Ada beberapa hal yang mungkin belum sempat terealisasi ketika menutup kepengurusan di Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia (HMPPI), sebuah organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang pangan dan gizi Indonesia. Ide sangat menumpuk di pikiran ini namun begitu besarnya keterbatasan waktu dan materi, sehingga ide itu belum semuanya teraktualisasi.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” – Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Sama halnya ide, untuk mengikatnya agar tetap terpatri maka perlu diikat dengan menuliskannya. Tulisan ini mencoba mengikat ide yang terpikirkan tentang sebuah program yang belum sempat terealisasikan dalam kepengurusanku di HMPPI. Harapannya dapat dibaca oleh penerus berikutnya atau menginspirasi pembaca yang gak sengaja nge-klik keywords tulisan ini yang muncul di laman om google.

—————————————————-

Ini berkaitan tentang pembelajaran mahasiswa yang bergelut di organisasi bidang pangan dan gizi, maupun kemanusiaan. Berbicara tentang kepedulian terhadap kondisi masyarakat khususnya yang berkaitan dengan bidang pangan dan gizi perlu kepekaan, analisa, pemahaman, diskusi, dan eksekusi. Dalam organisasi, kadang kita jumpai program audiensi dengan organisasi/instansi yang berkaitan dengan organisasi untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi dengan mengambil pelajaran berharga dari apa yang dimiliki oleh organisasi/instansi yang kita kunjungi. Sharing dan diskusi adalah acara utama dalam audiensi. Audiensi sifatnya belajar sesuatu yang berguna untuk kita dan belum kita miliki tapi dimiliki orang lain dan membangun ikatan dalam pencapaian tujuan bersama, singkatnya seperti itu. Namun sebelum audiensi dilakukan, perlu pemetaan kebutuhan dengan menganalisis masalah yang dihadapi organisasi dan memperhatikan misi organisasi yang kita jalani.

Melihat masalah pangan dan gizi yang merajalela dan menjadi rutinitas seakan tak ad ahentinya saat ini membuat kita prihatin. Sebagai mahasiswa yang punya idealisme, semangat dan banyak bicara, ini harusnya tidak bisa dibiarkan. Contoh masalah yang menjadi topik analisa di negeri ini adalah soal bencana. Ada dua bencana yang perlu diangkat dalam tulisan ini yaitu bencana alam dan bencana korupsi. Kedua hal ini sifatnya general namun tentu ada kaitannya dengan pangan.

Bencana Alam

Negeri kita, Indonesia sangatlah unik. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia adalah kepingan-kepingan atlantis yang hilang, negara dengan gunung merapinya aktif paling banyak, terdiri dari ribuan pulau-pulau yang dikelilingi lautan yang luas, dan lain-lain. Potensi bencana alamnya begitu besar, dari tsunami hingga gunung meletus, dari banjir bandang hingga tanah longsor, dan bencana wabah penyakit. Ketika bencana terjadi, masyarakat banyak membutuhkan bantuan utamanya akses pangan untuk memenuhi kebutuhan para korban bencana. Mempelajari berbagai kejadian bencana alam di Indonesia, banyak kendala yang dialami pengungsi bencana. Daerah yang terisolasi hingga jumlah pasokan pangan yang masuk sering melanda. Selain itu yang tidak kalah penting adalah kualitas yang mencakup zat gizi juga sering menjadi kendala pengungsi. Sebagai “anak pangan, merasa berdosa ketika tidak mampu mengetahui minimal kebutuhan pengungsi untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat baik zat gizi maupun kuantitasnya. Merasa gak ada gunanya belajar pangan kalau daerah sekitar kita ada bencana, ada pengungsian, tapi gak tau harus bantu apa dan gimana terkait pangan mereka, atau minimal harus tau dan menganalisis kondisinya.

sumber: http://mymoen.files.wordpress.com/
sumber: http://mymoen.files.wordpress.com/

Indonesia adalah negeri sejuta bencana dengan kondisi alam yang sangat unik ini. Bencana alam harusnya mendapat perhatian yang besar jika berbicara tentang organisasi kemahasiswa yang bergerak dalam hal kepedulian atau kemanusiaan. Tentunya untuk mendukung kepedulian tersebut perlu pembelajaran dan kerja sama pihak yang berkaitan dengan hal tersebut , oleh karena itu, audiensi dengan pihak yang “banyak tahu” dan berpengalaman soal bencana alam perlu dilakukan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan PMI dapat menjadi organ pembelajar untuk kita dalam mencari tahu tentang kebutuhan pangan di pengungsian atau korban bencana alam.

