Jumat, 8 Agustus 2014. Terletak di ujung Utara negara Malaysia, dekat perbatasan Selatan Thailand. Kelantan, tepatnya daerah Kota Baru adalah tujuan pelancongan kami selama extend di Malaysia. Kata orang Kelantan agak berbeda dengan daerah lainnya di Malaysia ditinjau dari bahasa dan makanannya, mungkin karena mendapat pengaruh dari Thailand. Islam di Kelantan sangat kuat, tulisan-tulisan arab melekat di setiap reklame, nama sebuah toko, kantor, dan ruang publik. Kelantan juga memiliki bandara sendiri dan kecenderungan pembangunannya mulai terlihat.

Bus Sharmila dan kedai makan
Bus Sharmila dan kedai makan

Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Kelantan diputuskan dengan naik transportasi darat. Saya dan Mbak Rita ditemani Sam dan Bu Salwati menaiki bus tingkat berwarna oranye bermerek Sharmila. Perjalanan ke Kelantan ditempuh selama 6 jam dengan rute yang sangat mulus dan pemandangan alam yang menarik. Di pertengahan jalan kami mampir makan siang di warung makan (kalau di Indonesia semacam tempat check point bus kalau berangkat dengan rute Jawa bagian Barat ke Jawa bagian Timur ataupun sebaliknya), dan lagi saya makan ditemani Milo dingin sebagai pelepas dahaga. Setelah itu perjalanan dilanjutkan hingga tiba di terminal bus Kelantan. Sembari menunggu kerabat Bu Salwati menjemput, saya melihat sekeliling terminal, tampak pembangunan baru dimulai, lahan kosong dengan alat berat mengisi lahan kosong tersebut. Akhirnya jemputan datang. Tidak jauh dari terminal, kami melihat keramaian masyarakat di pinggir jalan dan memenuhi lapangan. Ternyata itu semacam alun-alun tempat anak-anak muda nongkrong. Komunitas motor dan mobil meramaikan daerah tersbut, ada juga mobil-mobil yang menyajikan sound system di bagasi belakangnya. Teringat pada aksi geng mobil di film Fast and Furious. Jadi, pikirku ini Fast and Furious versi Kelantan. hehehe

Ikan rica-rica
Ikan rica-rica
Menatap ikan-ikan kecil yang sedang bermain
Menatap ikan-ikan kecil yang sedang bermain

Dari terminal kami tidak langsung ke penginapan. Kami diajak Ibu Salwati untuk makan di sebuah trestoran tepi sungai. Kami dijamu seafood dengan suasana sore yang menawan di tepi sungai. Tom Yam seafood, ikan bakar, kangkung, cumi, dan jus terhampar di hadapan kami. Malam itu topik diskusi kami adalah tentang pemilu di Indonesia. Ternyata Sam cukup tahu tentang kondisi perpolitikan di Indonesia yang lagi hangat, ditambah waktu itu siaran di TV Kelantan memberitakan tentang apa yang tengah kami perbincangkan. Setelah itu kami diajak ke rumah Ibu Salwati. Terlihat layangan besar tergantung di tembok luar rumahnya. Itu adalah “Wau”, sebuah benda yang menjadi salah satu ciri khas Malaysia. Ibu Salwati menunjukkan kami lahan yang terhampas luas di sekitar tempat tinggalnya. Katanya lahan itu adalah lahan tidur yang saat ini tidak dimanfaatkan masyarakat. Dahulu lahan itu ditanami padi dan sayur-sayuran, namun karena tidak ada lagi yang mau menggarap, kini lahan itu terabaikan. Salah satu masalah pertanian di komunitas yang dipimpin Ibu Salwati adalah tidak ada lagi yang mau bertani. Sama halnya di Indonesia, semakin hari jumlah petani semakin berkurang karena berbagai hal, salah satunya adalah rendahnya tingkat pendapatan petani.

Wau
Wau

————————————–

Pagi yang cerah di hari kedua, kami diajak Ibu Salwati bersama anak-anaknya untuk sarapan di sebuah warung sederhana di daerah pinggir jalan besar. Tampak dari depan warung itu menjajakan aneka jajanan pasar khas Kelantan, tak sabar rasanya ingin menyantap. Tentu ritual pertama adalah tanya-tanya nama makanannya dan memotret makanannya, lalu dicicipi. Saya mencoba snack yang terbuat dari campuran ubi jalar. Rasanya sungguh nikmat dan berbeda dengan jajanan ubi jalar yang pernah saya cicipi sebelumnya. Selain itu untuk main coursenya saya memilih Nasi Tumpang, nasi yang dibungkus daun pisang dan sigulung berbentuk kerucut. Di dalamnya terdapat sambal dan beberapa cuil ikan. Nasi tumpang dinikmati dengan gulai bebek yang disajikan langsung oleh juru masaknya. Tentu teman minumnya adalah Milo hangat.

