Visiting Laos: Pasar Organik Vientiane

Visiting Laos: Pasar Organik Vientiane

Laos adalah negara kedua di Asia Tenggara yang saya kunjungi setelah Malaysia. Keberangkatan diawali dari Jakarta menuju Kuala Lumpur dan transit semalam di sana. Kemudian paginya melanjutkan penerbangan ke bandara Vientiane di Laos bersama Dr. Anni Mitin (Executive Director of SEACON) dan Sam Mei Jean (Officer SEACON). Southeast Asian Council for Food Security an Fair Trade (SEACON) adalah sebuah NGO Internasional yang berkantor di Kuala Lumpur. Keberangkatan ini pertama kalinya bagi saya dalam rangka mendampingi pelatihan pembangunan sistem jaringan informasi untuk petani Asia Tenggara yang diLead oleh SEACON. Terima kasih untuk Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) tempat saya bekerja saat ini yang telah memberikan kesempatan ini untuk saya.

Dr. Anni Mitin (orange), Saya, dan Sam Mei Jean (biru) berpose di depan patung Raja Laos
Dr. Anni Mitin (orange), Saya, dan Sam Mei Jean (biru) berpose di depan patung Raja Laos

Tiba di Vientiane kami disambut dengan sikap hangat pihak hotel dengan salam Sabaidi. Itu kata pertama yang saya ingat baik-baik. Sabaidi adalah sapaan salam yang sering dipergunakan masyarakat Laos. Menurut Dr. Anni, Vientiane adalah kota yang tentram, damai, bebas macet, dan ramah penduduknya. Saya sangat setuju, this is a lovely city. Tiba di hotel kami beristirahat sejenak dan berencana dijemput oleh Mr. Thongdam untuk diajak berkeliling kota Vientiane. Mr. Thongdam adalah Direktur Sustainable Agriculture and Environmental Development Association (SAEDA), salah satu civil society besar di Vientiane.

Siang itu kami diajak Mr. Thongdham, ke pasar organik di sudut lapangan besar dekat candi Pha That Luang berwarna keemasan yang merupakan icon negara Laos. Awal kunjungan di pasar organik ini kami berkenalan dengan panitia pasar. Mereka menggunakan seragam berwarna biru. Berbeda dengan para pedangan pasar yang terlihat dari luar, mereka menggunakan pakaian seragam hijau. Tampak dari pakaiannya, organisasi pasar ini sepertinya tertata dengan baik.

Pedagang menjelaskan produknya, tapi nggak ngerti bahasnya :(
Pedagang menjelaskan produknya, tapi nggak ngerti bahasanya 😦

Masuk ke pasar, saya jalan mengelilingi dan melihat-lihat produk yang dijajakan. Terdapat berbagai macam produk pertanian di dalamnya, seperti sayuran, buah, umbi-umbian, daging, ramuan tradisional, hingga pupuk organik. Pasar ini diinisiasi oleh komunitas petani di Vientiane, dibuka pada Desember 2006 dan belum ada pasar semacam ini di provinsi lain di Laos. Pedagangnya berasal dari berbagai distrik yang berbeda. Terdapat sekitar 100 anggota yang bersertifikat organik menjajakan produknya di pasar ini. Untuk menjadi anggota, dikenakan biaya pendaftaran 100.000 LAK (sudah termasuk formulir dan administrasi). Kemudian untuk berdagang di pasar tersebut, anggota hanya dikenakan biaya lapak 15.000 LAK per hari untuk satu meja. Sementara itu, pasar dikelola dan diawasi oleh panitia. Panitia pasar adalah anggota komunitas yang terdaftar. Saat ini SAEDA mulai mendorong pasar organik untuk komunitas petani di luar Vientiane.

(dari kanan) Sam, Mr. Thongdham, panitia pasar organik, dan saya.
(dari kanan) Sam, Mr. Thongdham, panitia pasar organik, dan saya.

Permintaan produk pertanian dari pasar organik ini cukup tinggi, setiap tahun meningkat 70%. Sampai saat ini anggota petani organik di komunitas ini belum punya kerja sama dan koneksi terhadap hotel, tapi orang dari pihak hotel sering datang langsung membeli produk organik di pasar ini untuk disajikan di hotel mereka. Selain itu, ada beberapa mini market yang telah menjual produk-produk organik yang diambil dari pasar ini.

Pasar organik ini memiliki sistem manajemen yang sederhana dan rapi. Dalam hal pendataan produksi misalnya, anggota diminta untuk mencatat penjualan produk dalam volume (kg) dan nilai (LAK) dan mengkategorikan produknya untuk memudahkan pendataan. Saat ditanya harapan dari penyelenggara pasar organik ini adalah untuk melayani masyarakat mendapatkan akses terhadap produk pertanian yang sehat.

Rasanya ingin tahu seberapa banyak pasar organik di Indonesia dan ingin mengunjunginya sewaktu-waktu jika berkesempatan agar ada cerita menarik lagi untuk dibagi untuk para pembaca blog ini.

