Evaluasi niat dan ikhtiar kunci kemenangan dalam menghadapi problematika masa muda

Saya akan merasa sangat gelisah jika hal ini tidak saya tuliskan di blog. Hari ini, Jumat menjelang minggu terakhir ramadhan, khotbah Jumat di kampus begitu berkesan. Materinya menarik pikiranku untuk menuliskannya suatu saat di catatanku. Itu tentang niat dan ikhtiar (usaha). Tentu tulisan tersebut akan dikaitkan dengan studi kasus dalam kehidupan yang kualami. Takdir pun membawa saya untuk makan malam di sebuah warung kecil tradsional di daerah Patangpuluhan, Yogyakarta. Terlihat jauh materi khotbah jumat dengan warung makan tradisional, namun melalui tulisan ini akan ada benang merah nantinya.

source: http://www.flexmedia.co.id/

Dulu, saya pernah bertanya-tanya dalam diri saya, kapan saya bisa berzakat? sampai saat ini saya masih meminta uang keperluan sehari-hari kepada orang tua. Mungkin terlalu jauh kalau ke zakat. Dulu, kalau saya bersedekah atau berinfaq, memberi uang ke orang miskin, memakai uang yang biasa orang tua berikan, tampak masih ada kejanggalan atau kurang ngeh gitu kalau gak pakai duit dari penghasilan kita. Dulu, terkadang ingin melakukan sesuatu tapi jika tidak ada dananya, rasanya gak bisa jalan, makanya sering make duit jajan pemberian orang tua untuk melakukan hal-hal apapun yang menurut saya baik, tak terkecuali untuk kegiatan kemahasiswaan yang saya geluti saat itu. Kejanggalan pun terkadang muncul lagi dan intens dalam setiap perenungan. Apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan perasaan itu?

Pernah suatu waktu setahun saya menjadi tentor les privat di sebuah lembaga dan menjajal kemampuan mengajar ke beberapa rumah siswa SD. Gajinya tidak seberapa, 12 ribu setiap kali pertemuan. Mungkin hanya sedikit keuntungan dan tidak sebanding dengan harga bahan bakar yang saya pakai untuk pulang pergi ke rumah-rumah siswa saya. Setiap 10 kali pertemuan, upah saya baru dibayarkan. Setiap mendapat upah, hari itu dibelanjakan makanan enak, memberi uang ke pengamen tiap lampu merah, rasanya plong dan tidak seganjal ketika memakai uang jajan pemberian orang tua. Tapi itu hanya berlangsung setahun hingga kesibukan kuliah mengharuskan untk menunda aktivitas mengajar les privat.

Ketika aktif di berbagai kegiatan mahasiswa di awal – pertengahan masa kuliah, segala kebutuhan seakan tercukupi dan menunjang aktivitas tersebut. Nongkrong sana-sini, rapat sana-sini, dan bayar makan sana-sini seakan ada bank pribadi yang bisa diraup uangnya kapan saja, Ingin ke sana kemari selalu ada yang tersedia, memakai uang jajan. Tapi mengapa ini masih terasa ganjal? Berbeda ketika itu adalah uang penghasilan kita sendiri. Pernah suatu waktu kakak saya menasehati, bahwa jangan menyesalkan dan ragu untuk meminta kebutuhanmu ke orang tua karena itu memang kewajiban mereka terhadap kita. Itu mungkin agak sedikit melegakan, ibarat batuk berdahak terus minum obat batuk ber-OBH. Seiring berjalan waktu, aktivitas makin banyak, dan kejanggalan pun bertransformasi menjadi lebih rumit dan mungkin tak terobati selama belum ada penghasilan sendiri untuk dipakai beraktivitas.

—————————————–

Malam ini saya mengajak seorang teman ke warung tradisional kecil yang menjajakan makanan khas dari singkong, Mi lethek. Perbincangan kami cukup serius dan menarik, turut serta mas-mas pemiliki warung. Saya sejak lama memperhatikan warung tradisional tersebut, tampaknya sangat sepi pengunjung. Sepertinya hari ini berdua adalah pelanggan pertamanya, mungkin yang terakhir juga. Pemilik warung ini adalah anak muda yang tampak selalu semangat. Kunjungan pertama saya ke warungnya adalah memperkenalkan gerakan SingkongDay dan tidak lepas dari embel-embel “saya mahasiswa mas, aktivis singkong”, candaku. Mungkin mas nya belum paham betul apa yang saya maksud. Kunjungan kedua saya adalah malam ini, tapi kali ini membawa satu orang teman. Kami memesan menu tradisional yang sama dan minuman khas yang rasa “cafe mahal”. Tawaran kedua saya ke mas nya adalah ingin menjadikan warungnya sebagai base camp SingkongDay. Mas nya langsung setuju sambil senyum semangat.

Sekali waktu bertanya, “mas tinggal sendiri ya?’. “Dulunya saya berdua mas, tapi yang satu berhenti?” jawab mas nya. Maksud dari mas ini adalah temannya berhenti karena tidak melihat prospek baik di usaha tersebut. Spontan saya bilang “Semangat mas, tolong jangan tutup warungnya!”, pintaku. Saya kagum dengan kesabaran dan semangat pemilik warung ini.

