Suasana sidang RUA IV

Sidang RUA IV tahun 2013 HMPPI dimulai setelah seminar nasional teknologi pangan dilaksanakan. Laporan pertanggungjawaban Badan Pengurus Pusat mengawali lanjutan sidang hari itu. Pembacaan berlangsung khidmat oleh para badan pengurus. Kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab atas laporan tersebut. Sesi ini berlangsung sangat seru, beradu argumen berdasarkan idealisme metode pelaporan yang dibawa masing-masing perwakilan dari almamaternya. Pembahasan LPJ ini memakan waktu yang begitu lama karena perdebatan konten maupun analisis lebih jauh program yang dipertanggungjawabkan. Dalam analisis saya, LPJ yang begitu lama saat itu menunjukkan bahwa evaluasi program dan turunannya hingga redaksional menjadi urgensi kepentingan para delegasi. Hal ini penting untuk pergerakan mahasiswa yang kini telah tergesek arus politik praktis. Kadangkala saya mengikuti kegiatan serupa, hal seperti LPJ dan konstitusi yang begitu urgen dibahas dalam organisasi justru ingin dipercepat untuk kepentingan pemilihan ketua. Pemilihan ketua memang sangat penting, tapi jika mengindahkan hal-hal urgen yang lain sungguh mencerminkan pragmatisme tumbuh dalam tubuh organisasi. Hal itulah yang membuat saya “suka” dengan kualitas pertemuan itu.

Pembahasan AD/ART, GBHO Renstra menjadi agenda berikutnya. Urgensinya adalah membangun persatuan pemikiran mahasiswa pangan untuk lebih progresif dalam bertindak atas dasar kepedulian akan kondisi pangan bangsa ini. Salah satu langkah konkrit hasil pembahasan acuan organisasi dan rencana strategis organisasi kedepan adalah tentang persiapan menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015 yang menyebabkan keran perdagangan khususnya pangan akan dibuka seluas-luasnya. Kapitalisme telah menjajah bangsa ini, namun kita mahasiswa harus tetap berada di garis depan menghadapi hal tersebut. Dari acuan tersebut, saat ini hal itulah yang dipedomani kepengurusan baru dalam menjalankan organisasi kedepannya dan itu juga yang menjadi fokus isu teman-teman HMPPI berikutnya.

Serah terima jabatan secara simbolik kepad aketua HMPPI baru
Serah terima jabatan secara simbolik kepad aketua HMPPI baru

Setelah pembahasan-pembahasan terkait draft organisasi, maka tibalah pemilihan Ketua Umum HMPPI. Pemilihan ketua kali ini tetap berlandaskan asas musyawarah mufakat dan itu kita jalankan. Bakal calon ketua malam itu berasal dari 3 universitas yaitu, IPB, UNSOED, dan UNS. Kali ini pemilihan ketua justru tidak berlangsung ramai, mungkin karena setiap delegasi saling legowo menerima ketua yang baru, tidak ada gesek-gesekan dan lobi-lobi yang berarti. Jika dipandang positif, bisa saja karena tiap komsat sudah percaya dengan para calon, karena mengingat sistem penyeleksian calon BPP sangat ketat, sehingga para calon memiliki kapasitas yang memang tidak diragukan lagi. Namun jika dipandang negatif, pemilihan yang tidak seru itu bisa saja disebabkan karena keraguan para delegasi untuk posisi ketua, mengingat peran ketua sangat sentral dan perlu kerja yang sangat ekstra karena perannya adalah membangun HMPPI yang kini masi merangkak naik di tingkat nasional maupun internasional. Tapi apapun pandangannya, saya tetap yakin dan percaya dengan kemampuan pengurus HMPPI periode selanjutnya. Setelah musyawarah yang berlangsung tidak begitu lama, maka ditetapkanlah Muhammad Isa Dwijatmoko dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menjadi ketua HMPPI periode 2013-2015. Tongkat estafet kepemimpinan saya serahkan ke Isa secara simbolis di hadapan para delegator dengan harapan dapat membawa HMPPI bisa menjadi organisasi yang mampu menjalankan visi dan misinya secara konsisten dan berkelanjutan seperti jargonnya Peduli, Nyata, Berkelanjutan.