Vientiane, 27 Agustus 2014

Malaysia for The 2nd Time #1

Malaysia for The 2nd Time #1

Kalau ditanya, negara apa yang kamu kunjungi saat pertama kali ke luar negeri? Malaysia jawabku

Malaysia adalah negara yang saya kunjungi saat pertama kali keluar negeri tahun 2012. Saat itu saya dan 3 orang teman yang masih berstatus mahasiswa mewakili gerakan La Galigo for Nusantara (Lontara) Project melawat ke University Malaya selama 4 hari bertemu teman-teman sejawat dan civitas akademika di Akademi Pengkajian Melayu serta menelusuri jejak Bugis-Makassar di tanah melayu dengan mengunjungi beberapa museum di sana. Sungguh pengalaman cultural yang tak terlupakan.

A new platform for ASEAN agriculture

Alhamdulillah tahun ini diberi kesempatan lagi untuk melawat ke Malaysia. Status saya sudah tidak mahasiswa lagi. Trip kali ini untuk mengikuti training ICT for Agriculture di Petaling Jaya, Selangor. Durasi waktunya lebih lama, seminggu. Pelaksanaan training hanya berlangsung 2 hari saja dan hari-hari berikutnya diisi dengan mengeksplor Malaysia dan belajar bersama aktivis NGO di Malaysia serta berkunjung ke petani hingga ke ujung utara Malaysia. 

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Southeast Asian Councul for Food Security and Fair Trade (SEACON). Lembaga ini membangun sebuah platform untuk pertanian yaitu SEA Network Facility on Technology for Sustainable Agriculture, Food Security and Nutrition (SAFSeN). Intinya untuk mendukung para petani di ASEAN dalam membangun pertanian berkelanjutan berbasis ICT. 

7 hari itu sangat luar biasa menurut saya. Hari-hari pertama bertemu dengan aktivis para NGO perwakilan dari negara-negara Asean yang merupakan jaringan SEACON seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Laos. Pertemuan berlangsung santai dan informal. Suasana dalam ruangan pelatihan di Hotel Armada seperti warnet game online, hehehe. Ya namanya juga pelatihan ICT tentu semua peserta bawa Laptop.

Pelatihan dimulai dengan sambutan dari Dr. Anni selaku koordinator SAFSeN kemudian dilanjutkan sesi teknis oleh Firdaus dan Sam yang merupakan pakar IT yang menangani sistem kerja platform ini. Oh ya, saya belum memperkenalkan bagaimana platform ini bekerja. Mudah saja untuk dipahami, platform ini akan banyak bergerak di dunia maya. Melalui website http://www.sea-farmnet.org platform berbasis ICT ini dapat membangun jaringan antar petani di Asia Tenggara dan membantu petani untuk mengakses berbagai informasi pertanian.

sesi pelatihan SAFSeN. Ibu-ibu yang berpakaian unyu bergaya unyu-unyu di saat yang lain tampak serius belajar adalah Dr. Norela, seorang dosen dan peneliti dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Lucu ya...hehehe
sesi pelatihan SAFSeN. Ibu-ibu yang berpakaian unyu bergaya unyu-unyu di saat yang lain tampak serius belajar adalah Dr. Norela, seorang dosen dan peneliti dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Lucu ya…hehehe

Hari pertama begitu menyenangkan, waktu rehat tiba untuk hari pertama. Ternyata penyelenggara menyiapkan welcoming dinner untuk peserta. Kami dibawa ke Restoran India tidak jauh dari Hotel. Disajikannya makanan India yang beraneka bentuk, saya pun penasaran. Tiap menu yang disajikan saya ambil, tampak semuanya nikmat. Setelah dicicipi, sangat berbeda dengan makanan India yang saya makan di Indonesia. Pikirku sih memang beda, karena di Indonesia yang meracik masih orang Indonesia, tapi di sini memang orang India langsung, mengingat di Malaysia, orang India memiliki populasi yang cukup besar. Tahu kan little India di pusat kota. Nahhh… itu membuktikan kultur India kuat di Malaysia. Jadi, tentu makanan khasnya tidak jauh beda dan bahkan sama dengan aslinya. Bisa dibilang itu pertama kali saya makan makanan benerasn asli India, bukan KW2. Sembari menikmati makanan, semua orang berbaur dan berbincang satu sama lain. Kadang berbicara serius dan kadang bercanda. Saya menikmati perbincangan dengan Dr. Norela dan salah satu perwakilan organisasi konsumen dari Malaysia. Setelah itu saya bergabung ke meja besar dan ngobrol dengan Eum dari Thailand dan peserta dari Vietnam. Saya mulai memperkenalkan diri dan mereka cukup terkesan ketika tahu saya masih berusia 23 tahun. Katanya Eum, wajah saya tampak sangat muda. Ah, semua juga ngomong gitu bu. hehehe

