang ramah lingkungan. Sulit bukan berarti tidak bisa. Saat ini para petani di Sawangan telah sejak lama beralih ke pertanian organik meskipun langkahnya tidak cepat, namun perlahan tapi pasti. Dan memang, beralih ke pertanian organik perlu perlahan dan hati-hati sebab menyangkut multidimensi kehidupan masyarakat.

Mari kita melihat contoh perjuangan sosok­ petani organik di Sawangan, Magelang, Jawa Tengah yaitu Pak Saleh dan Pak Sunyata yang telah mengaplikasikan sistem pertanian organik. Pak Saleh memiliki usaha pertanian padi khusunya varietas lokal Menthik Susu dan Pak Sunyata fokus pada usaha pertanian hortikultura khususnya pada Mentimun. Mereka telah menjalani pertanian organik sejak lama dan menyadari bahwa sulitnya untuk mengembalikan budaya tanam organik khususnya di masyarakat.

Dari diskusi kecil yang saya lakukan bersama Pak Soleh dan Pak Sunyata, tantangan untuk pengaplikasian sistem organik adalah pertama, budaya masyarakat yang telah lama menggunakan sistem konvensional (menggunakan input kimia) sulit untuk diubah. Kedua, upaya transformasi sistem pertanian konvensional ke organik tidak serta merta berjalan mulus, sebab awalnya akan mengalami kerugian akibat perubahan lingkungan tanaman secara tiba-tiba misalnya; serangan hama yang sulit dikendalikan. Ketiga, rendahnya kualitas dan volume panen. Sulit memang, tapi Pak Soleh dan Pak Sunyata hingga saat ini telah menikmati hasil dari transformasi sistem pertanian konvensional ke pertanian organik di wilayahnya. Apa yang membuat mereka bertahan kemudian nyaman menjalaninya dan bagaimana cara mereka memperjuangkan transformasi sistem tersebut di wilayahnya masing-masing? Berdasarkan cerita pengalaman yang mereka sampaikan, saya menangkap beberapa hal yaitu tentang kepemimpinan, penguatan kelembagaan, komunikasi dan inovasi, kepedulian.

obrolan di lahan bersama Pak Sunyata (baju biru) dan Pak Saleh (jaket merah)
obrolan di lahan bersama Pak Sunyata (baju biru) dan Pak Saleh (jaket merah)

Kepemimpinan

Pak Sunyata dan Pak Saleh masing-masing adalah ketua keloompok tani di wilayahnya masing-masing. Setiap mereka memimpin kurang lebih 25 petani dari berbagai latar belakang budidaya pertanian. Kedua petani ini memiliki karakteristik yang berbeda namun keduanya memiliki daya pengaruh yang kuat di kelompoknya. Apa yang membuat mereka memilliki daya pengaruh yang kuat? Jawabannya adalah kemempinan profetik yang mereka miliki dan mereka aplikasikan di dunia pertanian. Dalam menularkan sistem pertanian organik yang ramah lingkungan, tentunya mereka telah terlebih dahulu mengaplikasikan sistem tersebut sebelum mengajak anggotanya beralih ke pertanian yang ramah lingkungan. Artinya keteladanan adalah kunci pengaruhanya.

Pak Saleh mengungkapkan bahwa, diantara anggota kelompok tani yang dia pimpin yang sebagian besar menanam padi lokal, hanya dia sendiri yang menanam padi menthik susu dengan sistem 100% organik, petani yang lain tidak berani karena beresiko tinggi. Namun, Pak Saleh mengaku puas dengan apa yang dicapainya. Saat itu, saya sembari menikmati makan siang di rumahnya dengan beras menthik susu yang berasal dari lahannya sendiri.

Pak Sunyata memiliki inovasi nutrisi tanaman nabati yang dia buat sendiri. Dia pergunakan sendiri untuk tanaman hortikultura yang dibudidayakannya. Melihat produktivitas dan kualitas hasil pertaniannya bagus, Pak Sunyata tidak serta merta berbangga hati sendiri, tetapi dengan harapan anggota kelompoknya juga bisa menikmati hasil yang sama, maka Pak Sunyata memberikan secara sukarela nutrisi tanaman yang dia buat untuk petani-petani anggota kelompoknya secara gratis setiap kali dibutuhkan. Dia mengungkapkan bahwa, ingin mengurangi ketergantungan kelompoknya terhadap penggunaan pestisida kimia. Perlahan tapi pasti, anggota kelompok mulai beralih ke pertanian ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan pestisida dengan nutrisi tanaman yang diciptakan oleh Pak Sunyata sembari bercerita dan makan singkong goreng sore itu di kediamannya.

