Suatu hari saya bercita-cita akan menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Hal itu terwujud di penghujung tahun 2013 tepatnya di bulan November. Momentum tersebut bertepatan dengan pertemuan nasional yang bertempat di Universitas Sriwijaya, Indralaya. Setibanya di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II disambut cuaca yang panas menyengat ditambah lokasi kota dan Universitas Sriwijaya yang tidak tahu entah ke mana jalannya. Sambutan tersebut tidak membuat kekaguman saya terhadap bandara ini hilang. Memasuki bandara, langsung saya teringat kata teman saya sebelumnya bahwa bandara ini adalah yang terbersih di Indonesia. Hal itu terbukti melihat kebersihan dan kerapian bandara di bagian dalamnya, membuat saya betah berjalan menelusuri setiap sudut ruangnya. Diperkuat lagi dari adanya artikel dari National Geographic yang menjelaskan bahwa bandara ini dianugerahi sebagai bandara tersehat di Indonesia oleh Menteri Kesehatan RI karena kebersihannya. Tak sabar menunggu teman-teman Unsri datang menyambangi, saya memutuskan untuk “ngebolang” menelusuri jalan kota Palembang menuju rumah sanak keluarga di daerah Griya Agung. Berbekal google map dan tanya-tanya akhirnya ketemulah jalur lokasi tujuan saya. Berkeliling dan transit di beberapa halte selama satu jam dengan transportasi unggulan kota Palembang yaitu Trans Musi, sangatlah menyenangkan. Kalimat yang sering kubaca Get lost if you want to find yourself, selalu terngiang ketika melakukan perjalanan sendiri di berbagai kota. Saya harap dengan “ngebolang” di waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota Palembang membuat saya bisa beradaptasi lebih cepat di pulau rempah ini, Sumatera.

source: clinicoustic.blogspot.com
source: clinicoustic.blogspot.com

Transit semalam di rumah keluarga, esok harinya perjalanan misi utama di mulai, menuju ke Universitas Sriwijaya, kampus Indralaya. Ternyata oh ternyata, kampus terpadu Universitas Sriwijaya terletak jauh dari kota Palembang. Membutuhkan waktu sekitar satu jam mengendarai kendaraan pribadi ke sana, itupun jika tidak macet karena jalur menuju Indralaya juga merupakan jalan poros antar provinsi menuju ke daerah sumatera yang lain. Kata teman-teman di sana, kemacetan sering terjadi biasanya karena truk pengangkut batu bara terbalik atau ada kecelakaan yang terjadi, ngeriiii….

Sampailah saya di kampus Universitas Sriwijaya, kampus mahasiswa beralmamater kuning mentereng. Pertama kali sampai, teringat dengan desas desus bahwa ini adalah kampus terluas di Asia Tenggara, benarkah itu? kita lihat setelah ini. Sesampainya tepat di samping ukiran besar nama Unsri, Imam sudah menunggu dengan motor maticnya. Imam yang merupakan ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (HIMATETA) Unsri ini mengajak langsung menuju ke Fakultas Pertanian. Menurutku, perjalanan dari pintu gerbang kampus menuju ke Fakultas Pertanian ini cukup lama rasanya, atau hanya perasaanku saja, entahlah. Sesampainya di fakultas, suasana tampak ramai dengan mahasiswa yang mengerjakan tugas dan berdiskusi. Saya tampak jadi orang aneh diperhatikan mahasiswa. Boleh jadi tampak seperti orang aneh karena mana ada mahasiswa Unsri bawa tas punggung dan tas jinjing besar ke kampus, emangnya kampus hotel buat nginap. Setelah mengalami kejadian tampak seperti orang aneh itu, untungnya Ilham datang menyambangi dan menemani saya ngobrol. Ilham adalah mantan ketua HIMATETA sebelum Imam, seangkatan dengan saya masuk tahun 2009. Kamipun baru saja bertemu setelah sekian tahun berinteraksi hanya lewat internet. Berbincang sebentar, Ilham mengajak saya mengikuti acara seminar hasil pertanian mahasiswa jurusan THP. Tanpa banyak basa basi, saya langsung ikut ke seminar tersebut. Sesampainya di ruang seminar, kejadian lagi untuk kedua kalinya tampak seperti orang aneh di ruang yang lebih formal celakanya. Bahkan mahasiswa yang hendak presentasi di seminar pun tampak heran melihat keberadaan saya, lebih celakanya lagi bangku kosong tinggal beberapa dan adanya di depan semua. Dengan terpaksa saya duduk di depan dan berada di samping meja snack yang hendak dibagikan, jadilah saya stranger seutuhnya di ruangan itu.