Jajanan pinggir jalan
Jajanan pinggir jalan
Sarapan sambil ngobrol
Sarapan sambil ngobrol

Berkunjung ke Jabatan Pertanian Kelantan

Anda mungkin bertanya-tanya, apa itu jabatan pertanian? Hehehehe. Kalau di Indonesia itu adalah Kantor Dinas Pertanian. Di Malaysia, jabatan artinya kantor. Nah, pada kesempatan pagi itu, Ibu Salwati mengajak kami menemui salah satu anggota komunitas organiknya di Kantor Jabatan Pertanian. Ibu Salwati adalah orang yang cukup dikenal di komunitas pertanian Kelantan. Beliau adalah ibu rumah tangga yang aktif, pekerja keras, disiplin dan tetap memprioritaskan keluarga. Jarang-jarang saya temui ibu-ibu aktif seperti ini. Pagi menjelang siang itu kami dipertemukan oleh Pak Nazri Arifin, seorang petani muda yang tengah mengolah lahan pertanian di dalam komplek Jabatan Pertanian Kelantan. Pak Nazri juga merupakan salah satu anggota aktif komunitas petani organik Kelantan yang dikoordinatori oleh Ibu Salwati. Saat itu, kami berbincang di depan hamparan lahan bibit cabai Solok. Cabai jenis ini merupakan cabai khas Kelantan, tidak tumbuh di daerah lain. Bentuknya seperti cabe rawit, bedanya adalah ini versi jumbonya.

Hamparan tanaman cabai Solok
Hamparan tanaman cabai Solok
Cabai Solok
Cabai Solok

Pak Nazri menceritakan kendala yang dihadapi pada tanaman ini adalah penyakit kuning dan keriting pada daun. Itu adalah penyakit umum pada tanaman cabai, di Indonesia pun begitu. Pak Nazri adalah salah satu petani muda yang memiliki kesadaran besar. Pak Nazri juga melek teknologi, memanfaatkan pencarian informasi melalui internet dan grup Facebook. Beliau mengakui berbagai masalah pertanian yang dia hadapi seperti pemberantasan hama, pembuatan pupuk, dan lain-lain, solusinya dia peroleh dari internet dan grup pertanian yang ada di Facebook. Jarang-jarang ada petani muda yang punya inisiatif tinggi seperti beliau. Seperti itulah yang diharapkan sebenarnya. Munculnya petani-petani yang bisa memanfaatkan teknologi dan berinisiatif mengembangkan sustainable agriculture. Pertemuan siang itu sungguh inspiratif, sangat kagum dengan sosok petani muda yang tekun dan punya komitmen seperti Pak Nazri.

Penyakit keriting pada tanaman cabai
Penyakit keriting pada tanaman cabai
Diskusi dengan Pak Nazri (baju biru)
Diskusi dengan Pak Nazri (baju biru)

Pesta Pernikahan ala Kelantan

Setelah mengunjungi Jabatan Pertanian, Ibu Salwati mengajak kami menghadiri pernikahan putri salah satu anggota komunitas organik di Kelantan. Kebetulan saat itu waktunya makan siang, di acara pernikahan biasanya disajikan makanan-makanan lokal dan khas Kelantan. Siang itu cukup terik, kami turun dari mobil dan melihat rombongan prajurit berpakaian putih lengkap dengan pedang dan tampak gagah. Usut demi usut, ternyata mereka adalah pengiring pengantin pria. Tampaknya mempelai pria adalah seorang prajurit di kemiliteran Malaysia. Tampak dari luar pestanya sangat sederhana. Kamipun mendekat dan mulai terdengar kebisingan bunyi-bunyian alat musik khas kelantan. Saya menuju ke belakang dan menyaksikan pemain musik melantunkan lagu-lagu daerah. Yang menarik perhatianku adalah sebuah alat musik tiup mirip dengan bentuk puik-puik khas Makassar yang sering kumainkan, hanya saja ini lebih besar, cara meniupnya serupa dengan teknik circle (sambung).

Acara pernikahan di Kelantan
Acara pernikahan di Kelantan
IMG_3384
Peniup alat musik tradisional Melayu

Pengantinpun tiba, red carpet terhampar di depan mereka, diiringi sebuah alat musik eropa yang dimainkan oleh dua orang prajurit di ujung barisan, dan para prajurit lainnya berbaris rapi di pinggir karpet menyambut pengantin berjalan meuju pelaminan. Saya yang sibuk memotret para pemain musik di belakang langsung menuju ke dekat red carpet dan mengambil beberapa gambar pengantin dan pengiringnya. Ah.. kapan ya saya bisa jadi pengantin. Para mempelai sangat beruntung, Si pria dapat wanita cantik, Si Gadis dapat pria ganteng, prajurit lagi. hehehe

Iringan pengantin dengan alat musik khas Skotlandia
Iringan pengantin dengan alat musik khas Skotlandia
Pengantin baru
Pengantin baru

Memotret memang penting, tapi lebih penting lagi mengisi perut, mumpung makanan banyak tersaji di pesta pernikahan siang itu. Tempat makananya pada seperti pasar, suasananya pun begitu panas. Makanan khas tersaji beranekaragam, dari ikan hingga sayuran. Bingung mau ambil yang mana, saya ambil sesuai seleras saja. Di sisi samping, disajikan minuman khas dan saya memutuskan memilih tuak. Menikmati makanan enak gratisan dan didampingi tuak manis, sungguh menyegarkan di tengah teriknya matahari dan ramainya tamu undangan. Sekejap momen itu mengingatkan saya pada Palaguna (salah satu nama daerah di kampung yang banyak kedai tuak). Setelah selesai makan, yang punya acara menyambangi kami. Ucapan terima kasih kami haturkan dan foto bersama. Siang itu saya namai wisata kondangan. hehehe

Kudapan acara pengantin, khas Kelantan
Kudapan acara pengantin, khas Kelantan
Berfoto dengan yang punya acara dan keluarga Ibu Salwati
Berfoto dengan yang punya acara dan keluarga Ibu Salwati

Ibu Salwati kemudian membawa kami ke destinasi berikutnya. Butik yang menjual kain khas Kelantan. Saya memutuskan untuk tidak membeli apa-apa di butik itu. Saya hanya menikmati indahnya lekukan dan warna kain khas Kelantan yang digantung berjejeran di dinding butik tersebut. Setelah itu kami diajak berbelanja di pusat perbelanjaan. Misi kami ke sini adalah menemukan makanan kemasan yang direkomendasikan oleh Prof. Anizan, Ibu Salwati dan Prof. Norela yaitu Mi Maggi rasa Asam Laksa, Milo kemasan, dan salah satu bumbu khas kelantan yang sering dipakai untuk campuran tumisan dan masakan-masakan lainnya. Dua jenis barang yang disebutkan di awal memang barang modern, tapi itu yang paling laku dan saat ini secaa tidak sadar menjadi ikon di negeri jiran, tidak ada salahnya dicoba. Bumbu yang satunya untuk kuberikan ke tante yang suka masak dan eksperimen, sepertinya akan membahagiakan beliau. Hampir terlupa satu kejadian yang unik di pusat perbelanjaan di Kelantan. Salah masuk kasir mungkin hal yang jarang terjadi. Tapi di Kelantan, salah masuk kasih mungkin saja terjadi bagi orang baru, termasuk saya. Saat melakukan pembayaran, dengan pedenya saya menyerobot kasir yang dijaga seorang wanita. Seteah melewati kasir, tak sadar beberapa orang menatap. Ternyata keanehannya karena saya salah masuk kasir. Kasir yang saya lewati adalah kasir untuk wanita. Saya baru sadar ternya di pusat perbelanjaan itu kasirnya dibagi untuk pria, wanita, dan rombongan keluarga. Ya…ya…ya..

Kain khas Kelantan
Kain khas Kelantan
Ooopsss salah!

Cemilan Ikan yang Nikmat

Kami akan kembali ke Kuala Lumpur dengan naik bus malam ini. Destinasi rekreatif terakhir kami di Kelantan adalah pinggir pantai. Pantai itu teduh dengan pohon cemara yang menjulang tinggi. Kami duduk di meja payung dan memesan beberapa makanan. Snack ikan selais adalah yang paling favorit. Kami memesan beberapa porsi lengkap dengan cocolannya. Selain itu, main coursenya adalah Mi Maggi. Hahaha… jauh-jauh ke Kelantan, makannya mi instan juga. Tapi saya akui snack ikan selais itu amat sangat enak. Rasanya pengen beli dan bawa pulang. Namun sayang seribu sayang, penerbangan kami ke Indonesia masih 2 hari lagi, dan tingkat ketahanan ikan selais itu tidak lama karena merupakan produk semi basah. Bukan rejekinya menikmati kudapan ikan selais sebagai oleh-oleh. Sore itu kami memutuskan untuk membeli kerupuk ikan parang yang lebih awet dibawa pulang.

Nyantai di pantai
Nyantai di pantai
Snack ikan selais yang nikmat
Snack ikan selais yang nikmat

Kami kembali ke penginapan, membersihkan diri dan berkemas. Setelah itu Ibu Salwati datang menjemput dan mengantar kami ke terminal. Malam itu kami berpisah. Kenangan beberapa hari bersama Ibu Salwati dan komunitasnya sungguh berkesan. Saya banyak belajar dari semangat dan ketekunannya membina komunitas petani. Semoga kita bisa dipertemukan lagi.

One thought on “Malaysia for the 2nd Time #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s