IMG20150222104837
Timun “Gilang” karya pak Sunyata, disimpan sejak Oktober, sampai sekarang masih bagus

Kedua petani ini merupakan petani-petani berprestasi di kelompoknya. Pak Saleh dan Pak Sunyata kerap kali diundang untuk mengisi pelatihan dan penyuluhan di berbagai daerah. Mereka bukanlah penyuluh lapangan yang dibayar negara, mereka adalah penyuluh swadaya yang hadir atas kerelaan membantu sesama. Kepemimpinan memanglah harus memberi keteladanan, berani mengambil resiko, melayani, serta mengayomi anggotanya. Nilai-nilai kepemimpinan yang mereka terapkan di kelompok tentu tercermin juga dari keharmonisan keluarga saat saya menyambangi dan menyempatkan berdiskusi di rumah mereka masing-masing.

Penguatan Kelembagaan

Dengan modal kepemimpinan yang baik, Pak Sunyata dan Pak Saleh juga membawa kelompok tani yang dipimpinnya menjadi kuat dan mandiri. Implementasi sistem pertanian ramah lingkungan di wilayah mereka tidak dapat berjalan tanpa adanya kelompok tani yang kuat dan solid, sebab hal tersebut membutuhkan persetujuan bersama dan akan berpengaruh pada sistem sosial di wilayah tersebut. Persetujuan bersama dimaksudkan untuk menghindari konflik sosial yang terjadi akibat perbedaan praktek pertanian yang berbeda di wilayah tersebut sebab saling mempengaruhi. Semisal serangan hama pada lahan pertanian konvensional dan organik berbeda, serta kemungkinan terjadi pencemaran zat kimia jika terdapat praktik pertanian organik dan konvensional yang berbeda. Hal-hal tersebut yang menjadi tantangan dalam membangun kesepakatan untuk beralih ke pertanian organik dalam skala kelompok.

Namun, kendala tersebut dapat diatasi dengan penguatan lembaga dan aktivitas positif dari kepemimpinan yang telah diterapkan oleh Pak Saleh. Kelompok tani yang dipimpin Pak Soleh memiliki lahan usaha bersama. Saat itu saya diajaknya untuk meilhat lahan usaha bersama yang digarap kelompok tersebut. Pak Saleh menunjukkan 3 petak sawah yang level input pertaniannya (pupuk kimia) berbeda-beda. Metode yang diberlakukan oleh kelompok tani di wilayah Pak Saleh adalah sistem Low Eksternal Input Sustainable Agriculture (LEISA), yaitu dengan mengurangi secara perlahan input bahan kimia pertanian dalam lahan mereka. Dalam petak sawah yang ditunjukkannya ada yang masih menggunakan pupuk kimia, tapi sudah menggunakan pestisida nabati, ada yang sudah mengkombinasi pupuk kimia dengan pupuk organik, dan ada yang telah menggunakan pupuk organik secara keseluruhan.

Dengan adanya lahan bersama ini, keuntungan yang diperoleh oleh kelompok tani dapat dinikmati bersama dan yang terpenting adalah kepemilikan lahan kelompok ini menjadi media yang tepat untuk memperkuat kelompok dan bersama bertransformasi menuju pertanian yang ramah lingkungan.

Komunikasi dan Inovasi

Saat berdiskusi bersama, ketika keduanya menyampaikan pendapat dan informasi tentang pengalaman mereka di dunia pertanian, saya menangkap bahwa petani memiliki cara berkomunikasi yang khas dan hanya bisa dimengerti sesama petani. Kemampuan komunikasi lobi yang dimiliki Pak Saleh menjadi kekuatan untuk memperoleh informasi terbaru tentang pertanian dari berbagai sumber. Sehingga infromasi tersebut dapat digunakannya untuk pengembangan kelompok tani di wilayahnya. Kalimat andalan pak Saleh adalah “Kita harus menjemput bola”. Kenyataannya memang banyak proyek fasilitasi pertanian yang dikucurkan pemerintah maupun lembaga donor lainnya, namun kemampuan manajerial dan mengelola peluang ini tidak serta merta dimiliki setiap kelompok tani. Pak Saleh salah satunya mampu menangkap peluang ini sehingga inovasi dapat berkembang pesat di kelompoknya.