Ada hal yang mengetuk hati saya ketika melakukan hal-hal seperti ini, utamanya ketka memutuskan untuk banyak beraktualisasi dalam dunia mahasiswa, mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi mahasiswa, hingga membuat sebuah ide gerakan yang saat ini saya jalankan. Sejak ide ini saya bentuk, niatnya hanya ingin menstimulus kreativitas kawan-kawan, namun seiring berjalannya waktu, gerakan ini berkembang hingga mengintensifkan langkah mencari dan terus mencari inspirasi, membuat ide program, salahsatunya mengunjungi tempat-tempat usaha seperti warung tradisional ini. Alih-alih makan, saya selalu selingi dengan tanya jawab terkait kondisi usahanya. Saya bukan pengusaha yang pandai, saat ini pun saya tidak punya usaha dagang. Tapi saya terkadang iba saat ada usaha seperti ini, menjaga kebudayaan tradisional, apalagi berkaitan dengan singkong yang sangat sinkron dengan gerakan yang saya bentuk.

source: si0.twimg.com
source: si0.twimg.com

Satu hal yang saya sadari adalah, ternyata setiap saya melakukan hal seperti ini, wawancara, mengajak teman mendatangi kedai kecil ini atau menceritakan usaha-usaha lain, tanpa sadar kita berbagi rejeki sesama. Jika ditimbang-timbang, ini modalnya hanyalh ide. Mempromosikan usaha masyarakat yang bernilai konservatif dan baik untuk masyarakat lainnya adalah suatu bentuk pemberian berharga yang bisa kita berikan. Dari sini saya sadar bahwa aktualisasi diri saya sebagai mahasiswa tidak sia-sia. Itulah amal ibadah yang selama ini bisa saya perbuat. Aktualisasi diri membetuk paradigma dan ide baru untuk kemaslahatan bersama. Bagaimanapun bentuk idenya tidak masalah, asal niat baik.

Berkaitan dengan ide. Semakin banyak aktualisasi diri kita, cenderung membangun ide yang makin banyak pula. Tidak semua ide itu dapat direalisasikan, Usaha memulai adalah sangat penting. Transformasi ide menjadi realitas bukan perkara mudah. Membutuhkan kumpulan keping semangat, teman, dan niat kuncinya. Jika niat baik, semesta akan mendukung, teman berdatangan, dan semangat awal menggelora hingga terjaga dalam proses dan dinamika gerakan tersebut.

——————————————–

Hal pertama yang menjadi pokok materi yang tersimak dalam khotbah Jumat hari ini adalah tentang niat dan ikhtiar (usaha). Dua hal yang harus dilakukan manusia dalam hidup ini adalah niat dan ikhtiar (usaha). Perbaiki niat akan menggiring kegiatan kita menjadi amalan yang bermanfaat untuk orang lain. Niat yang baik akan berdampak baik dan meraih perhatian positif masyarakat. Sebaliknya, niat buruk dari awal akan mendapat respon buruk kelak. Nilai ikhtiar (usaha) akan maksimal dengan niat yang baik dan lurus. Sebuah perbuatan (gerakan) yang dinilai berniat baik namun belum berdampak besar bukan berarti harus kita hentikan. Hal yang perlu kita evaluasi adalah ikhtiarnya, Seberapa besar usaha dan konsistensi kita menjalankan usaha tersebut ? evaluasi ikthtiar itu menjadi lebih optimal. Kalau di film 5 cm kita akan dapati kalimat motivasi seperti “kaki yang akan melangkah lebih jauh dari biasanya, dan mulut yang akan selalu berdoa”. Evaluasi ikhtiar kurang lebihnya seperti itu.

Nah, niatan kita akan terwujud dengan ikhtiar yang optimal pula. Usaha keras yang telah kita lakukan dan belum memberi perubahan yang signifikan selama ini bukan berarti harus kita hentikan begitu saja.  Hal yang perlu kita evaluasi adalah niatnya. Seberapa dalam niat kita untuk usaha tersebut. Turunan niat adalah dalam bentuk ide, komitmen, dan semangat yang akan terus terjaga. Mimpi besar akan terwujud dengan niat yang baik. Niar bersifat batiniah, berasal dari dalam diri manusia. Niat baik, manusianya baik dan ikhtiar adalah aktivitas manusiawi. Manusia tanpa niat seperti kehilangan jiwa, dan manusia tanpa ikhtiar seperti kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Suatu saat ketia kita mengalami masalah dan berkali-kali menghadapi masalah yang sama dan tidak dapat terselesaikan, bukan masalahnya yang menjadi masalah. Apakah kita sudah menilik ke diri kita sendiri? bisa saja yang menjadi masalah adalah diri kita sendiri. Oleh karena itu, niat dan ikhtiar kita sebagai insan perlu dievaluasi.

source: http://statik.tempo.co/
source: http://statik.tempo.co/

Mahasiswa, jangan ragu beraktualisasi sebanyak-banyaknya. Evaluasi niat dan ikhtiar kunci kemenangan dalam menghadapi problematika masa muda. Kejanggalan yang kita alami kegelisahan yang dihadapi adalah hal wajar. Jika terjadi, niat dan ikhtiar kita yang perlu dievaluasi, apapun bentuk aktivitas kita. Niat baik dan ikhtiar yang optimal akan mewujudkan amalan yang akan mencerahkan perspektif kita. Dari studi kasus yang dijelaskan di atas, kejanggalan tersebut akan sirna ketika kita berpikir bahwa aktualisasi yang kita lakukan selama ini adalah amalan yang kita lakukan. Dengan syarat evaluasi niat dan ikhtiar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s