Bencana Korupsi

Selain bencana alam, bencana yang sangat merugikan masyarakat Indonesia adalah korupsi. Di setiap sudut daerah di Indonesia selalu ada kasus korupsi. Apa hubungannya dengan pangan? Ini adalah salah satu topik menarik. Sedikit bercerita dan kita pakai analisa sederhana. Dengan penduduk ratusan jiwa ini, kebutuhan pokok apa yang harus terpenuhi bagi setiap individu yang berjumlah sekitar 240juta tersebut? ya, tentunya makanan. Memperhatikan pemberitaan di berbagai media, kasus korupsi banyak merambah bidang finansial atau bidang lainnya, tapi sangat jarang mereka membahas atau terungkap kasus bidang pangan. Biasanya yang diberitakan soal maling ayam seekor, maling daun singkong, maling jagung 2 biji, atau yang lainnya. Namun masih segar dalam ingatan tentang korupsi daging sapi, tapi itu tidak banyak mempersoalkan tentang “daging”nya, yang dipersoalkan soal “politikusnya”, padahal berapa besar kerugian negara soal pangan ini. Itu tentang impor daging yang merupakan salah satu kebutuhan masyarakat kita. Banyangkan, dengan penduduk sekitar 240juta jiwa, berapa banyak kebutuhan pangan yang perlu diimpor? daging hanya sebagian kecil bahan pangan. Bagaimana dengan bawang? gandum? jagung? garam? hingga beras?, semua itu impor men. Terbayangkah kita berpikir ke arah seperti kasus daging? berapa uang negara yang melayang jika di setiap sektor ada “korupsi”nya?

sumber: http://3.bp.blogspot.com/
sumber: http://3.bp.blogspot.com/

Kondisi masyarakat sangat ini begitu sensitif akibat lonjakan harga yang bertubi-tubi, perasaan rakyat diombang-ambing. Kekurangan pasokan dalam negeri berdampak kebijakan impor bahan pangan untuk stabilisasi harga. Namun, sering adanya tengkulak yang mempermainkan harga membuat konsumen resah. Saat pemerintah mengklaim harga pangan turun, rakyat merasakan sebaliknya. Sensitifitas ini berakibat buruk bagi karakter masyarakat. Tidak adanya kejelasan kebijakan dan realitas masyarakat menimbulkan banyak kecurigaan terutama adalah kebijakan impor hingga tenderisasinya untuk berbagai bahan pangan dalam mencukupi kebutuhan 240an juta jiwa ini. Karena ini hanya anlisis perpektif penulis, maka perlu banyak belajar dan tahu bagaimana sebenarnya kebijakan ini, dan abagaimana agar langkah mengantisipasi semakin besarnya korupsi bidang pangan ini terjadi. Untuk tahu itu maka perlu melakukan audiensi dengan pihak yang lebih tahu, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau lembaga terkait masalah tersebut.

—————————————————–

Menarik jika berbicara ide, terbata-bata saat aksi. Begitulah mahasiswa, namun dibalik keter”bata”an tersebut terselip semangat untuk terus berbuat demi idealisme. Program ini hanyalah secuil ide yang mungkin belum sempat terealisasi dalam masa jabatan ini. Semoga dapat terealisasi di posisi yang lain atau dapat direalisasikan oleh penerus di kesempatan berikutnya tentunya dengan perspektif mereka yang lebih matang. Audiensi penting sebagai pembelajaran dan menjaring koneksi dalam pencapaian utama organisasi. Audiensi yang sifatnya resmi organisasi penting dilakukan, namun lebih penting lagi audiensi individu dalam organisasi tersebut untuk memperkaya ide, gagasan, dan kekuatan internal organisasi dalam menganalisis dan mengeksekusi kebijakan untuk pencapaian tujuan. Negeri ini punya berjuta masalah, namun dengan ide cemerlang para pemudanya, mudah mengatasi masalah tersebut. Bencana alam dan korupsi adalah bencana yang begitu nampak dan populer di negeri ini, berbagai sudut pandang dapat kita terjang untuk mengatasi masalah akibat bencana tersebut, pangan dapat menjadi point of view yang dapat kita tinjau khususnya untuk mahasiswa pangan. Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan untuk negeri ini, jika kita peduli dan sadar akan peran kita.

mua/yk/12-8-13/01.46

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s