Tidak jauh berbeda dengan Pak Sunyata. Inovasi yang telah dia ciptakan berupa nutrisi nabati untuk tanaman dan ternak adalah hasil dari kemampuan analisa dan jaringan akademis yang dia miliki. Sehingga khasiat produknya dapat dievaluasi dengan terukur. Selain itu, Pak Sunyata seringkali diundang memberi pelatihan-pelatihan di berbagai daerah dan mendapat banyak masukan pengalaman dari petani lainnya. Hal tersebut merupakan modal yang baik untuk memotivasi anggota-anggota kelompok tani di wilayahnya.

Kepedulian

Tidak dapat dipungkiri bahwa Pak Saleh dan Pak Sunyata memiliki kemampuan teknik budidaya yang mumpuni, manajerial yang baik, inovatif dan konsisten dalam menjalani perannya sebagai petani dan pemimpin. Selama sehari meluangkan waktu dan berbincang-bincang dengan mereka, ada hal penting yang menjadikan usaha mereka dicintai oleh anggota petani mereka, dan termasuk saya yang mencoba menggali kisah mereka berjuang untuk pertanian berkelanjutan. Hal tersebut adalah kepedulian dan rasa cinta terhadap alam. Mereka dalam kesempatan yang berbeda mengakui hal yang sama bahwa alam dititipkan untuk manusia untuk dijaga dan dilestarikan.

Mereka berjuang dengan pertanian organik untuk menjaga titipan tersebut. Mereka lakukan dengan cinta. Pak Sunyata dengan inovasi pestisida nabatinya dengan sukarela memberikan produknya kepada petani di wilayahnya. Belum sempat saya bertanya tentang hak paten seperti yang dilakukan pengusaha-pengusaha lainnya, Pak Sunyata secara langsung mengakui bahwa dirinya tidak berniat untuk mematenkan produk yang nyatanya efektif itu, sebab mereka peduli terhadap petani yang tidak sanggup membeli pestisida nabati dengan harga mahal. Dia lebih suka dengan kondisi yang sekarang, dimana petani tidak harus bayar mahal untuk bertani organik.

Menjaga alam dengan praktek pertanian ramah lingkungan atau yang sering disebut pertanian organik memang tidak mudah. Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Selama ada niat yang tulus, akan ada jalan dan dukungan yang datang. Seperti yang dilakukan Pak Sunyata dan Pak Saleh dari Sawangan, syarat yang mereka miliki adalah harapan untuk pertanian berkelanjutan di Indonesia. Petani-petani seperti mereka patut diapresiasi dan ditempatkan pada garda terdepan untuk kedaulatan pangan Indonesia.

ulil ahsan/3 April 2015

Revolusi Hijau dan Kedaulatan Pangan Indonesia

Revolusi Hijau dan Kedaulatan Pangan Indonesia

Revolusi Hijau sebagai salah satu simbol kekuatan kapitalisme yang menggerogoti hajat hidup masyarakat, kini sistem tersebut mulai tidak menjadi populer. Tidak populer bukan berarti mati. Kenyataannya hegemoni kapitalisme yang begitu kuat menimbulkan tren perkembangan Revolusi Hijau yang modern.

Revolusi hijau yang hidup dalam iklim pertanian banyak pertentangan sejak awal dibangunnya sistem ini di tahun 1950-an. Pertentangan tersebut disebabkan Revolusi Hijau secara bertahap menghilangkan kedaulatan rakyat atas sumber-sumber penghidupan mereka. Revolusi Hijau mendewakan efisiensi, namun dampak yang ditimbulkan adalah ketergantungan.

