Guide4bankexams_Analogy2

Pulang kampung itu sama halnya seperti kuliah tambahan. Belajar dari perbandingan cara pandang kita sebelum dan setelah merantau. Semisal saya mahasiswa Pangan, saat pulang kampung, salah satu analisa adalah perbandingan perspektif pasar tradisional dulu dan sekarang. Sebelum kuliah di bidang pangan, perspektif pasar itu kumuh dan membosankan. Namun setelah kuliah, cara pandang pun mulai berubah. Cara pandang atau perspektif yang dimaksud berubah di sini adalah memandang berbagai fungsi pasar tradisional dalam ruang yang multidimensi. Tadinya, perspektif real sebelum kuliah, fungsi pasar hanya tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat masyarakat bersosialisasi. Namun setelah kuliah, lalu mencari tahu kaitan ilmu yang digeluti, bicara soal pasar tradisional itu ternyata sangat kompleks. Misalnya dalam fungsi sosial, perubahan karakter masyarakat di masa depan bisa ditinjau melalui eksistensi pasar tradisional. Membandingkan pertumbuhan minimarket yang menjamur, bisa jadi mempengaruhi kultur masyarakat yang tadinya hanya ada pasar tradisional. Pasar tradisional membuka peluang komunikasi sangat tinggi, sementara minimarket berbagai nama, mengecilkan peluang sosialisasi masyarakat. Sebagai contoh, tadi saya ke pasar, ibu saya hampir setiap jalur pasar bertemu kenalan, bahkan padagang dalam pasar diajaknya ngobrol sambil tawar menawar. Dibandingkan dengan semalam, kami berbelanja di sebuah minimarket. Obrolan hanya terjadi saat ibu saya bertemu dengan kasir untuk membayar. Jauhnya rentan perbandingan peluang komunikasi antar individu di minimarket dan pasar bisa mengubah tatanan karakter masyarakat kelak. Komunikasi yg minim menimbulkan eksklusivitas. Bayangkan jika terdapat eksklusivitas di lingkungan kecil kita, kadang geram, apalagi di masyarakat. Bisa saja merambah mempengaruhi tingkat kepekaan dan kepedulian sosial, jika eksklusivitas menjadi dampak dari besarnya rentan itu tadi. Nah, itu baru satu perspektif yang terbentuk tentang fungsi Pasar Tradisional sebelum dan setelah merantau (Kuliah).

Ada lagi sesuatu pelajaran, yaitu menganalogikan sesuatu dari sebuah objek yang ada di depan kita. Mengambil analogi “Pasar Tradisional” dengan “Kemacetan di Kota Besar”, apa hubungannya?  Inilah hikmah baru dari merantau (kuliah). Sejak bergelut di dunia mahasiswa, saya cenderung suka beranalogi. Menganalogikan sebuah masalah dengan fenomena yang terjadi di alam manusia. Ya, contohnya itu tadi, analogi “Pasar Tradisional” dan “Kemacetan di Kota Besar”. Ketika berjalan menenteng barang belanjaan di belakang ibu saya di pasar tradisional, saya sesekali melamun, sesekali berpikir. Mata saya mondar-mandir mengamati pergerakan orang-orang yang sibuk berinteraksi dalam pasar, sembari saya melayangkan senyuman. Dibalik senyuman itu, khayalan dan pikiran saya tertuang tentang analogi Pasar Tradisional dan Kemacetan di Kota Besar. Dalam analogi saya, Manusia = Kendaraan, Pedagang = Destinasi/tujuan, lainnya = Kondisional. Saat saya berjalan memikirkan itu, banyak hal yang membuat saya tertawa. Contohnya ketika orang-orang perokok lalu lalang di depan saya. Bayangkan, di tengah kerumunan dan sesaknya dalam pasar terdapat orang yang menghembuskan rokok seenaknya tanpa rasa bersalah. Saya menganggap itu adalah mobil truck. Jika asap rokoknya mengepul, anggapanku itu mobil truck model lama yang sudah butut. Apalagi jika orangnya jalan main tabrak sambil merokok, saya melihat itu adalah mobil truck yang lama tidak diservis dan ugal-ugalan. Itu banyak terjadi di kota besar, main tubruk, masuk jalur dan tidak mau tahu kendaraan di belakangnya. Ya, perokok yang tidak sopan di pasar. Yang kedua, salip menyalip antar pembeli juga sama dengan kondisi kendaraan di jalan. Kadang tak ada yg saling mengalah. Nah, untuk mengatasi kondisi sesaknya pasar, maka kebijakan pasar yang baik adalah memperlebar jalan dalam pasar. Sama halnya di jalanan, mengatasi kemacetan adalah memperlebar jalan. Jika kita balik analoginya. Pelebaran jalan di kota tersendat karena masalah tanah bagaimana? kita coba analogikan dengan pasar. Jika akan diberlakukan pelebaran jalan pasar untuk kelancaran, tapi ada pedagang yang tidak mau digusur kiosnya, bagaimana? sama kan analoginya? Ya, jawabannya mungkin bisa dirumuskan sendiri bagaimana kebijakannya.

Begitulah kesukaan saya sejak kuliah. Senangnya beranalogi, tidak jarang juga metode itu saya pakai untuk memecahkan masalah sehari-hari. Mumpung masih muda, pikiran masih liar, apalagi masih bujangan, harapan, cita-cita, ambisi, masih kuat di dalam diri. Beranalogi adalah sebuah cara. Karena pikiran “Liar” ini, analogi pun saya definisikan sebagai sebuah turunan dari makna “Hikmah” yg sering difirmankan dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran kita dipesankan untuk mengabil hikmah atas kejadian-kejadian di dunia ini, bagi orang-orang yang berakal. Menurut pikiran “liar” ini, beranalogi adalah salah satu cara mengambil hikmah dibalik peristiwa untuk mencari solusi permasalahan. Mungkin anggapannya bahasan tulisan ini melebar, tapi menurutku tidak. Karena memang topiknya tentang perbandingan pemikiran sebelum dan setelah rantau (kuliah). Kuliah atau menuntut ilmu yang tadinya tidak tau mendefinisikan dan memaknai hikmah, lalu beranalogi untuk mencari solusi masalah, sekarang berpikir begitu “liar”. Bagaimana di masa yang akan datang, ketika kita masih menyadari pentingnya menuntut ilmu? Bisa saja kelak memaknai tidak hanya mendefinisikan, tapi mendefinisikan sebuah makna yang lebih mendalam. Mari terus belajar, belajar dan belajar.

 

Sengkang, 9 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s