Sabtu, 4 Mei 2013

Aku memutuskan untuk ke Gunungkidul, tepatnya di Kelurahan Girisuko, Kecamatan Panggang, Dusun Turunan, rumah Si Wahyu teman dekatku tinggal. Gunungkidul banyak singkongnya, dan misiku ke sana adalah…… Ya, misi SingkongDay. Misi kali ini untuk muter-muter desa dan kenalan sama Pak Dukuh alias Kepala Dusun di sana. Awalnya saya mendengar tempat ini namanya sangat unik, Dusun Turunan. Mengapa namanya Dusun Turunan, karena untuk menuju Dusun tersebut jalannya menurun dan itulah mengapa disebut Dusun Turunan.

Tiba siang hari, aku langsung disambut dengan gemuruh suara musik gamelan dari Balai Desa. Hari itu ternyata ada acara Merti Deso atau bersih desa. Acara ini diadakan dalam rangka ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan untuk rezeki, keselamatan, dan ketentraman masyarakat desa. Acara tersbut merupakan wujud kearifan lokal yang masih dipertahankan di Yogyakarta khususnya di Gunungkidul. Karena datangnya siang, saya hanya melewatkan dua acara yaitu Jathilan dan Wayang. Acara paginya, yaitu arak-arakan gulungan hasil bumi tak sempat kutonton. Acara Jathilan diisi dengan tarian jaranan yang dipentaskan oleh kelompok Jaranan di desa itu. Baru pertama kali melihat langsung pentas Jaranan ini. Mistis banget men….!!! Para penari menggunakan kuda lumping, ada juga yang menggunakan barong, menari diiringi sinden dan bunyi gamelan dan gendang jawa. Saat tarian berlangsung, suasana mistis terjadi dimana para penari mengalami kerasukan. Mereka bertingkah seperti hewan, memakan kembang, dan menari meliuk-liuk mengikuti alunan musik. Setelah tarian mulai selesai, setiap orang yang kerasukan itu diarahkan ke lingkaran yang dibuat pawang dari cambuk untuk mengeluarkan sosok yang berada di dalam tubuhnya, dan pawang yang satunya mengarahkan penari yang kerasukan ke arah lingkaran yang dibuat. Tak tanggung-tanggung, bahkan mereka dicambuk dengan keras di tubuhnya sampai mau bergerak. Benar-benar para penari tersebut tidak merasakan sakit, dan ibarat hewan yang sedang digembalakan. Ya… namanya juga orang kesurupan….

Pentas Jaranan
Pentas Jaranan
Sambil dicambuk dan digiring ke lingkaran pawang buat disadarkan
Sambil dicambuk dan digiring ke lingkaran pawang buat disadarkan

Setelah nonton Jathilanaku sama Wahyu ke Tempat Wisata pemandangan indah yang masih dalam tahap pengembangan. Sekitar kurang dari 1 km dari balai desa, terpampang lukisan yang indah. Tempat ini masih sepi dan jalanannya pun masih tanah dan bebatuan.  Rumput-rumput liarnya masih panjang dan pohon-pohon jati di sekitarnya berjejer rapi. Terdapat anjungan tempat persitirahatan di dekatnya. Hening, sejuk, nyaman dan aku mampir obrolin cita-cita dan strategi SingkongDay bareng Wahyu di sana.

Desa Wisata Turunan
Desa Wisata Turunan
Wahyu dan pemandangan
Wahyu dan pemandangan

Hari menjelang petang, pukul 5 sore kami beranjak dari objek wisata itu menuju ke rumah Pak Dukuh. Beliau akrab disapa pak Sugianto, kumisan, tinggi sekitar 160 cm. Kami memperkenalkan diri dan ngobrol tentang potensi pangan dan kondisi masyarakat di Dusun Turunan. Pak Sugianto sangat antusias menyambut rencana program ini dan dia selalu menyambut baik bagi para pemuda atau mahasiswa yang datang untuk membangun Dusun Turunan ini. Ya, memang tampak potensi yang sangat besar pada daerah ini untuk dikembangkan dengan potensi pangan utama adalah singkong, ditambah lagi aksesoris pemandangan indah yang disuguhkan di desa ini.

Matahari mulai tenggelam dan gelap mulai menyelimuti. Makan malam kali ini disuguhi makanan yang super tradisional dari Ibunya Wahyu. Beliau sudah tahu bahwa saya itu sukanya yang asli dan tradisional, karena cerita-cerita dari Wahyu. Ibu menyuguhi Gudeg Pepaya, tahu, tempe dan ayam dibacem, dan mi lethek goreng (mi dari singkong). Saya memang suka gudeg, tapi seumur-umur baru tahu dan makan yang namanya gudeg pepaya, karena biasanya gudeg itu pakai nangka muda. Awalnya gak bisa bayangin rasanya, pasti aneh, pahit, ada getah pepayanya, tapi pas dicobain, ternyata laziz….. Enak banget dan gak kalah sama gudeg nangka. Kata ibu, orang sini (Gunungkidul) sering buat gudeg dari pepaya, karena nangka sangat sulit diperoleh sehingga diganti dengan pepaya yang disuwir-suwir.