————————————————————–

Aksi
Aksi

Hari terakhir acara pertemuan nasional HMPPI di Palembang diisi dengan aksi pangan dan field trip ke tempat wisata di Kota Palembang. Aksi dilakukan dengan orasi, long march, dan bagi-bagi pangan lokal. Berbicara tentang kultur aksi kegiatan nasional HMPPI setahu saya baru dilaksanakan dalam periode kepengurusan 2011-2013. Aksi nasional pertama dilaksanakan di UNSOED, purwokerto dengan konsep yang sama dan yang kedua di Palembang. Pentingnya hal ini adalah membangun jiwa militan teman-teman HMPPI sehingga menurut saya hal ini merupakan cara yang cukup efektif. Hal ini pun tidak hanya direalisasikan di tingkatan nasional, di tingkat komisariat pun saya melakukan hal serupa. Contohnya di Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Mahasiswa yang baru masuk atau baru selesai ospek di jurusan langsung saya ajak aksi ke 0 km kota Jogja. Tentunya mereka shock dan tidak tahu harus melakukan apa saat aksi. Meskipun begitu, cara tersebut sangat efektif membangun antusiasme mereka terhadap himpunan tingkat prodi/jurusan untuk lebih aktif mengembangkan diri dan perannya sebagai mahasiswa. Tentunya saat mengajak mereka aksi, saya melakukan pendekatan yang lebih halus dan inspiratif kepada mahasiswa baru. Mengingat momen-momen waktu mengajak mereka aksi itu membuat saya tertawa sendiri membayangkannya, Hehehehe.

Penutupan aksi di Jembatan Ampera
Penutupan aksi di Jembatan Ampera

Aksi dimulai di depan car free day dekat rumah jabatan Walikota Palembang dengan target para pengguna jalan di sana. Para orator menyurakan argumen dan protesnya serta membakar semangat teman-teman delegasi dari seluruh Indonesia yang hadir. Militansi mulai ditunjukkan, setidaknya membangun pandangan baru terhadap mahasiswa pangan yang tadinya hanya tinggal di lab, kelas, kuliah, pulang dan seterusnya dan kini menjadi mahasiswa yang keluar dari kepompongnya bertransformasi menjadi mahasiswa yang selayaknya mahasiswa, belajar dan berjuang. Setelah orasi, aksi dilanjutkan dengan long march menuju ke Jembatan Ampera dan menutup aksi di sana dengan orasi sekali lagi. Dalam long march yang dilakukan, aksi disertai dengan pembagian pangan lokal buatan para panitia. Terbuat dari bahan baku bekatul yang dianggap bahan marginal diantara bahan pangan lainnya, namun memiliki kandungan yang sangat baik. Sehingga dijadikan bahan aksi sekaligus mengajak masyarakat untuk peduli terhadap bahan-bahan lokal yang tersedia di tanah air ini.

Lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II
Lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II

Setelah aksi, para peserta RUA diajak berjalan-jalan oleh tuan rumah ke tempat wisata di Kota Palembang. Destinasi pertama yang kami datangi adalah Museum Sultan Badaruddin II, lokasinya tepat di samping Jembatan Ampera. Dari depan tampak bangunan museumnya biasa, namun yang tidak biasa adalah bentuk tangganya yang unik dan simetris. Saya masuk ke dalam, lantainya dari kayu dan lengkap juga koleksi-koleksinya. Tidak dipungkiri bahwa Bumi Sriwijaya memang dikenal dengan peradabannya yang besar. Saya masuk lagi ke dalam, menemukan sebuah lukisan besar seorang raja yang bagi saya ini serasa familiar, namun saat itu saya kesulitan mengingat di mana saya sering melihat wajah ini. Memang benar itu Sultan Badaruddin II, tapi bukan soal itu. Wajahnya mengingatkan pada sesuatu yang sangat dekat pada kehidupan sehari-hari rasanya. Saya memutuskan berjalan ke dalam menyusuri koleksi museum. Tiba-tiba saya mendengar percakapan pengunjung yang lain tentang lukisan besar Sultan Badaruddin II. Setelah mendengar percakapan mereka, sontak saya ingat sesuatu itu. Hahahaha…. saya langsung ketawa sendiri dan kembali ke depan lukisan itu. Ternyata oh ternyata, lukisan besar itu sama dengan gambar sosok di dalam uang 10 ribu warna ungu yang sering kita kantongi. Dari situ saya baru sadar bahwa wajah di uang 10 ribu saat ini adalah wajahnya Sultan Badaruddin II.

