Nasi Goreng Romantis

Nasi Goreng Romantis

Hampir setiap malam jika belok kiri di perapatan pangkalan angkot menuju ke kosan, aku selalu berpikir untuk mampir menyantap nasi goreng nasi goreng tak jauh dari pangkalan itu. Nasi goreng pete telor dadar favoritku yang hampir setiap mampir kupesan, bahkan sudah kudaulat “selalu” aku pesan, sebab seingatku terakhir memesan nasi goreng jenis lain lebih dari satu setengah tahun yang lalu.

Warung nasi goreng romantis kusebutnya, karena setiap nakan di sini lagu-lagi yang diputar di radio warung ini tidak seapik tampang radionya yang butut bin jadul. Pop, R n B, dan jazz romantis selalu tersaji. Bagiku yang melankolis atau sekarang diasosiasikan sebagai baperan, warung ini tidak kalah romantisnya dengan skydining di pusat-pusat kota. Nasi goreng petenya tidak kalah dengan bistik dari daging sapi termahal di dunia dan kacang polong yang dipanen di dataran tinggi tibet. Radio butut, lagu romantis, dan petai adalah kemewahan yang tak tertandingi.

Yang menarik ketika lagu-lagu romantis berdendang, berbaur suara api penggorengannya yang berisik lengkap dengan uap sambel nasi goreng yang menusuk hidung dan membuat bersin, seakan menjadi satu skema musik yang dramatis. Lepas bersin, api dimatikan, seketika hening, reff lagu dari radio masuk dengan pas. Lagu berakhir dengan ketukan wajan sang chef yang memukau. Suasana menjadi hidup sehidupnya. Apa yang aku lakukan? tersenyum menertawai betapa sebuah skema tepat yang berulang-ulang terjadi dan momen ini pikurku yang tak semua pelanggan bisa rasakan ketika makan di warung ini, begitupula tak semua warung memiliki suasana seperti ini. Apakah kalian pernah merasakan pengalaman ini? Percayalah, romantisme itu bisa tercipta di warung nasi goreng. Aktris setara Anne Hathaway layak dibawa ke sini.

Maaf, tulisan ini bukan endorse warung nasi goreng!

ulilahsan
Bogor, 6 Januari 2016

Beras dan Gandum

Beras dan Gandum

Berasisasi dan gandumisasi di Indonesia telah kelewat batas hingga tampak nyata menggerus keberadaan pangan sumber karbohidrat lainnya seperti sagu, jagung, dan umbi-umbian lokal. Sumber karbohidrat lokal dibiarkan menghilang secara perlahan, digantikan oleh pangan-pangan yang dipaksakan untuk ditanam dan diimpor demi memenuhi hasrat penguasa yang agak “maksa” memenuhi kebutuhan beras rakyat. Produksi beras digenjot hingga berjuta-juta ton, baik di zaman penjajahan, orde baru, dan sekarang memaksa tentara turun tangan, dan tentara yang turun tangan pun memaksa petani menanam guna memuluskan cita-cita swasembada yang semu itu. Apalah arti semua genjotan produksi jika data riil kebutuhan pangan pun tak jelas hingga sekarang.

Impor gandum semakin meraja. Mi instan kini menjadi pangan pokok, bahkan jadi menu 3 in 1 sebagai pengganti nasi, protein dan sayur di piring kita. Harganya murah dan mudah didapat, dari supermarket berlantai-lantai hingga warung kelontongan yang tak berpintu berjendela. Mengalahkan ubi dan jagung rebus yang dijual eceran di sudut jalan dan jembatan, yang hadirnya pun tak menentu. Kemasan mi instan menarik, dan iklannya membahana di seluruh pelosok Indonesia. Dibintangi artis-artis papan atas yang gambarnya terpampang besar di papan raksasa di atas jembatan penyeberangan maupun di atas pagar sudut jalan protokol.

