Aksi damai 2 Desember ini memang menyisakan banyak cerita. Tidak hanya soal penistaan agama, tapi jauh hingga menyentuh ranah politik “kampung tengah” alias pangan. Tentunya ini merupakan bahasan menarik yang membuat gatal para pengamat pangan gadungan seperti saya untuk mengeluarkan opini ala ala.

Ramai dibicarakan tentang keterlibatan Sari Roti dalam aksi damai 2 Desember ini. Disinyalir perusahaan roti yang naik daun ini turut mendukung aksi damai tersebut. Sempat jadi trending topik di media sosial dan memaksa manajemen perusahaan angkat bicara terkait keterlibatannya. Sari Roti mengeluarkan pernyataan bahwa mereka sama sekali tidak terlibat dalam aksi tersebut, melainkan pembagian roti gratis merupakan inisiatif individu konsumen saat aksi damai berlangsung. Kabar terbarunya, akibat dari kejadian ini, saham Sari Roti anjlok (Detik.com, 2016).

Tulisan ini tidak akan membahas jauh persoalan politis yang disangkutpautkan dengan agama dalam kisah Sari Roti. Namun mencoba menggali pelajaran apa yang dapat diperoleh dari peristiwa ini dikaitkan dengan isu pangan yang banyak diperjuangkan oleh sebagian masayarakat selama ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa Sari Roti merupakan penyumbang angka konsumsi gandum yang tinggi di masyarakat, sebab roti ini menjadi favorit konsumsi masyarakat urban hingga pedesaan dalam pemenuhan sumber energi hariannya.

Pangan Lokal dan Upaya menekan konsumsi gandum

Lama sudah masyarakat berjuang mempertahankan pangan lokalnya ditengah arus konsumsi pangan gandum yang kian deras. Dalam kurun waktu 40 tahun terakhir pertumbuhan industri terigu di Indonesia terus meningkat, dari 5 titik di tahun 1997 hingga 2014 tercatat 29 titik industri terigu yang tersebar di Indonesia (Aptindo, 2016), memasok bahan dasar pembuatan olahan gandum seperti roti, pizza, spageti, seblak, hingga kulit gorengan yang disantap tiap hari oleh sebagian besar penikmatnya. Peningkatan konsumsi gandum di Indonesia terus menyumbang penurunan jumlah konsumsi dan keberadaan varietas sumber-sumber pangan lokal yang tersebar di Indonesia, terutama karbohidrat.

Menurut penelitian, dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, suplai pangan global didominasi oleh beras, jagung dan  gandum untuk pangan sumber karbohidrat, keragamannya pangan semakin menyempit. Jika suplai pangan global tersebut didominasi oleh hanya beberapa komoditas global yang seragam, maka tidak hanya mengancam keberadaan diversitas tanaman pangan, tetapi juga berpotensi mengancam ketahanan pangan (Khoury et.al, 2014). Alasan adalah salah satu dari sekian banyak yang dikhawatirkan oleh masyarakat terkait ekspansi gandum yang kini menjadi kebiasaan makan orang Indonesia.

Peran pangan lokal begitu signifikan sebagai katup pengaman dari kerawanan pangan. Keberagaman konsumsi berbasis pangan lokal merupakan penyangga ketersediaan pangan serta sumber ragam nutrisi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya keseragaman konsumsi yang terjadi dalam jangka panjang dapat meningkatkan kerentanan terhadap kelaparan. Sejarah telah membuktikan dari berbagai kasus di belahan bumi, bahwa monokultur merupakan ancaman yang serius. Kasus Kelaparan di Irlandia 1740an, India, Papua dan NTT di Indonesia menjadi bukti bahwa penyingkiran pangan-pangan lokal dari kehidupan masyarakat akan berdampak pada kerentanan terhadap kelaparan dan malnutrisi.

Oleh karena itu, upaya-upaya konsumsi dan pengolahan pangan berbasis lokal banyak digalakkan oleh berbagai kalangan di Indonesia sebagai perlawanan terhadap dominansi produk-produk impor, terutama gandum yang dimotori oleh massifnya perusahaan-perusahaan terigu dan industri pangan skala besar yang menggunakan bahan baku gandum sebagai bahan dominannya. Namun, sejauh ini, upaya-upaya lokal dapat dikatakan masih sulit melawan dominansi industri raksasa berbasis gandum yang menggunakan media, publik figure, ruang-ruang publikasi perkotaan untuk mempromosikan produknya. Leverage media industri tersebut lebih besar ketimbang hasil upaya kampanye yang dilakukan oleh masyarakat yang secara sporadis mendorong penguatan konsumsi pangan lokal.

Politik Pangan dan Kuasa Media

Media memegang peranan penting dalam mengubah konstalasi politik sebuah negara. Sebut saja kudeta Mesir yang menjatuhkan rezim Husni Mobarak akibat kekuatan media sosial. Kemenangan Jokowi-Ahok dalam perebutan kursi kepemimpinan DKI Jakarta beberapa tahun lalu juga berkat kekuatan media. Kisah anak laki-laki duduk kebingungan dengan kepala bersimbah darah akiabt serangan bom di Aleppo, Suriah yang diketahui di seluruh dunia dan menjadi viral, itu karena media. Terakhir adalah kisah Sari Roti yang menyebabkan manajemen perusahaannya sampai mengeluarkan statemen di media dan menyebabkan sahamnya anjlok akibat menjadi viral di masyarakat adalah karena kekuatan media.

Salah satu kekuatan yang harus diperhitungkan saat ini adalah media. Lucunya, dalam konteks perlawanan terhadap dominansi industri pangan raksasa berbasis bahan baku impor, khususnya pada kasus sari roti, dalam kurun waktu beberapa hari saja isunya dapat mengguncang bangunan kokoh industri  ini melalui pergerakan saham yang anjlok. Sementara itu, upaya sporadis yang telah lama dilakukan kelompok masyarakat dalam mendorong pangan lokal belum mampu mempengaruhi laju peningkatan industri-industri gandum dan konsumsi di Indonesia. Viralnya kisah sari roti bagaikan senjata mematikan yang dapat mengguncang kapal raksasa industri pangan berbasis terigu. Sayangnya, guncangan ini hanya cantolan dalam aksi damai 2 Desember 2016, dan tidak lahir dari inisiatif kolektif radikal yang dilandaskan terhadap kesadaran penguatan isu pangan.

Melalui kasus ini, banyak pelajaran yang dapat diambil. Pertama, mengenai kuasa media dewasa ini yang menjadi satu hal penting yang tidak dapat dilepaskan dalam upaya penggalangan massa atau penggiringan opini masyarakat. Kedua, kasus Sari Roti menjadi sebuah studi kasus bagi masyarakat yang telah memiliki inisiatif dalam mendorong diversifikasi pangan dan mengurangi dominansi terigu bahwa upaya penggiringan opini publik penting membaca momentum yang tepat, isu yang pas, dan perubahan yang akan didorong (message). Seperti kasus sari roti, jangan-jangan penguatan isu pangan yang tidak seksi dan menggemaskan bagi publik ini perlu disisipkan dalam momentum-momentum politis ataupun isu yang berpotensi viral di negeri ini. Mari kita pikirkan bersama dan kita amati di lain kesempatan. (ua)

Bogor, 7 Desember 2016

image credit: http://www.tribunbarat.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s