source: cwsglobal.org
source: cwsglobal.org

Nusantara, Itulah Indonesia yang populer dengan kata Archipelago. Dunia mengagumi keunikan dan kekayaan hayatinya. Menurut data IBSAP (2003) dalam Walujo, 2011[1], sekitar 38.000 jenis tumbuhan (55% endemik) di Indonesia. Keanekaragaman hayati dan endemik tersebut menjadikan Indonesia sebagai laboratorium alam yang unik untuk tumbuhan tropik. Namun, kekayaan alam dan keunikan itu tidak serta merta diiringi oleh pelestarian dan dukungan secara politis masyarakat maupun policy maker di Indonesia.

Indonesia adalah negara berpenduduk sekitar 240 juta orang dengan laju  pertambahan penduduk 1,49 % tiap tahun[2]. Negara yang masyarakatnya mengkonsumsi  beras sebagai staple food dan terbesar di dunia, yaitu 139 kg/kapita/tahun[3]. Seiring besarnya pertambahan penduduk dan kebutuhan beras nasional, timbul kondisi dilematis yaitu semakin sempitnya lahan dan perubahan.  Lahan di Indonesia berkurang sekitar 110.000 hektar setiap tahun untuk tanaman non-pangan, pembangunan industri, perumahan, dan lain-lain. Perubahan iklim yang tidak menentu juga merupakan kendala peningkatan produktivitas pertanian di Indonesia.  Polemik pangan yang enggan berkesudahan tersebut sayangnya dibarengi oleh kebijakan yang kurang bijak, kapitalis, inkonsistensi dan tidak berkelanjutan.

Menurut Sensus ekonomi nasional BPS (2011), tingkat konsumsi beras per kapita pada tahun 2010 berhasil ditekan sebesar 1,4% dari tahun 2009[4]. Data tersebut mungkin baik, namun penurunan tersebut diiringi oleh peningkatan konsumsi terigu masyarakat. Artinya, konsumsi beras memang tertekan, namun hal tersebut digantikan dengan peningkatan konsumsi terigu. Menurut Khudori pemerhati sosial ekonomi pertanian, ini adalah diversifikasi pangan yang salah kaprah. Senada dengan itu, Ir. Kusbini seorang pakar holtikultura nasional berpendapat bahwa Indonesia memang berhasil diversifikasi pangan, tapi dari beras ke terigu. Sementara itu, posisi konsumsi terigu Indonesia adalah 100% impor. Pada tahun 2012 nilai impor terigu Indonesia sebesar US$ 2,2 Milyar[5], sangat ironis bagi negeri kaya akan keanekaragaman hayati ini.

Pangan Nusantara

Uniknya, Indonesia adalah negara kepulauan. Setiap pulau dan daerah memiliki tanaman pangan yang beranekaragam. Untuk mengatasi polemik pangan di Indonesia, tidak perlu jauh-jauh dan berpikir mahal, melihat kekayaan alam yang dianugerahi Tuhan dan memanfaatkannya adalah solusinya. Namun, apakah policy maker memperhatikan hal tersebut ? Celakanya, keanekaragaman konsumsi pangan tiap daerah di Indonesia mulai luntur oleh monokulturisasi beras sebagai hasil kebijakan ketahanan pangan nasional pemerintah yang dianggap prestisius ketika mendapat penghargaan swasembada beras di tahun 1982. Budaya makan masyarakat yang tadinya mengkonsumsi umbi-umbian, jagung, sagu, dan jenis lainnya mulai tergerus dan tergantung pada beras.

Salah satu pangan yang terabaikan misalnya Hotong. Hotong merupakan tanaman jenis serealia yang tumbuh di daerah pulau Buru. Hotong memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang lebih tinggi daripada beras serta kaya akan vitamin dan antioksidan[6]. Dahulu hotong digunakan masyarakat sebagai pangan lokal, biasanya dibuat bubur dan olahan lainnya untuk konsumsi sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, budidaya hotong makin ditinggalkan karena masyarakat cenderung mengkonsumi beras yang ketersediaannya lebih terorganisir melalui Bulog. Hotong mulai ditinggalkan dan hanya menjadi tanaman liar yang terabaikan, bahkan tingkat permintaan tinggi namun stok tidak sanggup memenuhi karena kurangnya minat budidaya hotong di masyarakat pulau Buru. Tidak hanya hotong, berbagai sumber lokal alternatif di berbagai daerah juga bernasib sama dengan hotong, seperti sorgum, sagu, jagung, singkong, ubi jalar, dan lain-lain.