Indonesia produsen terbesar mi instan di dunia. Mungkin sebagian kita bisa berbangga, tapi sebagian lagi tidak. Yang tidak berbangga itu para petani yang tidak bisa mempertahankan lahan sawah, ubi, jagungnya yang kecil karena hasil panennya kalah bersaing dengan harga mi instan yang murah dan mudah didapat. Siapa yang berbangga? Tentu petani gandum dimana pabrik terigu di Indonesia mengimpor. Permintaan gandum di Indonesia tak pernah putus, petani gandum kaya, tersenyum bahagia. Petani padi kita, miskin tersenyum melarat.

Semakin hari pabrik-pabrik terigu semakin bertambah. Dari hanya 5 buah di tahun 1970-an sampai 31 buah di tahun 2015. Hampir di semua makan kecil kita ada terigunya. Biskuit, wafer, snack, dan berbagai bentuk snack lainnya mengandung gandum. Kini kita terhipnotis dengan apa yang kita makan saat ini. Tanpa sadar, kegiatan sehari-hari kita memperkaya petani gandum dan broker-broker gandum di negara maju. Tanpa sadar petani negeri sendiri melarat, kurus, dan semakin menua. Tingkat pendidikan terendah di negeri ini ada pada kelompok petani dan nelayan. Rata-rata petani negeri ini berlahan sempit, di bawah 0,5 hektar, dan beras yang kita makan dari padi, lebih dari 60% ditanam oleh mereka yang semakin tua renta.

Lantas, apa salah beras dan gandum? Tidak ada, mereka hanyalah bulir  yang menjadi alat politik demi kejayaan dan kekuasaan. Beras dan gandum adalah primadona politik nasional dan internasional. Sukarno, Soeharto berjaya di mata rakyat dan jatuh dari kekuasaannya salah satunya karena beras. Gandum, datang sebagai bala bantuan internasional. Keran kapitalisme global terbuka di Indonesia, Pabrik-pabrik menjalar, termasuk terigu yang hingga kini terus membesar dan membesar. Pertumbuhannya masif dan tersistematis, canggih nan modern. Berbeda dengan beras yang hingga kini masih saja dilanda masalah data yang tak jelas, lembaga yang bergonta-ganti struktur dan fungsinya, gudang yang menua, penggilingan yang semakin renta dan terseok-seok, dan lagi-lagi petani yang semakin melarat.

Kita mengenal diversifikasi pangan. Tapi istilah itu hampir tak berarti dan sedang terseok-seok pula. Tak mampu membendung kekuatan besar beras dan gandum. Tidak hanya keliru arah dan strategi, tapi juga kesadaran dan kemauan mendiversifikasi di negeri ini masih kurang. Kita bercermin dari diversifikasi beras ke gandum dan diversifikasi beras-gandum ke pangan lokal sumber karbohidrat lainnya. Jika beras tak tampak di dapur kita, etalase warung tetangga dengan cantik memajang warna-warni kemasan mi instan siap seduh yang hanya berjarak beberapa langkah kaki dari dapur kita. Lain halnya jika beras habis, ingin diganti dengan pangan lokal sejenis umbi-umbian dan sagu. Mungkin perlu berpikir dua kali, sebab harus mencari, membeli, mengupas, memasak, dan pokoknya tak seinstan mi instan. Dengan begitu, tentu sangat jauh berbeda mendiversifikasi beras-gandum ke pangan lokal. Kini strategi diversifikasi pangan dijalankan dengan pengembangan industri berbasis pangan lokal yang judulnya sungguh menawan. Tapi mengapa hingga sekarang belum mampu membendung konsumsi beras dan gandum yang kian hari membengkak? Karena strateginya keliru, “melawan” pangan pokok – yang dikonsumsi 3 kali sehari – dengan produksi cemilan yang hanya dikonsumsi mungkin hanya seminggu sekali, atau bahkan tidak pernah dalam sebulan, kecuali jika cemilan digalakkan untuk dikonsumsi setiap hari, itu memungkinkan tapi agak konyol.

