ulil ahsan's blog

Fenix Food Factory: Mengubah wajah sebuah kota lewat makanan

Wageningen, 23 Maret 2018
by Muhammad Ulil Ahsan

 “… But cities are not just made of bricks and mortar, they are inhabited by flesh-and-blood humans, and so must rely on the natural world to feed them. Cities, like people, are what they eat.” – Carolyn Steel, Hungry City.

Wajah sebuah kota dapat dibentuk melalui makanan. Dalam bukunya, Carolyn Steel menyajikan karya hasil penelitian tujuh tahunnya mengenai hubungan kota dan makanan. Keduanya memiliki keterikatan yang kompleks. Dalam memenuhi perut penduduk kota, makanan didatangkan dari berbagai wilayah melalui berbagai jalur dan interaksi antara masyarakat. Aliran makanan dari berbagai tempat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan kota, pun dengan cara memasak dan bagaimana makanan melekat dalam kultur masyarakat. Tulisan ini tidak akan membahas jauh mengenai buku tersebut, melainkan hanya mengambil secuil informasi dari karya menarik ini dan mencoba mengaitkannya dengan sebuah konsep usaha segelintir anak muda yang menggunakan makanan sebuah sebuah alat dalam mengubah wajah kotanya. Sebuah konsep usaha yang mencoba merubah wajah suram sebuah wilayah kecil di pusat kota menjadi tempat yang mencerminkan keberagaman, kehangatan dan kreativitas penduduknya.

Fennix Food Factory (FFF) adalah usaha bersama yang dihuni sekelompok artisan di pusat kota Rotterdam Belanda, tepatnya di semenanjung Katerdrecht. Dahulu, Katerdrecht terkenal sebagai red light distric-nya Rotterdam, tempat pelacuran dan perjudian. Tingkat kriminalitas tinggi adalah gambaran yang melekat pada wilayah ini. Hipster yang bertebaran dimana-mana dianggap sebagai sekelompok orang ‘aneh’ yang berpenampilan berbeda masyarakat biasanya. Berbagai macam suku bangsa hidup menetap di sini. Wajar saja, sebab Rotterdam adalah sebuah kota dimana pelabuhan paling aktif di dunia berada.

Geram dengan wajah suram Keterdrecht, pemerintah kota Rotterdam akhirnya mengambil langkah untuk mengubah wajah semenanjung tersebut menjadi lebih baik dan berupaya menurunkan angka kriminalitasnya. Apa yang pemerintah kota lakukan? Mengundang para hipster di Katerdrecht, berdialog dan mencoba memberi ruang bagi mereka dalam pengembangan kota. Pemerintah menawarkan sebuah bangunan lama, luas nan bertingkat untuk digunakan dalam mengaktualisasikan kreativitasnya. Hipster saat itu dianggap kelompok orang yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya, dari segi penampilan hingga aksi-aksinya. Fasilitas ini sedari awal direncanakan untuk dihancurkan pada 2020, dan sembari menunggu waktu penghancurannya, para hipster di wilayah Katerdrecht diijinkan untuk menggunakan dan menghidupkannya dengan kegiatan yang lebih positif.

Proses kreatif dari para hipster berlanjut hingga muncul sebuah gagasan menjadikan bangunan tersebut sebagai tempat berkumpul yang dapat mewakili berbagai kalangan, dinikmati oleh semua orang di sekitar wilayah tersebut. Makanan menjadi solusinya. Beberapa pemuda termasuk salah satu diantaranya seorang pengoleksi buku mengajukan gagasan kepada pemerintah kota dan melibatkan para hipster membangun sebuah tempat nongkrong dan pusat kesenian di bangunan ini. Para pencetus kemudian mengundang beberapa artisan lokal untuk bergabung dan mengisi stand dalam gedung ini, menjual produk-produk buatannya dan menjadikan suasana bangunan ini lebih hidup dengan berbagai variasi makanan dan minuman lokal dari tangan-tangan terampil.