Formasi HMPPI di stadion Jaka Baring, Palembang
Formasi HMPPI di stadion Jaka Baring, Palembang

Kami beranjak dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II menuju ke tempat wisata berikutnya. Kami dibawa oleh panitia ke salah satu stadion kebanggaan wong Palembang, Stadion Jaka Baring, kandangnya Sriwijaya FC. Stadionnya luas dan megah, meski tidak semegah di Eropa, tapi megah di tingkat nasional. Saat itu stadion lagi kosong, sehingga momen itu dimanfaatkan oleh teman-teman HMPPI untuk berpose di tengah lapangan membentuk formasi HMPPI dan dipotret dari atas bangku penonton. Idenya cukup kreatif dan tentunya hasil fotonya bagus. Senang sekali bisa melihat teman-teman HMPPI sekompak ini.

Beranjak dari Stadion Jaka Baring, panitia menggiring kami ke tempat yang tentunya tidak boleh dilewatkan oleh para pelancong darimanapun asalnya. Apa itu???? Tentunya tempat belanja oleh-oleh khas Palembang. Kami dibawa ke pusat oleh-oleh khas Palembang yang cukup terkenal yaitu kedai Mpek-mpek Candy. Mengingat saya merasa diri saya adalah seorang food traveler, maka dari itu hal ini tentu merupakan momen yang sangat penting untuk menjalankan profesi “liar” saya. Tidak hanya Mpek-mpek yang saya cari tapi satu makanan yang katanya sudah mulai susah dicari, yaitu Mi Celor. Makanan ini sejak sampai di Palembang sudah saya niatkan untuk makan makanan khas ini. Akhirnya kesampaian juga untuk makan Mi Celor dan Mpek-mpek di kota asalnya, Palembang.

Panitia lokal RUA Unsri Palembang
Panitia lokal RUA Unsri Palembang

Ketika berjalan di tengah keramaian teman-teman HMPPI, saya kadang berpikir selama ini dalam kepengurusan saya begitu banyak tim-tim hebat yang saya temui, mulai dari RTP, FBQ, hingga RUA saat ini. Saya dipertemukan oleh mereka mahasiswa-mahasiswa yang hebat dan solid. Merekalah yang sepatutnya diberi apresiasi atas keberhasilan acara-acara HMPPI selama ini. Kali ini saya bertemu panitia-panitia hebat dari Universitas Sriwijaya yang sampai saat ini saya tidak lupa dengan wajah-wajah imut mereka. Hehehe. Terkadang untuk mengingat teman-teman satu persatu dan mengakrabkan diri dengan tim yang akan saya ajak kerja sama, ada saja selalu hal-hal khas dari orang itu yang harus saya munculkan hingga bisa saya ingat dan kesankan dalam pikiran saya. Banyak sekali hal berkesan dari panitia di Unsri. Salah satu contoh yang unik adalah suara Antaria Marsega yang seksi. Kalau wanita tutup mata mendengar suaranya, pasti terkesima. hihihi, dan banyak hal-hal lainnya yang membuat mereka seru. Lebih utama tentunya adalah solidaritas dan keramahan mereka dalam mensukseskan acara nasional ini. Semoga mereka kompak selalu dan memaknai setiap kerja mereka sebagai proses pembelajaran dan anggota tim mereka seperti keluarga sendiri. Saya selalu kagum dengan teman-teman HMPPI yang begitu solid di setiap daerah dan itu menjadi inspirasi saya untuk terus belajar menjadi pemimpin dan membangun tim yang solid di berbagai situasi yang akan saya hadapi berikutnya. Sesi field trip bagi peserta HMPPI di Palembang berakhir, selanjutnya peserta kembali ke Indralaya dan istirahat sebelum beranjak pulang esok harinya.

