Kampung Inggris adalah istilah untuk sebuah daerah di Kediri Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Pare dimana banyak orang yang berasal dari berbagai daerah sengaja datang untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mereka. Di Kampung Inggris terdapat banyak lembaga kursus Bahasa Inggris yang menyajikan berbagai program peningkatan kemampuan Berbahasa Inggris seperti Speaking, Grammar, TOEFL hingga IELTS, dan harganya pun lebih terjangkau dibandingkan dengan lembaga kursus yang terdapat di kota-kota besar. Selain itu, suasana di Kampung Inggris sangat menunjang peningkatan pada penguasaan bahasa Inggris seseorang karena terdapat banyak orang bertujuan sama dan saling berinteraksi dengan berbahasa Inggris. Oleh karena itu Kampung Inggris banyak digandrungi oleh orang-orang yang ingin memiki kemampuan Bahasa Inggris yang lebih baik. Sebagian besar orang yang belajar di sini adalah anak-anak muda yang baru menyelesaikan SMA dan akan melanjutkan kuliah. Ada juga mahasiswa yang sedang mengisi waktu liburannya, serta orang-orang yang baru menyelesaikan studi S1 nya dan akan mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi S2 maupun S3.

Saat ini saya sedang berada di Kampung Inggris dengan tujuan yang sama dengan kebanyakan orang. Posisi saya sebagai orang yang baru menyelesaikan kuliah S1 nya dan akan melanjutkan kuliah S2 di luar negeri. Oleh karena itu membutuhkan pembelajaran lebih intens untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris untuk mendukung kegiatan akademik di luar negeri nantinya. Tulisan ini akan membahas tentang sisi lain kehidupan yang saya alami dalam kurun waktu 2 minggu pertama di Kampung Inggris. Banyak hal baru yang saya alami di sini. Termasuk momen-momen saat melakukan adaptasi dan menemukan teman baru, serta membangun kultur yang mendukung pengembangan ilmu tidak hanya Bahasa Inggris, tapi juga pengetahuan yang lainnya.

Setibanya saya di sini, sungguh kondisinya sangat berbeda daripada di Jogja. Ketika menjadi mahasiswa dan masih berada di Jogja selalu saja ada kesibukan dan kegiatan menghidupkan gerakan, maka sekarang tampak berkebalikan di awal saya berada di sini. Semua tampak sepi, sunyi dan seperti tidak ada sesuatu yang bisa saya kerjakan di sini. Beberapa hari berselang saya mulai mencari kos-kosan untuk tempat tinggal selama beberapa bulan di sini. Kos-kosan di Kampung Inggris lebih dikenal dengan istilah boarding house. Akhirnya saya menemukan sebuah boarding house yang bersih dan nyaman di daerah Barat pusat Kampung Inggris berada. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan sepeda menuju tempat kursus Bahasa Inggris saya.

Ada dua pilihan tempat tinggal di Kampung Inggris, yaitu masuk camp atau boarding house. Banyak orang merekomendasikan camp untuk tempat tinggal selama di Pare karena di camp terdapat program intensif berbicara Bahasa Inggris daripada di boarding house. Namun pikiran awal saya sampai di sini merasa belum mau tinggal di camp karena saya punya program belajar sendiri seperti mempelajari jurnal-jurnal ilmiah berkaitan dengan jurusan master yang akan saya ambil, membaca buku, dan melakukan hal-hal lain yang menurut saya akan sulit saya lakukan ketika berada di camp. Karena itu saya memilih tinggal di boarding house.

Boarding house yang saya tempati saat ini bernama Kartini House. Sebagian besar penghuni tempat ini adalah anak-anak muda lulusan SMA yang baru akan melanjutkan kuliah. Hanya ada 2 orang yang telah lulus kuliah seperti saya. Awalnya saya berpikir bahwa akan sulit beradaptasi dengan situasi penghuni kosan yang seperti ini. Tentunya akan ada sikap individualisme dengan kondisi perbedaan umur dan mayoritias penghuni yang ada di sini. Saya kemudian berpikir bagaimana mengatasi kendala ini dan bagaimana membangun strategi membentuk lingkungan yang mendukung saya untuk tidak berhenti belajar dan mengembangkan kapasitas serta tetap menjalankan program-program gerakan yang saya miliki saat ini. Dan saya mencoba membuat itu. Lingkungan yang bisa mendukung saya untuk terus belajar, mencoba untuk tidak stuck, dan tetap mengembangkan ilmu yang saya miliki.