Strategi diversifikasi pangan yang ada saat ini tidak dapat dinilai buruk. Itu adalah satu upaya membendung tingginya konsumsi beras, dan gandum utamanya. Lebih baik bergerak daripada tidak sama sekali, tapi  lebih baik lagi jika pergerakannya dapat efektif. Sepertinya beras dan gandum akan tetap menjadi perimadona hingga dekade-dekade mendatang, kecuali jika strategi diversifikasi pangan dibenahi dan tidak hanya dipandang sebelah mata baik oleh pemerintah, politikus, mahasiswa, pelajar, sastrawan, dan masyarakat umum hingga pegiat dangdut koplo di bus-bus antar kota antar provinsi.

ulilahsan
Bogor, 5 Januari 2016

Kritik Mem(bangun)

Kritik Mem(bangun)

Membangun atau tidaknya kritik, itu tergantung yang dikritik. Mau bangun atau sudah dibangunkan tapi pura-pura masih tidur, atau memang digoncang bagaimanapun dengan kritik (red: dibangunkan) tapi juga tidak terbangun, seperti habis minum pil lelap.

Ada juga yang terbangunnya lama setelah dikritik. Sebenarnya dia sudah bangun, tapi saat itu dia masih nyaman dan masih mikir-mikir untuk bangun.

Bagaimanapun hidup yg normal, tidak selamanya terbaring dan terditur terus. Pun bagi mereka yang tidak normal (tidak bisa terbangun), selama masih punya akal dan perasaan, dia tetap akan terbangun atau sadar jika dibangunkan (dikritik).

Artinya, semua kritik itu sebenarnya membangun (membuat bangun), dengan syarat orang yang dibangunkan (dikritik) itu masih hidup (dalam arti yang sebenarnya). Hanya masalah waktu saja yang membedakan orang yang terbangun dengan kritik. Lambat atau cepat terbangunnya.

02/09/2015

Sang Rusa Tutul Istana

Sang Rusa Tutul Istana

Aku Sang Rusa Tutul
Dipuja-puja banyak orang
Aku dekat dengan penguasa
makan minum diberi tanpa henti

Aku Sang Rusa Tutul
Dielus lembut jemari banyak orang
Bebas berbuat sesuka hati
berlarian, buang air kesana kemari

Aku Sang Rusa Tutul
tinggal di istana yang megah
Makanku setara kelas menengah
Kawanku pun banyak, berkeliaran sepertiku

Tapi, meski hidupku nikmat
Aku tetaplah aku
Sang Rusa Tutul
seekor hewan tanpa akal dan karya
Hidup di tengah kemewahan
tapi tidak menyadarinya

Jika aku punya akal,
mungkin akan kupakai berpikir keras
mengapa masih ada manusia bodoh
yang hidupnya bergelimang nikmat, diberi akal dan karya,
tetapi masih berpikir dan bertindak seperti aku dan kawananku
tak peduli sekitar dan baik buruknya tindakan

Bogor, 18 Agustus 2015
by ulilahsan
photo credit: ulil
at Halaman Istana Bogor

Mahasiswa, Perangi Kelaparan!

Mahasiswa, Perangi Kelaparan!

Beberapa tahun terakhir terlihat bahwa pergerakan populer mahasiswa bidang pangan kini mulai tampak. Era digital merupakan senjata bagi mereka para generasi Y. Saya berpandangan seperti ini sebab saya pun pengguna aktif media sosial yang secara rutin melihat gambar-gambar dan bentuk pergerakan mahasiswa pangan saat ini. Dari konsolidasi hingga aksi lapangan, kampanye sarapan hingga ke lahan garapan pertanian untuk tahu bagaimana pangan itu diproduksi.  Tidak sedikit juga yang menulis, baik itu skripsi tentang pangan, tulisan lepas di blog, dan menulis status singkat aktivitas kampanyenya di media sosial. Semua adalah pergerakan.