Sebelas enterpreneur mengisi sudut-sudut bangunan ini, satu diantaranya adalah pemilik toko buku (dengan koleksi buku makanan yang melimpah), delapan lainnya adalah pengusaha muda yang menggeluti bidang makanan, dan dua diantara adalah ruang jualan bagi enterpreneur musiman (tidak tetap). Kedelapan enterpreneur ini adalah seorang pengusaha perempuan muda pembuat keju (cheese maker), dua bersaudara pembuat roti, pengusaha bir lokal, petani sayur dan buah yang menggunakan low input, pembuat stroopwafel beraneka rasa, pengusaha kopi, daging lokal, dan pengusaha makanan timur tengah. Mereka menamai tempat berkumpulnya para pengusaha muda artisan makanan ini dengan FFF. Konsep yang ditawarkan adalah lokalitas, mendekatkan konsumen dengan produsen pangannya, serta bagaimana produsen memahami bagaimana makananya diproduksi. Para artisan lokal ini tidak hanya menjual makanannya saja, tetapi menyediakan workshop atau pelatihan mengolah pangan (misalnya membuat keju atau penyeduhan kopi) di jadwal-jadwal tertentu.

IMG_20180307_172004

Fennix Food Factory (sumber: dokumentasi pribadi)

Tidak hanya sebagai pusat makanan, di lantai dua gedung ini terdapat ruang workshop yang berisi berbagai macam alat musik, ruang teater dan ruang kosong untuk pertunjukan dan aktivitas kreatif. Keduanya, usaha penjualan dan ruang seni dikelola oleh satu manajemen. Manajemen pengelolaan gedung dipegang oleh seorang manajer independen yang bertanggung jawab atas administrasi, pengelolaan keuangan dan manajemen ruang dalam usaha ini. Manajer kemudian menunjuk tim yang terdiri dari beberapa anak muda untuk menangani hal-hal termasuk marketing dan maintenance. Hal tersebut membantu para enterpreneur untuk fokus pada usaha mereka dan melayani para konsumen.

Wajah baru Katerdrecht

Kini Katerdrecht dikenal dengan tempat para orang-orang kreatif berkumpul, tempat memperoleh makanan-makanan lokal yang berkualitas dan bahkan dibuat di depan mata dan disajikan langsung untuk para konsumennya, tempat nongkrong yang asik, dan ruang berkreasi yang nyaman. Orang-orang sekitar Rotterdam berdatangan hanya untuk menghabiskan waktu menyeruput kopi atau bir lokal ditemani dengan sajian roti hangat dengan keju segar atau sekadar menikmati stroopwafel rasa lemon atau garam laut.  FFF berhasil merubah wajah suram Katerdrecht menjadi lebih ceria dan hangat. Saat pertama kali dilaunching, masyarakat golongan tua yang telah bermukim puluhan tahun di sekitar Katerdrecht, saksi suramnya wajah wilayah ini, diundang untuk menyantap makanan di FFF. Mereka melihat perubahan drastis wilayah ini dari puluhan tahun yang lalu sejak gedung ini difungsikan sebagai pusat makanan dan ruang berkreasi. Disamping itu, konsep ini juga menarik perhatian para teknokrat dan pemerintah daerah lain untuk dijadikan model dalam inovasi pembangunan kota yang baik.

Ada hal yang unik dalam proses melejitnya nama FFF. Terkait makanan-makanan yang diproduksi di dalamnya, masyarakat berekspektasi bahwa makanan dijual oleh para enterpreneur, pedagang sayur dan buah segar misalnya, diproduksi dengan cara yang sustainable, organik, dan mengelola sampah makanannya. Masyarakat yang datang jarang mempertanyakan apakah produk-produk itu organik atau tidak, mereka mempercayai bahwa makanan yang dijajakan di sini adalah berbeda dan diproduksi dengan baik. Dalam perspektif para enterpreneur tersebut, termasuk pengelola gedung ini, mereka hanya melakukan yang disukai, memproduksi makanan tidak dengan cara supermarket atau pasar yang dominan, bahkan memproduksi dengan jumlah yang sedikit. Beberapa dari mereka memilih untuk tidak menggunakan label organik. Selain karena mahal juga menjalankan bisnis hanya melalui kepercayaan. Dalam konteks usaha dalam FFF, para konsumen memiliki kepercayaan (trust) terhadap para produsen makanan yang mereka beli. Citra usaha ini terbangun secara alami di tengah-tengah masyarakat. Karakteristik ini menjadi salah satu ciri dalam model alternatif pangan, dimana konsumen memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap produsen dan bagaimana makanannya dihasilkan.

