Tenggelamnya Kapal Van der Wijk adalah film pertama yang saya tonton di tahun 2014 bersama sahabat inspirasi saya Louie Buana. Sangat kebetulan kami baru saja kembali dari negeri Belanda dan banyak hal yang kami dapatkan sepulang dari sana. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk punya sedikit keterkaitan dengan inspirasi yang saya dapatkan dari negeri kincir angin itu meski agak memaksa tapi inspirasi tetaplah inspirasi, lahir dari sentuhan hati, diramu dengan cinta, dituangkan melalui tulisan. Inilah jadinya…..  *Apasih…….

source: tribunnews.com
source: tribunnews.com

Sangat menarik film ini, apalagi bercerita tentang pertautan dua kebudayaan besar di nusantara yaitu Minang dan Bugis. Hayati dan Zainuddin, kisah cinta mereka sungguh amat menyentuh, penuh intrik dan syair memukai. Sebelumnya, kisah Tenggelamnya Kapal Van der Wijk ini telah mendapat kesan tersendiri dalam hidup saya. Saat SMP, novel masyhur karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang terkenal dengan nama HAMKA ini selalu terngiang kala belajar Bahasa Indonesia di kelas, tapi waktu itu mata pelajaran hanyalah mata pelajaran, terlintas di pikiran dan isinya dipersiapkan untuk bahan ulangan harian. Berselang 8 tahun, kini ceritanya tidak lagi menyoal tentang nilai di kelas, tapi nilai kehidupan yang harus dipetik dari karya besar HAMKA untuk inspirasi masyarakat berbudaya di negeri ini.

Menurut Louie, unsur Bollywood yang dipaksakan masuk ke dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk ini mengganggu alur cerita karya legendaris HAMKA. Selain itu ada pandangan menarik dari Louie soal film ini, yaitu terkait kritik sosial tentang etnosentrisme yang menyebabkan diskriminasi terhadap darah campuran. Itu menurut pendapat Louie, tapi saya punya sedikit penangkapan dari sudut pandang berbeda dari fim ini. Sedikit penyesalan sebenarnya saat ditanya Louie terkait nilai apa yang didapat setelah nonton film ini, saya menjawab langsung soal kisah cinta. Ehhh…. langsung deh ke topik yang sensitif, cintaaahhhh…. -___-! Skip!

Setelah nonton kisah Zainuddin dan Hayati dalam film ini, selain kisah cintanya yang menarik ada hal lain yang membuat saya tersentuh. Saya tersentuh dengan sikap rantauan para tokoh yang ada di dalamnya, terutama Zainuddin. Zainuddin yang merantau demi menuntut ilmu dan mencari tahu kampung halaman ayahnya telah merasakan pahit dan perihnya hidup. Harapan membuat Zainuddin tegar. Di tanah minang Zainuddin menaruh harapan besar terhadap cinta Hayati, namun takdir belum mempertemukan mereka di sana saat keluarga Hayati sepakat menerima lamaran Aziz. Zainuddin sempat patah semangat dan sakit-sakitan apalagi ketika dijenguk oleh Hayati dan melihat tanda “telah dimiliki orang” di tangan Hayati yang sangat dicintainya. Hadirlah Bang Muluk, sahabat yang menyemangati Zainuddin, menyadarkan Zainuddin hingga memiliki harapan dan semangat baru untuk memperbaiki hidup. Merantaulah Zainuddin dan Muluk ke tanah Jawa untuk melanjutkan hidup barunya yang penuh harapan dengan menjadi seorang penulis.

Di tanah rantauan, Zainuddin menjadi seorang penyair terkenal, punya rumah bak istana, punya mobil, dan pelayan. Segala harta dimilikinya, namun dia masih tampak kesepian, masih menyimpan kepedihan atas pengkhianatan cinta Hayati terhadapnya. Cinta adalah cinta, tersimpan di lubuk hati terdalam seorang insan. Suatu hari Aziz dipindahtugaskan ke Surabaya, hayati pun turut mendampinginya. Beberapa bulan di sana, Aziz mengalami kebangkrutan akibat sifat hedonnya yang suka mabuk dan berjudi, mereka bangkrut dan jatuh miskin. Sikap materialistis seorang Aziz mengantarkannya menemui Zainuddin untuk meminjam uang. Tanpa pertimbangan berarti Zainuddin meminjamkan uang kepada Aziz meskipun pernah diperlakukan tidak baik saat di tanah minang. Zainuddin memiliki jiwa sosial yang tinggi terutama berbuat baik untuk sesama rantauan.

source: http://alluva.files.wordpress.com/
source: http://alluva.files.wordpress.com/

Zainuddin yang masyhur di tanah rantauan tidak serta merta menjadi seperti itu seorang diri. Zainuddin tentu dibantu oleh orang-orang sesama rantauan di Jawa. Hal seperti ini yang saya tangkap dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk meskipun tidak digambarkan secara detail. Beberapa komponen penting pendamping Zainuddin dalam film ini cukup representatif untuk memberikan pandangan terhadap sisi lain film ini, yaitu tentang merantau. Bang Muluk menggambarkan seorang sahabat rantau yang setia memberikan semangat dan mendampingi dikala susah maupun senang. Muluk selalu hadir dalam kesendirian Zainuddin atas pengkhianatan cintanya kala itu. Bersama Muluk, Zainuddin bertemu dengan redaktur majalah di Batavia. Kerja keras, kejujuran dan keterampilan Zainuddin mengantarkannya memimpin kantor majalah di Surabaya yang menjadi tempat pertemuannya kembali bersama Hayati.