Hal yang paling saya nikmati dalam pelatihan selama 2 hari itu adalah bertemu dengan teman-teman baru yang jauh lebih berpengalaman daripada, saya bisa belajar banyak dari mereka tentang bagaimana menjadi aktivis bidang pertanian. Bertemu mereka tentu saya tidak sendiri. Saya bersama Mbak Rita Mustikasari dari Indonesia. Mbak Rita tidak diragukan lagi pengalamannya dalam dunia aktivisme seperti ini termasuk dalam networking. Meskipun ini adalah debut pertama saya melakukan perjalanan bersama Mbak Rita, tapi saya banyak belajar networking dan manajemen diri dari Mbak Rita. Seringkali saya hanya memperhatikan Mbak Rita berbincang dengan teman-teman undangan yang lainnya, mendengarkan, dan sesekali nimbrung. Hehehehe. Namanya juga belajar. Untungnya meskipun tergolong masih belajar di dunia ini, saya punyalah materi soal kondisi pangan dan pengalaman organisasi di perkuliahan, jadi nggak kaku-kaku amat bergaulnya hehehe… 

Peserta training SAFSeN, 6-7 Agustus 2014 di Hotel Armada, Petaling Jaya, Malaysia
Peserta training SAFSeN, 6-7 Agustus 2014 di Hotel Armada, Petaling Jaya, Malaysia

Kuala Lumpur

Setelah belajar, saatnya bersenang-senang. Tapi, belajar kemarin bersenang-senang juga kok. Jadinya double happy. Trip kali ini ke mana lagi kalau bukan ke iconnya Malaysia, Twin Tower. Tepatnya ke KL Central kami naik menggunakan LRT dari Petaling Jaya. Sesampai di sana kita langsung menuju ke taman kota untuk dapat angel foto Twin Tower yang cantik. Sebelumnya di tahun 2012 saya ke sini tidak ke daerah yang saya datangi sekarang. Saya ke spot dengan view yang berbeda dan waktu itu malam hari. Sangat mengesankan taman kota di sana. Di tengah hiruk pikuk keramaian kota besar seperti Kuala Lumpur, ada oasis di tengahnya. Taman kota tepat di dekat Twin Tower. Banyak warga yang memanfaatkannya untuk jogging, karena memang ada jalur yang disediakan. Ada kolam dan air mancurnya, dan fasilitas kebersihan yang memadai. Komplit deh tempatnya disebut tempat nongkrong asik kalau orang Indonesia bilang.

Foto bareng di depan Twin Tower
Foto bareng di depan Twin Tower
Mrs. Sommay (Laos) dan Mrs. Rita (Indonesia) masih di taman kota
Mrs. Sommay (Laos) dan Mrs. Rita (Indonesia) masih di taman kota

Setelah mengunjungi iconnya Malaysia, kami masuk kembali ke mall dan makan malam bersama. Teman-teman bertebaran mencari makanan yang diinginkan. Saya dan mbak Rita memilih menikamti Tom Yam, slruuupppp… seger-seger asem-asem gimanaaa gitu dan rasanya nikmat. Kata Mbak Rita, Tom Yam di negara asalnya (Thailand) lebih enak. Wahh… di Indonesia aja enak, di Malaysia aja lebih enak, gimana di Thailand? pasti amat sangat lebih enak. Insya Allah ada kesempatan ke Thailand harus coba langsung tom yam di sana.

Setelah makan malam, kami langsung menuju ke tempat yang lain tidak jauh dari KL Central, kembali menggunakan LRT dan mampir di Central Market. Mencari cinderamata di Malaysia tidak afdal kalau tidak mampir ke sini. Kenangan yang terlintas jika ke sini adalah bertemu dengan orang Indonesia yang berniaga di dalam Market. Kami masuk dan berkeliling melihat-lihat. Hanya satu putaran berkeliling, saya keluar dan menemukan sebuah pemandangan unik yang lain. Ada pementasan tari di panggung central market. Tarian india dengan iringan soundtrack film Kuch-kuch hota hai. Langsung saja saya potret, kebetulan lighting panggungnya pas dan saya pikir akan menghasilkan gambar yang menarik kalau difoto.

Captured by Bukan fotografer, hanya pelancong amatiran
Captured by Bukan fotografer, hanya pelancong amatiran

Central market adalah destinasi terakhir hari itu. Kami kembali ke hotel untuk istirahat. Sebelum ke kamar masing-masing, beberapa dari rombongan peserta berpamitan, termasuk dari Thailand, Laos, dan Vietnam. Karena besok mereka akan kembali ke negara masing-masing. Saya dan Mbak Rita masih di stay di Malaysia karena esok hingga 4 hari berikutnya akan melakukan perjalanan jauh ke ujung utara Malaysia, yakni Negeri Kelantan. Kami ditemani oleh Ibu Salwati, motor penggerak komunitas petani organik di Kelantan. Ibu yang satu ini sangat mengesankan. Cerita perjalanan berikutnya termasuk makanan, kondisi alam, bertemu petani, hingga cerita tentang seorang Ibu Salwati yang luar biasa akan ada di cerita berikutnya. 

 

see ya…