Dari berbagai pangan lokal tersebut, tercipta berbagai masakan khas nusantara sebagai makanan pokok masyarakat. Sebut saja Kapurung sebagai makanan khas dari sulawesi selatan, terbuat dari sagu sebagai bahan utamanya, papeda dari papua, tiwul dari gunungkidul, enbal dari maluku, eloi dari kalimantan timur, dan makanan-makanan khas lainnya yang lahir dari kreativitas masyarakat lokal dalam memberdayakan pangan lokal yang ada. Makan adalah budaya, dan segala karya yang diciptkan dalam bentuk kuliner lahir dari aktivitas masyarakat yang bersinggungan dan belajar dari alam.

Pangan dalam konsep Unity in Diversity

Berbicara tentang diversifikasi pangan di Indonesia tidak lepas dari bahasan sejarah dan kebudayaan karena saling terkait satu sama lain. Pertimbangan sejarah dan kebudayaan penting karena masyarakat terdahulu sangat harmonis dengan alam dalam segala aktivitasnya. Mengembalikan kejayaan pangan nusantara perlu kebijakan serius dan berkelanjutan dan tidak mengabaikan unsur budaya lokal masyarakat. Dari Presiden sampai Kepala Desa perlu memahami, mempertimbangkan, dan mengaplikasikan nilai kearifan lokal dalam penetapan kebijakan pangan. Jika dahulu mengkonsumsi umbi-umbian secara terpaksa dilakukan saat kondisi pangan darurat, maka sekarang mengkonsumsi pangan yang beranekaragam adalah sebuah langkah tepat untuk kesejahteraan individu ditinjau dari komponen gizi dan dampak kesehatan maupun untuk kesejahteraan kelompok. Konsep nusantara adalah unity in diversity, seyogyanya dalam persoalan pangannya juga seiring dengan konsep tersebut. Kebijakan pangan tentunya bukan monokultur, namun mempertahankan keanekaragaman yang dimiliki untuk mewujudkan ketahanan, kedaulatan dan kemandirian pangan di Indonesia.

*Artikel ini disajikan sebagai pengantar diskusi PAGI (Pangan dan Gizi) DoYouLead Jogja di Fakultas Kedokteran UGM tahun 2013

Pustaka:

[1] Walujo, E. B. 2011. Keanekaragaman Hayati Untuk Pangan. Pusat Penelitian Biologi, LIPI.  Disampaikan Pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional X. Jakarta.

[2] Kompas.com. 2011. Penduduk Indonesia Tambah 3,5 Juta Jiwa Per Tahun. <http://nasional.kompas.com/read/2011/07/13/2024416/Penduduk.Indo.Tambah.3.5.Juta.Jiwa.Per.Tahun> Diakses tanggal 27 Januari 2014.

[3] Detik.com. 2011. Kalahkan Jepang, Konsumsi Beras RI Capai 139 Kg/Kapita/Tahun. <http://finance.detik.com/read/2011/09/07/185507/1717737/4/kalahkan-jepang-konsumsi-beras-ri-capai-139-kg-kapita-tahun> Diakses tanggal 27 Januari 2014.

[4] Khudori, 2011. Salah Kaprah Diversifikasi Pangan. <http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=12464&coid=2&caid=30&gid=3> Diakses 27 Januari 2014.

[5] Tempo.co. 2013. Indonesia Didesak Kurangi Impor Gandum. <http://www.tempo.co/read/news/2013/07/24/090499391/Indonesia-Didesak-Kurangi-Impor-Gandum> Diakses 27 Januari 2014.

[6] Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. 2011. Buru Hotong, Sumber Pangan Non Beras dan Alat Mesin Pengolahanya. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Volume 33:11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s