Dalam tataran sebuah negara, hadirnya Revolusi Hijau sebagai sistem yang diterapkan dalam pertanian menandakan kiblat negaranya adalah Kapitalisme, singkatnya. Karena penguatan sistem ini melibatkan penguasaan korporasi-korporasi besar yang bergerak di bidang pertanian yang dimana dengan keterlibatan tersebut timbullah eksploitasi besar-besaran terhadap lahan, penggunaan Hak Paten dalam penguasaan benih, serta produksi besar-besaran bahan kimia berbahaya untuk lahan pertanian hanya untuk satu, efisiensi dan produktivitas pertanian untuk kesejahteraan.

Alasan kesejahteraan yang ditawarkan dalam sistem Revolusi Hijau kemudian bertolak belakang. Sistem perbenihan yang menggunakan Hak Paten dan Rekayasa Genetika kemudian menyebabkan petani diharuskan untuk membeli benih untuk menanam apa yang akan mereka makan. Sebelumnya petani berdaulat atas benih, mereka menanam, memanennya, menyisakan sebagian untuk benih dan ditanam lagi, itulah kedaulatan benih. Dengan sistem Revolusi Hijau yang diterapkan, petani tidak mampu lagi berdaulat atas benihnya.

Penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang ditawarkan oleh korporasi-korporasi besar merupakan satu rangkaian yang tercipta atas sistem ini. Pendekatan perusahaan multinasional yang bergerak di bidang bahan kimia pertanian sangat halus dari tataran masyarakat lokal hingga ke penguasa, sehingga bisikan-bisikannya didengarkan dan memuluskan distribusi bahan kimia pertanian mereka dengan modus perbaikan kualitas tanaman dan produktivitas. Dampaknya adalah ketergantungan produk, kerusakan ekosistem, dan penurunan kualitas tanah. Kini masyarakat tidak berdaulat, karena mereka tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan pestisida tertentu untuk memberantas hama tertentu. Perubahan budaya pertanian membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan kesabaran, hanya itu yang bisa dilakukan, setidaknya ada solusi.

Kedaulatan Pangan di Indonesia

Tahun 1996 kemudian lahir istilah Food Sovereignty dari forum La Via Campesina sebagai bentuk perlawanan petani atas hegemoni kapitalisme yang merenggut hak mereka melalui sistem revolusi hijau. Hingga saat ini penerjemahan Food Sovereignty atau yang dikenal sebagai Kedaulatan Pangan dilakukan di berbagai negara-negara berkembang seperti Indonesia. Namun penerjemahan Food Sovereignty menjadi program-program nyata di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membutuhkan kesadaran politik dan tindakan berani dari semua elemen masyarakat, namun peran utama adalah pemimpin negara.

Tahun 2014 adalah salah satu tahun politik yang menyajikan pertarungan seru 2 kandidat presiden RI untuk masa jabatan 2015-2019. Menariknya, salah satu isu yang diangkat dan dijadikan bahan kampanye di masing-masing calon adalah Kedaulatan Pangan. Masing-masing memiliki konsep tersendiri tentang apa itu Kedaulatan Pangan yang secara gambalng dipaparkan di forum-forum kampanye publik. Kemudian terpilihlah Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden RI ke-7. Dari kacamata penulis, konsep visi-misi di bidang pangan kedua pasangan ini tampak lebih feasible konsepnya.

Terpilihnya Jokowi-JK sebagai Presiden RI yang baru ternyata tidak serta merta secara langsung melaksanakan konsep kedaulatan pangan yang diusung. Perlu proses panjang dalam penyusunan konsepnya yang kemudian dituangkan dalam Rencana Program Jangka Menengah (RPJM) dan diturunkan dalam bentuk implementasi program di lapangan.

Kedaulatan Pangan adalah hak suatu bangsa untuk mengelola dan mengembangkan pangannya dengan memperhatikan kondisi budaya dan keragaman. Konsep ini tentu seharusnya dadopsi oleh pemerintahan saat ini dalam pengelolaan pangan negara. Aksi pemerintahan yang baru ini di bidang pangan dan pertanian yang tampak adalah pembangunan infrastruktur pertanian seperti waduk untuk irigasi pertanian dan pembentukan kementerian Agraria yang digadang-gadang sebagai alat implementasi Reforma Agraria.

