Saya lahir tahun 1991, dimana tahun-tahun awal menginjakkan bumi ini adalah moment terindah yang penuh dengan kebahagiaan. Masa SD diwarnai dengan kreativitas, pelajaran musik daerah, upacara bendera, dan sepak bola. Si komo dan ulil temannya turut mewarnai, serta Kak Seto yang masih tampak muda dan segar bugar. Film kartun Jepang yang bertebaran di TV menjadi idola di masa itu.

Masa sekolah menengah tetap dilalui dengan hal-hal yang inda, lantunan musik tradisional Bugis masih terdengung ramai di telinga. Pameran pendidikan dan kebudayaan disemarakkan, cerita dan permainan tradisional masih menjadi kesenangan. Celana pendek di atas lutut dan kaos kak melebihi tinggi setengah betis. Masa sekolah menengah atas, tampak suasana mulai berubah, kedewasaan mulai merambah. Tanggung jawab semakin besar, tetapi kultur masih aman sentosa. Kerlingan budaya lokal masih tampak indah. Pramuka masih menjadi populer untuk kepemudaan. Gadget masih belum tampak, modernisasi belum merajai masa hidup sampai saat itu.

Berselang beberapa tahun, jedah SMA menuju perguruan tinggi serasa menjadi sebuah jembatan singkat yang dilalui. Era mahasiswa, merasakan adem ayemnya Jogja dengan indah dan nyamannya suasana jalanan, ramah masyarakat, tutur bahasa dan sopan santunnya. Beberapa tahun terlalui tiba-tiba arus deras terasa melanda, bagai ada pecahan lempeng di dasar bumi membuatnya menghempas daratan dengan dahsyat. Modernisasi menabrak peradaban.

Image
source: mahdianto.com

Saya lahir tahun 1991. Ketika berbicara tentang era tahun 90an tepat di masa kecil hingga beranjak dewasa, kehidupan begitu nyaman sangat tanpa beban, bukan karena kodrat anak kecil, tetapi lingkungan dan kebudayaan masih sangat adem bak angin sepoi yang meniup wajah dikala sore di bawah pohon jambu. Sangat bahagia rasanya kembali berangan tentang masa itu. Saat ini kurasakan adanya perubahan yang mendadak, secara tiba-tiba atau mungkin terlalu cepat. Seperti virus yang menjalar, jauh berbeda seperti kenangan masa lalu. Korupsi menjadi buah bibir, hal yang biasa terngiang di telinga. Olok-olokan menjadi nada penabuh gendang telinga, bukan nada musik daerah yang nyaman ketika di masa yang lalu. Saya lalu berprasangka dan kadang berpikir bahwa era yang kulalui ini unik, berbeda dan hanya dialami oleh generasi tertentu baik itu di masa lalu maupun masa setelahku. Karena dalam hidup dan perkembangan masyarakat memang memiliki fase yang berbeda di masing-masing kehidupannya. Tiap era masyarakat memiliki tantangannya masing-masing, termasuk era yang kualami saat ini. Seakan era ini adalah era di ujung peradaban. Era abrasi kebudayaan besar-besaran.

Jika itu dianggap prasangkaku saja, saya tetap percaya bahwa generasi 90an generasiku ini adalah generasi yang tercipta dan terbentuk di atas lunturnya nilai-nilai budaya yang ada saat ini. Kami adalah generasi yang lahir dengan menatap jelas lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa masa depan, yang akan membawa perubahan yang lebih baik untuk negeri ini, dan yang akan mengantarkan Indonesia menjadi negara sejahtera adil dan makmur. Disamping itu, kami adalah generasi yang menerima suapan sejarah yang telah diutak atik untuk berbagai kepentingan, kami juga adalah generasi yang dimana telah didukung oleh semesta untuk menyadari bahwa sejarah bangsa kami adalah bukan sejarah yang sebenarnya. Oleh karena itu, kami adalah generasi yang diamanahi tanggung jawab untuk memperbaiki susunan puzzle dan menempatkan kepingan tersebut pada tempatnya. Kita lihat saja nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s