Fenix Food Factory telah mengubah wajah Katerdrecht secara signifikan, ditandai dengan berkurangnya tingkat kriminalitas. Menurut pengelolanya saat menjelaskan peran FFF terhadap perubahan sosial di Katerdrecht, saat ini tingkat kriminalitas di daerah tersebut telah jauh berkurang. Meskipun demikian, rencana pemerintah kota Retterdam untuk menghancurkan bangunan ini di tahun 2020 masih akan tetap berlanjut. Upaya sedemikian rupa dilakukan, termasuk mempertahankan bangunan ini dengan terus meramaikannya, mengajak lebih banyak warga untuk hadir dalam ruang terbuka dan interaksi ini.

Bagi para enterpreneur dan pengelola, memilih bertahan dan berjualan di FFF adalah sebuah pilihan politis, bentuk perlawanan terhadap rencana penghancuran pusat kreativitas anak muda, dan bentuk dukungan (fundraising) menghidupkan usaha positif ini. Apa yang dilakukan oleh para anak muda ini adalah sebuah alternatif sistem pangan yang memiliki perbedaan sifat dengan sistem pangan yang dominan saat ini (state and market-driven food system). Mereka menyediakan makanan yang diproduksi secara rumahan, menjaga kualitas bahan, dan terbuka (transparan) untuk konsumennya. Mereka membangun kepercaayaan dan ikatan dengan konsumen. Selain itu, pengelola dengan konsep yang dibangun ini mencoba membangun kepedulian konsumen terhadap produsen pangannya. Konsep ini menstimulus para konsumen memahami lebih jauh bagaimana makanannya diproduksi, dan mendorong pergerakan aktif konsumen. Salah satu ciri lahirnya inisiatif dalam Civic food network sebagai sebuah upaya dalam membangun demokrasi pangan digambarkan Renting et al (2012) adalah adanya perubahan peran konsumen dari pasif menjadi aktif di dalam sistem pangan. Konsumen yang aktif ditandai dengan kepekaannya terhadap siapa yang memproduksi dan bagaimana makanannya diproduksi, kemudian melakukan ‘aksi’ dalam mendorong perubahan sistem pangan yang lebih demokratis, inklusif, adil, dan ramah lingkungan.

Hubungan antara kota dan makanan (Steel, 2008) dan konsep food democracy (Renting et al, 2012) dalam cerita FFF sangat menarik untuk dibahas lebih jauh, terutama bagaimana memotret dinamika aktor dalam sistem pangan saat ini. Potret aksi-aksi alternatif jaringan pangan seperti FFF juga terdapat di berbagai negara. Jika kita berbicara pangan, terutama dalam konteks Indonesia, isu dominan adalah merujuk ke pertanian, pedesaan, beras, dan beberapa kata umum lainnya. Memahami kota dan gerakan pangan alternatif kontemporer kiranya dapat menambah pengetahuan kita dalam memahami sistem pangan yang kompleks ini.

 

*Informasi sebagian besar diperoleh penulis dari pengalaman ekskursi perkuliahan Globalization and Sustainability of Food Production and Consumption, Wageningen University and Research pada tanggal 7 Maret 2018 di Fennix Food Factory, Rotterdam

Sumber bacaan:

Steel, C. (2008). Hungry city: How food shapes our lives. London: Vintage Books.

Fennix Food Factory website link <http://www.fenixfoodfactory.nl/en/about/>

Renting H., Schermer M., Rossi A. 2012. Building Food Democracy: Exploring Civic Food Networks and Newly Emerging Forms of Food Citizenship. Int. Jrnl. of Soc. of Agr. & Food, Vol. 19, No. 3, pp. 289–307

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 23, 2018 by in Blog and tagged , , , , , , , , .

Navigation

Advertisements

Calendar

March 2018
M T W T F S S
« Jul    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 49,941 hits
Follow ulil ahsan's blog on WordPress.com
%d bloggers like this: