source: http://apisuk.com/
source: http://apisuk.com/

Tren konsumi makanan organik saat ini mengalami peningkatan. Itu bukan berarti bahwa makanan organik adalah hal yang baru di masyarakat. Jauh di era sebelumnya, nenek moyang kita dalam kesehariannya mengkonsumsi makanan organik. Namun dengan berlakunya sistem pangan berbasis bahan kimia, maka istilah organik mulai muncul di masyarakat. Dengan demikian makanan organik diartikan sebagai makanan yang bebas dari paparan bahan-bahan kimia seperti pestisida, insektisida, maupun hormon-hormon pertumbuhan.

Teknologi di bidang pertanian telah mempengaruhi sistem sosial, ekonomi, budaya, dan kesehatan di masyarakat. Penggunaan teknologi diklaim untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan untuk menghasilkan makanan yang lebih banyak dan lebih berkualitas. Namun, peningkatan produktivitas ini menggunakan bahan-bahan kimia untuk dipaparkan terhadap bahan pangan yang ditanaman. Bahan kimia tersebut kemudian mencemari permukaan makanan, tanah, dan air. Oleh karena itu penggunaan pestisida saat ini mulai dihindari meskipun masih sedikit presentasinya.

Pestisida merupakan subtansi kimia yang digunakan untuk tanaman pada variasi level tertentu selama budidaya maupun penyimpanan pasca-panen. Penggunaan pestisida ditujukan untuk mencegah kerusakan tanaman pangan dengan pengendalian Hama pertanian atau tanaman yang tidak diinginkan dan untuk meningkatkan kualitas tanaman (Bakirci & Hisil 2011; Bakirci et al., 2014). Pestisida memiliki sifat persisten pada lingkungan dan dapat menyebabkan keracunan kronik pada hewan dan manusia melalui air, udara dan asupan pangan (Darko et al., 2008; Loganathan, 2012; Shoiful et al., 2013). Contohnya adalah Organochlorine Pesticides (OCPs) yang sering digunakan dalam pertanian. Organochlorine pesticide dengan sifat persistensinya memiliki berbagai kemampuan untuk bertransportasi di dalam lingkungan (Park et al., 2011; Mahmood dkk, 2014)dan kemampuan bio-akumulasi dalam jaringan hewan dan tanaman pangan (Nakata et al., 2002; Mahmood et al., 2014).

Dampak penggunaan pestisida pada lingkungan telah banyak diteliti, namun yang utama adalah dampak langsungnya terhadap manusia. Meskipun dampak terhadap manusia kurang disadari dan berlangsung lama, namun berbagai ahli menyatakan bahwa pencemaran lingkungan yang salah satunya adalah penggunaan pestisida menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia. Pada bulan November 2013, Presiden Organisasi Alergi Dunia (WAO) mengatakan bahwa prevalensi kasus alergi seperti asma dan rhinitis atopic meningkat dalam beberapa decade terakhir. Ungkapnya, hal tersebut tidak lepas dari faktor lingkungan yakni polusi dari rokok, pestisida, serta berkurangnya mikrobiota alami yang dibutuhkan tubuh.

Para peneliti juga menemukan dampak pestisida yang dapat memicu penyakit Alzheimer. Alzheimer memiliki gejala berkembangnya plak amiloid pada otak yang menyebabkan kematian sel pada otak. Indikator penelitian dampak pestisida terhadap pemicu Alzhimer adalah peningkatan konsentrasi Dichloro-Dipenhyl-Trichloroethane (DDT) pada penderitanya. Sebuah study dari JAMA Neurology menunjukkan bahwa tubuh pasien penderita Alzheimer memiliki tingkat DDT empat kali lipat lebih tinggi daripada orang sehat rata-rata. Sementara itu, tim di Rutgers University dan Emory University meneliti kandungan Dichloro-Dipenhyl-Trichloroethylene (DDE) pada penderita Alzheimer. DDE merupakan hasil uraian DDT di dalam tubuh manusia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan jumlah DDE penderita Alzheimer lebih tinggi 3, 8 tingkat daripada orang sehat dengan usia dan latar belakang yang sama.

Penelitian dampak pestisida terhadap kesehatan menjadi tren para ilmuwan meskipun membutuhkan waktu dan kajian yang lebih mendalam, mengingat pestisida merupakan zat yang terbio-akumulasi dan persisten pada lingkungan tempat penyebarannya. Untuk menghindari pencemaran pestisida di lingkungan masyarakat umumnya dan keluarga dalam lingkup yang lebih kecil, perlu pendekatan secara masif kembali terhadap pertanian dan pangan organik. Tidak hanya mengkonsumsi, namun mngetahui asal dan prosesnya. Hal tersebut diperlukan tidak hanya melindungi kesehatan keluarga dari bahaya cemaran pestisida, tetapi juga untuk pelestarian kearifan lokal dalam aspek pertanian. Pertanian organik itu sehat, pertanian organik itu cerminan kearifan lokal.

 

Pustaka:

National Geographic Indonesia. Daya Dukung Lingkungan Turun Sebabkan Kasus Alergi Merebak. 20 November 2013. [http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/11/daya-dukung-lingkungan-turun-sebabkan-kasus-alergi-merebak]. Diakses 14 Juli 2014.

National Geographic Indonesia. Pestisida dapat picu Alzheimer. 28 Januari 2014. [http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/01/pestisida-dapat-picu-alzheimer]. Diakses 14 Juli 2014.

Shoiful, A., Fujita, H., Watanabe, I., Honda, K. 2013. Concentrations of organochlorine pesticides (OCPs) residues in foodstuffscollected from traditional markets in Indonesia. Journal of Chemosphere. 90, 1742-1750.

Mahmood, A., Malik, R. N., Li, J., Zhang, G. 2014. Human health risk assessment and dietary intake of organochlorinepesticides through air, soil and food crops (wheat and rice) alongtwo tributaries of river Chenab, Pakistan. Journal of Food and Chemical Toxicology. 71, 17-25.

Bacirki, G. T., Acay, D. B. Y., Bacirki, F., Ötles, S. 2014. Pesticide residues in fruits and vegetables from the Aegean region,Turkey. Journal of Food Chemistry. 160, 379-392.

 

*tulisan ini juga dapat dilihat di
http://martani.co/2014/07/14/bahaya-pestisida-bagi-kesehatan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s