Dalam cerita ini, Zainuddin pergi jauh dan mengalami fase adaptasi dengan berbagai kebudayaan berbeda, bertemu dengan orang-orang baru, dan mengalami pasang surut kehidupan yang keras. Beberapa sikap yang ditunjukkan Zainuddin adalah ketegasan orang Bugis-Makassar yang ditonjolkannya pada janji dan kesetiaannya,  sikap persaudaraan sesama rantau yang ditunjukkan Zainuddin sangatlah elok ditonton. Bagaimanapun, Zainuddin telah mengalami pahitnya tanah rantauan, namun tetap memegang teguh janjinya. Zainuddin telah terombang-ambing oleh getirnya kehidupan, namun dia tetap menyadari akan pentingnya berlaku baik terhadap sesama rantau karena apa yang mereka alami tidak jauh beda seperti apa yang dia alami.

Sekali lagi, meski tidak mendetail tentang rantau, namun sisi inilah yang kutangkap dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Batin saya luluh dan seketika mengingat kenangan di Belanda saat menonton film ini. Bisa dikatakan sensitif, karena kenangan yang sangat melekat di Belanda adalah tentang orang-orang perantau yang saya temui, menginspirasi dan baik hati. Merekalah Dr. Firdaus, Dr, Dian, Dr. Ruslin, Kak Abbas, Kak Dwi, Kak Narti, Kak A. Yani dan Kak Yanti, Mbak Dhani, dan para perantau di Negeri Belanda. Mereka telah banyak membantu dan memberikan pelajaran bahwa berharganya keluarga di tanah rantauan, berharganya teman setia di negeri orang. Teman yang membantu dalam pencapaian harapan, menjaga sikap dan mengejar cita. Seperti Zainuddin yang ditemani Bang Muluk, dipertemukan dengan orang-orang baik hingga berkehidupan lebih baik. Tak menyangka bisa dipertemukan dengan mereka, yang begitu baik rela meluangkan waktunya demi kami pemuda biasa yang mencari pengetahuan tentang karya pendahulunya.

Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, entah itu oleh orang yang sama maupun oleh orang yang berbeda. Pikirpun melayang,  mungkin kebaikan yang kami dapatkan dari kakak-kakak di Belanda merupakan balasan dari kebaikan kami di masa lalu. Demikian pula dengan kakak-kakak di Belanda, mungkin pernah mendapatkan kebaikan serupa di tanah rantauan dari orang lain yang pernah mereka temui, sehingga melakukan hal yang sama terhadap kami. Bagaimanapun itu, dari mereka kami belajar, bahwa jika berhasil nanti dan memiliki kesanggupan, kami akan berlaku baik terhadap orang lain seperti laku baik mereka pada kami. Seperti Zainuddin yang berlaku baik terhadap sesama rantau minang di tanah Jawa, berlaku baik kepada Aziz yang sebelumnya tidak baik terhadapnya, serta mendedikasikan hidupnya di tanah rantau untuk kegiatan yang bersifat sosial dan meringankan beban orang lain.

Belajar dari orang-orang yang merantau, bahwa kebaikan itu kelak akan dibalas dengan kebaikan, entah oleh orang yang sama maupun dari orang lain. Dari rantau kami belajar bahwa keluarga adalah lilin di tengah kegelapan yang menerangi jalan kami menggapai cita di negeri orang. Dari rantau kami belajar bahwa selalu ada rindu yang menghiasi mimpi indah di tanah rantauan. Rindu pada keluarga, rindu kampung halaman. Dari rantau saya belajar, bersabar, berbuat baik pada orang lain, memegang teguh janji dan kerja keras menggapai mimpi.

Keluarga Baru di Belanda
Keluarga Baru di Belanda

Terima kasih atas inspirasi kakak-kakak di Belanda, Dr. Firdaus, Dr, Dian, Dr. Ruslin, Kak Abbas, Kak Dwi, Kak Narti, Kak A. Yani dan Kak Yanti, Mbak Dhani, dan para perantau di Negeri Belanda serta Pak Sirtjo dan Bu Betty. Mohon maaf jika tulisan ini sedikit tidak nyambung, karena masih jetlag atau mungkin kenangan Belanda masih sangat kuat melekat sehingga hal kecil yang menyoal Belanda, selalu ingat akan kalian, keluarga baru saya di sana. Jika pertemuan kemarin hanyalah sebuah mimpi indah yang sekilas berlalu, maka dengan harapan penuh sekali lagi saya akan memastikan bahwa yang kemarin itu bukan mimpi. Ijinkan saya bertemu kalian lagi di Belanda.

Yogyakarta, 8 Januari 2013

Beste,
Muhammad Ulil Ahsan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s