Dengan pergerakan itu, ada yang menggelitik saya untuk bertanya. Sejauh mana pergerakan ini dimaknai oleh mahasiswa pangan? Apakah ada tujuan akhir yang ingin dicapai, baik itu secara berkelompok dalam himpunan maupun secara individu? Apa tujuan bergerak peduli pangan ini?

Saya tidak dapat mereka-reka arah gerak perjuangan teman-teman mahasiswa pangan saat ini. Jika saya berpendapat, itu bersifat subjektif. Tapi berangkat dari pertanyaan di atas, ada hal yang mengilhami saya untuk mengeluarkan tulisan ini. Saya membaca koran nasional hari ini dengan judul tulisan Krisis Pangan di 5 Desa di NTT Kasus Luar Biasa (Kompas, 7 Mei 2015). Sembari membaca penuh berita tersebut, terlintaslah pertanyaan-pertanyaan di atas. Apa yang coba ingin saya utarakan ini adalah sebuah persuasi yang ingin coba dilontarkan kepada teman-teman mahasiswa yang telah “bergerak” di bidang pangan saat ini.

source image: http://drasimkdasgupta.authorsxpress.com/
source image: http://drasimkdasgupta.authorsxpress.com/

Indonesia adalah pusat plasma nutfah, kaya akan sumber pangan hewani dan nabati. Negara tropis yang menerima anugerah malam dan siang yang seimbang, tapi mengapa masih ada saja kasus kelaparan luar biasa? tidakkah kita menyadari, kita sibuk berkampanye di media sosial, menampilkan foto berbagai bentuk kelezatan makanan dengan wajah-wajah, meneliti berbagai bentuk pangan, menciptakan produk, memperdebatkan efisiensi, rapat dan konsolidasi mahasiswa pangan berbagai daerah, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang mengatasnamakan pergerakan pangan. Tapi masih saja kelaparan membayang-bayangi. Dimana benang merah pergerakan mahasiswa pangan dengan kelaparan yang melanda saudara/i setanah air kita di sudut Indonesia sana?.

Mungkin bisa dikatakan bahwa mahasiswa pangan yang benar-benar bisa memaknai perjuangan dan memerangi kelaparan agaknya sulit untuk diidentifikasi. Mengapa demikian? pertanyaannya saya kembalikan kepada mahasiswa pangan selama ini bergerak. Bagaimana mahasiswa mendefinisikan pergerakan pangannya saat ini? Warga di NTT dan daerah pelosok lainnya kini terkena bencana kelaparan. Apa esensi pergerakan mahasiswa peduli pangan saat ini menyikapi eksistensi bencana kelaparan yang tak kunjung henti ini? Apakah cukup pergerakan itu hanya di media sosial saja? Sepertinya kita semua terlena. Buku-buku di sudut lemari sana bertumpukan dan berdebu, menunggu untuk dibaca. Ruang-ruang belajar dilekati banyak jaring laba-laba, menunggu untuk digemakan oleh suara lantang perdebatan konsep dan gerakan. Saatnya keluar dari kenyamanan menggosok-gosok layar smartphone dan menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Berpikir kritislah teman-teman mahasiswa, apalagi yang di bidang pangan. Sebab pangan adalah hidup matinya bangsa kata Bung Karno, dan dari dulu hingga sekarang pangan adalah komoditas politik yang diperjualbelikan untuk sekedar mengambil hati rakyat dalam memperebutkan status politik yang lebih tinggi. Mengapa perlu berpikir kritis? Sebab pemikiran kritislah yang bisa membawa kita mampu mendefinisikan tujuan sesungguhnya perjuangan kita. Indonesia butuh problem solver atas permasalahan pangan saat ini dan di masa yang akan datang. Jika mampu memaknai perjuangan, niscaya mahasiswa akan tetap ada dalam fungsi fitrahnya, “membebaskan” rakyat dari belenggu keterpurukan. Siapkah mahasiswa pangan melawan kelaparan?

Selamat berjuang!

Penulis adalah alumni HMPPI periode 2011-2013