Setelah beradaptasi dengan berbagai sikap-sikap aneh saya tadi, masuklah sesi seminar dan saya mulai terhanyut untuk menyimak lebih dalam hasil penelitian kawan-kawan calon sarjana itu. Setelah disimak baik-baik, sepertinya saya agak mengenal sosok salah satu penyaji tersebut. Setelah mengingat-ngingat, ternyata dia adalah salah satu finalis Indonesian Food Bowl Quiz Competition 2013 yang diadakan di UGM di bulan Mei yang lalu. Irfan adalah finalis yang mewakili regional Sumatera bersama rekan satu timnya, ternyata kami berjodoh bertemu di suasana sidang salah seorang mahasiswa berprestasinya THP Unsri. Saat seminar saya memilih diam meski ada beberapa pertanyaan yang timbul di benak saya tentang topik yang disajikan karena pertama, saya bukan mahasiswa sana dan nanti dikira sok dan akan makin memperkeruh suasana kalau dosen-dosennya tahu saya bukan mahasiswa sana dan yang kedua, saya juga pernah mengalami hal yang sama beberapa tahun lalu jadi tahu rasanya kalau begitu banyak pertanyaan yang diajukan peserta apalagi dosen, jawaban dari pertanyaan saya nanti saya cari sendiri di literatur lainnya, heheh.

Selanjutnya saya diantar menuju penginapan tempat para peserta pertemuan nasional HMPPI diinapkan nantinya. Saya diantar Imam ke sana menggunakan motornya, dan sekali lagi saya merasakan bahwa jarak tempuh dari Fakultas Pertanian menuju ke tempat penginapan itu lumayan lama dalam cakupan sebuah universitas. Tempat menginap kami adalah di rumah jabatan petinggi kampus yang jarang juga ditempati oleh pemiliknya, namun berada dalam kompleks universitas. Kesan itulah yang meyakinkan saya bahwa memang Universitas Sriwijaya ini kampusnya sangat luas. Tiap bangunan jaraknya sangat jauh, capek pastinya kalau jalan kaki. Ditambah lagi baru saja dilakukan pembukaan lahan di sana untuk pembangunan infrastruktur kampus. Sepertinya memang dulunya kampus ini hutan. Kata teman-teman Unsri, di bagian belakang kampus masih adalah lahan kebun milik kampus yang begitu luas. Makin saya yakin bahwa memang kampus ini tidak aneh jika dikatakan kampus paling luas di Asia Tenggara. Untuk mengakses dari pust gedung perkuliahan ke rumah jabatan di belakang kampus pun biasanya mahasiswa menggunakan angkot atau bus kampus yang memang tersedia lalu lalang di dalam Unsri.

Pengalaman hari pertama saya rasa cukup untuk membuat saya mengenal lebih dekat dengan suasana Palembang dan kampus Universitas Sriwijaya. Sebelum mengakhiri cerita pertama ini, masih ada kejadian lain yang merupakan bagian dari adaptasi saya di Unsri, utamanya dengan para panitia tuan rumah pertemuan nasional. Ceritanya cukup lucu. Setibanya di penginapan, dua rumah yang akan ditempati masih sementara dibereskan dan dibersihkan. Salah satu alasan yang membuat saya datang lebih awal 2 hari daripada teman-teman HMPPI yang lainnya adalah melakukan perkenalan dan berkoordinasi lebih dekat dengan panitia lokal, karena sejauh ini persiapan beberapa bulan sebelumnya kami hanya mengadakan pertemuan melalui internet alias rapat online. Saat mengadakan bersih-bersih, saya bersama teman-teman akomodasi mengecek rumah tempat penginapan tersbut. Kasur dan bantal sudah digelar, kondisi sudah mulai rapi, dan aliran air telah dicek. Tiba suatu waktu hari itu, keran air di salah satu rumah lupa dimatikan. Saluran pembuangannya di lantai pun tersumbat dan air mengalir menuju ruang dimana kasur telah digelar. Terjadilah kejadian yang membuat panik panitia. Semua kasur basah dan panitia berbondong-bondong gotong royong membereskan, menjemur, memeras dan mengepel lantai. Kebetulan saya berada di TKP dan langsung ikut membantu panitia membereskan kasur-kasur basah tersebut. Dalam pikiran saya, mungkin kejadian ini bisa membuat saya mengenal lebih dekat panitia tuan rumah nasional ini. Walhasil tepat, setelah kejadian ini komunikasi lebih terbangun dan saya bisa mengenal satu per satu wajah panitia dan bisa berinteraksi lebih aktif untuk mensukseskan pertemuan nasional di Universitas Sriwijaya ini. Hari itu cukup berkesan, Sumatera menyambut dengan anak-anak emasnya. Budak-budak Palembang nan lihai dan kooperatif, tampak dalam benak saya pertemuan nantinya akan sukses semanis senyuman para panitia saat pertama kali bertegur sapa dalam acara penjemuran kasur-kasur basah hari itu.

bersambung…….

2 thoughts on “Memory of Palembang #Part1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s