BPP HMPPI 2011-2013
BPP HMPPI 2011-2013

Hari yang dinanti tiba. Hari dimana para peserta akan kembali ke kampungnya masing-masing untuk menyampaikan dan merealisasikan komitmen yang telah dibicarakan di Palembang. Dimana ada pertemuan, di situ ada pertemuan lagi. Hal itu yang saya rasa perlu ditanamkan dalam benak agar tidak perlu ada kata perpisahan. Karena sejujurnya hal ini yang saya khawatirkan sejak lama setelah mengabdi di HMPPI. Takut berpisah dengan keluarga yang telah dibangun bersama ini. Sesekali saya mulai merenung dan memikirkan bagaimana bentuk perpisahan itu nantinya. Saat itu tiba, di pagi hari yang cerah, bus-bus penjemput peserta menunggu di depan penginapan. Sebelum para peserta beranjak, tentunya saya meminta kepada para Badan Pengurus Pusat demisioner untuk berkumpul sebelum mereka berangkat. Hal ini sekedar mengucap sepatah dua kata sebelum mereka kembali dengan kesibukan masing-masing dan tidak akan lagi disibukkan dengan rapat-rapat online dan pesan-pesan saya melalui sms dan message saya di media sosial yang kerap kali mungkin dianggap menyebalkan dan mengganggu istirahat malam mereka. Berat sekali bibir ini mengucap kata pisah kepada mereka yang telah berjuang bersama selama dua tahun yang meski jauh namun tampak begitu dekat. Setelah sepatah dua kata akhirnya kami berpisah, berpelukan, dan saling berjabat. Tak ada pesan berarti saat momen perpisahan itu karena bibir ini telah kaku dan tak bisa berkata apa-apa. Saya memutuskan pulang setelah para peserta yang lain pulang, selain itu karena juga masih akan mengisi sharing untuk mahasiswa angkatan baru THP Universitas Sriwijaya di siang harinya. Bus perlahan berjalan, mereka melambaikan tangan dari dalam. Pikiranku tidak karuan, hanya ada penyesalan yang tertinggal.

BPP sayang
BPP sayang

Setelah mereka pergi, mata ini mulai berkaca-kaca, air mata mulai berlinang, sedikit demi sedikit terurai, hingga tak tertahankan. Kesedihan luar biasa menimpa karena mengingat masa-masa perjuangan selama dua tahun bergelut dengan hati dan materi yang menghasilkan keluarga yang begitu kuat di Badan Pengurus Pusat HMPPI yang saya pimpin. Tetesan kesedihan ini adalah tanda bahwa perjuangan ini sungguh-sungguh berbuah kekeluargaan yang erat melewati garis batas hubungan formal organisasi semata, tapi hubungan ini adalah hubungan yang tak dapat dijelaskan keindahannya. HMPPI adalah ruang perjuangan, tempat saya belajar menjadi pemimpin yang lebih bertanggung jawab. Banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari keluarga saya di sana yang membuat saya lebih kuat dan lebih mampu memandang secara kritis berbagai hal. Mungkin orang lain tidak seberuntung saya, bisa berproses di HMPPI yang merupakan organisasi yang tidak begitu besar namun menjadi kelas yang sangat inspiratif bagi kaum-kaum yang haus akan intelektualitas seperti saya. Dari sana saya mendapat pelajaran bahwa dimanapun saya berada haru mempertanggungjawabkan amanah yang diemban hingga akhir dan berjuang untuk terus lebih baik dalam setiap proses mengemban amanah tersebut. Maka beruntunglah saya ikut organisasi.

Sungguh nikmat karunia Tuhan tidak tertandingi, menciptakan pertemuan dan perpisahan, sedih dan gembira, serta keluarga. Bumi Sriwijaya adalah tanah pertama saya menginjakkan kaki di Sumatera, tanah pertama merasakan impian saya terwujud untuk ke Sumatera, tanah pertama yang saya injak demi menepati janji kepemimpinan untuk teman-teman HMPPI di Sumatera. Tanah yang membuat saya semakin yakin bahwa impian yang didasari kesungguhan itu pasti akan diwujudkan seperti mimpi saya beberapa tahun yang lalu ingin menginjak Sumatera, dan tanah tempat saya mengakhiri jabatan kepemimpinan yang sungguh berpengaruh besar dalam hidup saya. Tanah di mana memiliki sejarah peradaban yang paling masyhur di Indonesia, Sendrijaja namanya dalam naskah La Galigo. Tanah emas yang kejayaannya dikenal seantero nusantara dan dunia di kala itu. Sampai berjumpa lagi Palembang. the end.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s