Saya memutuskan untuk membuat sebuah forum diskusi di boarding house ini. Forum ini saya rancang untuk membangun lingkungan akademik di boarding house tanpa memaksa dan terpaku aturan  seperti di camp, tetapi tetap bermuatan akademis yang sudah barang tentu ilmunya bisa didapatkan oleh penghuni boarding house. Kebanyak penghuni boarding house di Kampung Inggris mengalami perkembangan Bahasa Inggris yang lambat daripada di camp, namun saya pikir bahwa dengan adanya forum ini bisa setidaknya membuat penghuni boarding house punya aktivitas pengembangan diri daripada boarding house biasa yang dicitrakan orang. Lingkungan ini yang ingin saya bangun di boarding house tempat saya akan tinggal di Kampung Inggris.

Teman-teman kos saat selesai diskusi
Teman-teman kos saat selesai diskusi

Metode yang saya gunakan di awal adalah bersifat sharing experience, bercerita hal-hal yang sifatnya inspiratif. Semisal berbagi hal tentang kehidupan mahasiswa untuk tema-teman yang baru akan menjadi mahasiswa di boarding house ini. Sifat forum ini adalah simbiosis mutualisme. Mengapa demikian? Karena dengan forum ini, kita yang menjadi pemantik diskusi akan belajar untuk berbicara di depan umum, belajar membangun gerakan dan memimpin diskusi. Di sisi lain, bagi para pesertanya, mereka mendapat ilmu berupa inspirasi dan hal-hal baru yang belum mereka ketahui sebelumnya. Untuk menambahkan bumbu-bumbu motivasi dalam forum ini, setiap diskusi diadakan biasanya ditutup dengan kutipan-kutipan yang menggugah semangat peserta untuk menjadi lebih baik. Instensitas pertemuan dilakukan tidak begitu tinggi awalnya untuk menghindari hal yang membosankan nantinya. Namanya juga boarding house, setiap orang punya kebebasan dan kesibukan masing-masing, sehingga untuk menciptakan kultur keilmuan ini dibutuhkan proses, kerelaan, dan kesadaraan para pesertanya, kalau mau banyak aturan dan program yang intens bukan di boarding house tempatnya, tapi di camp. Setelah forum mulai intens dan diminati para peserta, selanjutnya forum ini berjalan dengan diisi suntikan penggunaan bahasa Inggris, tentunya untuk tetap memperkaya pengalaman dan latihan kita dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di tempat kursus.

Sekali lagi bahwa membangun kultur akademik adalah sebuah proses, dimulai dari yang ringan-ringan dulu yang dapat dicerna, diminati hingga dinikmati oleh warganya. Strategi ini dibangun untuk mencegah stagnasi yang terjadi bagi para pelajar di kampung Inggris yang tinggal di boarding house. Kultur ini dibangun untuk menghilangkan momok bahwa tinggal di boarding house tidak bisa lebih berkembang daripada di camp. Sebenarnya itu tergantung individu penghuni boarding house itu sendiri untuk tetap mau belajar dalam kondisi yang bebas tanpa aturan program seperti di camp. Selain itu, inisiator penting adanya dalam membangun kultur akademis ini. Jadi, jika anda berniat untuk terus belajar dan berkembang secara signifikan di Kampung Inggris tidak hanya orang-orang yang tinggal di Camp saja yang bisa, tapi orang-orang yang tinggal di boarding house juga bisa kok. Nah, apakah anda ingin menjadi inisiatornya? Itu tergantung anda. Selamat mencoba.

Pare, 23 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s