Dalam pandangan Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), kedaulatan pangan dibangun atas 4 pilar, yaitu Reforma Agraria, Pertanian Berkelanjutan, Perdagangan yang Adil, dan Konsumsi Pangan lokal. Berdasar atas pandangan ini, implementasi konsep Kedaulatan Pangan yang dijalankan pemerintahan baru ini tampak baru kemauan dalam pelaksanaan Reforma Agraria, itupun masih dalam tahap penyusunan konsep dan sistem redistribusi tanah yang meminimalisir konflik dan berpihak pada masyarakat marginal. Setidaknya usaha sudah mulai ada. Di lain sisi, ketiga pilar kedaulatan pangan masih belum tampak batang hidung aplikasinya.

Jika pemerintahan hari ini benar-benar serius ingin menjalankan konsep kedaulatan pangan. Pertanian berkelanjutan harus ditegaskan dengan pengurangan impor pupuk kimia dan peningkatan penggunaan pupuk organik, mengaplikasikan sistem agroekologi yang melindungi ekosistem pertanian dari bahan-bahan kimia berbahaya dan menjaganya agar tetap seimbang. Sampai saat ini belum ada rencana terdengar terkait hal-hal pelaksanaan pertanian berkelanjutan. Yang ada adalah sistem distribusi bibit yang efisien. Bibit yang diperbaiki sistemnya bukanlah bibit lokal yang digarap petani, melainkan bibit hibrida dan hasil rekayasa genetik yang justru semakin membuat petani tergantung dalam penggunaannya.

Saat ini, Indonesia dalam tontonan seluruh masyarakat dunia. Berbagai kepala negara adidaya seperti Amerika, Cina, Jepang, dan Rusia berbondong menemui Jokowi. Forum-forum perdagangan bebas yang telah diikuti Indonesia dan dan berbagai kesepakatan bilateral dan multilateral menyebabkan petani semakin tercekik karena ketidaksiapan petani lokal bersaing dengan perusahaan pangan raksasa dan sistem perdagangan bebas memberikan keleluasaan asing untuk turut campur dalam sistem pangan dalam negeri. Berdaulat pangan, seharusnya memperhatikan hal ini.

Konsumsi pangan pokok di Indonesia kini semakin seragam, didominasi beras dan gandum. Padahal Indonesia memiliki biodiversitas yang begitu besar untuk pangan sumber karbohidrat seperti jagung, umbi-umbian dan sagu. Belum termasuk sumber protein seperti sorgum dan kacang-kacangan lainnya. Semua hal tersebut tergerus dengan adanya kebijakan impor pangan yang tak kunjung ditekan dengan alasan cadangan pangan, sementara upaya pengembangan produksi hulu dan hilir dan kampanye konsumsi pangan lokal tidak begitu massif digalakkan. Jika pemerintahan ini berani, iklan-iklan konsumsi pangan lokal dan produk olahan pangan lokal lebih diintensifkan daripada iklan-iklan mi instan yang notabene dari gandum yang tidak diproduksi di Indonesia.

Di awal pemerintahan ini, tampak langkah menuju Kedaulatan Pangan sedikit melenceng dikarenakan masih terlalu tertuju pada peningkatan produktivitas. Padahal konsep kedaulatan pangan yang dibutuhkan di Indonesia adalah pelaksanaan reforma agraria segera, perubahan sistem pertanian dari tergantng pada bahan kimia ke organik dan memperhatikan keseimbangan ekosistem. Penyehatan ruang-ruang ekonomi yang sehat dan perdaganga yang adil yang memungkinkan petani kecil memperoleh keuntungan untuk hidup yang lebih layak, serta promosi dan peningkatan konsumsi pangan lokal di Indonesia. Dengan awalan pembangunan irigasi yang massive memang penting untuk dilakukan. Namun, konsep kedaulatan pangan yang akan diterapkan Jokowi belum terdefisinikan dengan jelas, dan kesannya masih dengan isu yang sama, peningkatan produktivitas.

Kini pemerintah Indonesia menghadapi tantangan revolusi hijau yang menggerogoti dengan perkembangan modernnya seiring perkembangan sistem kapitalisme global di masa kini. Senjatanya adalah dengan memasukkan Kedaulatan Pangan sebagai agenda politik utama negara. Namun di sisi lain, tantangan internal juga besar, yaitu mendefinisikan kedaulatan pangan untuk dijewantahkan dalam program-program real di lapangan seperti janji kesejahteraan yang diteriakkan di awal kampanye.

UA/18 November 2014