Malam ini ada agenda adat lagi di Dusun Turunan, yaitu pementasan wayang. Sehabis shalat maghrib dan makan malam, kami menunggu acaranya dimulai sambil ngobrol. Saya menyadari dan menghayati suasana di tempat itu sangat sepi dan gelap. Saat maghrib, masyarakat sudah tidak ada yang melakukan aktivitas di luar. Kunang-kunang masih banyak berkeliaran kesana-kemari di sekitar kami saat pulang dari shalat maghrib di mesjid. Teriakan sapi masih terdengar lantang memecah kesunyian. Jangkrik pun tidak mau kalah dengan kring-kringannya. Waktu yang ditunggu telah tiba, suara motor, langkah kaki dan obrolan tetangga sudah mulai ramai terdengar. Suara musik dari balai desa turut meramaikan. Acara wayangan akan segera dimulai.  Aku, Wahyu dan Ibu berangkat ke balai desa untuk menonton pertunjukan tersebut.

Dibuka dengan musik Thek-thek, masyarakat mulai berkumpul di depan balai desa. Mereka seakan terpanggil untuk menyaksikan pementasan malam itu. Musik Thek-thek ini sangat menarik dan unik. Menyuguhkan gendang, tepukan tangan, alat musik krik-krik (gak tau namanya..hehhee) dan penyanyi, dan semuanya laki-laki. Mengapa disebut musik thek-thek??? Karena bunyi utama musiknya adalah tek tek tek tek tek..… Makanya disebut thek-thek. Uniknya lagi adalah syair yang dilantunkan para penyanyinya, berisi humor dan pesan untuk melestarikan budaya lokal, ada juga pesan-pesan politisnya. Kerenlah pokoknya, bikin warga tertawa bahkan aku yang tidak sepenuhnya mengerti bahasa Jawa.

Musik thek-thek berhasil membuka acara dan membuat kami terkesan. Selanjutnya, para pemain musik pengiring wayang mulai memasuki panggung dan menata alatnya. Para sinden dengan kharismanya juga mulai stand by di sisi kanan panggung, dalang pun begitu. Pementasan dimulai dengan lantunan suara merdu sinden-sinden. Aku seakan tersihir mendengarnya, apalagi saya duduk di depan sound sistem yang tingginya 2 kali lipat dari saya. Sambil duduk menyaksikan, dalang pun memulai ceritanya. Tok..tok…tok…..Diceritaken……..hehehhee

By the way, maaf pemirsa….. Aku tidak tahu jelas apa cerita wayangnya semalam. Aku hanya mengerti pas dalang menyebut nama tokohnya yaitu Sengkuni dan Kurawa. Jadi, mohon maaf jika tidak bisa menjelaskan di sini. Tadi malam hanya bisa ikut senyum dan ketawa bingung lihat warga ketawa mendengarkan lelucon si dalang pake bahasa Jawa yang halus, dan yang jelas beda dengan bahasa yang dipakai teman-teman jawa saya. Beberapa lama berselang menikmati keceriaan yang ngambang itu, saya mulai mengantuk dan mengajak Wahyu beranjak pulang. Saat itu jam menunjukkan pukul 11.45 dan badan sudah letih seharian. Mohon maaf jika dokumentasi pewayangannya tidak dicantumkan karena baterai kamera saat itu sedang low.

Esok harinya, pukul 04.00 subuh saya terbangun. Masih terdengar alunan bunyi gamelan dari balai desa. Ternyata acara wayang tadi malam dipentaskan semalam suntuk. Memang sih dengar-dengar kabar kalau pementasan wayang seperti ini dilakukan biasanya sampai subuh hari. Kalau dipikir-pikir, yang jadi pengiring musiknya dan pelaku pentas itu banyakan bapak-bapak yang udah rata-rata tua. Anak muda sekarang biasa tidurnya juga subuh, kalo gak nongkrong sambil gitaran, nongkrong di cafe-cafe ngobrol-ngobrol atau nongkrong di depan laptop atau warnet sambil online gak jelas. Budaya lokal memang tampak telah tergerus zaman dengan melihat ironi generasinya sudah mulai lupa dengan budaya.

Paginya, ibu dan Wahyu pergi ke pasar untuk membeli bahan jualan. Sepulangnya dari pasar, ibu tiba-tiba ke samping rumah dan memanggil-manggilku. Ibu mencabut satu batang singkong untuk  kubawa pulang. Wah…. berbunga-bunga hatiku waktu itu. Kemudian kembali ke samping rumah untuk diminta cabut satu batang lagi singkong dengan tinggi sekitar 3 meter lebih. Meski agak keras mencabutnya, alhasil dapat singkong segar dan gratis lagi. Big thanks to ibu dan Wahyu. Singkong dibersihkan dari tanah dan dipotong dari tangkainya lalu dimasukkan ke kardus untuk dibawa pulang. Aku dan Wahyu bersiap-siap untuk turun gunung jam 9 pagi menuju ke Kota Yogyakarta.

Cabut singkong
Cabut singkong
Bersihin singkong
Bersihin singkong

Selesai sudah pengalaman satu hari di Gunungkidul, pastinya seru, mendidik, full of tradition dan bikin tambah semangat menjalankan program-program dan rencana ke depannya. Makasih buat Ibu dan Wahyu yang telah saya repotkan selama satu hari ini. Selanjutnya akan ke sini lagi, tapi Insya Allah akan membawa teman-teman volunteer SingkongDay untuk melakukan pemberdayaan dan mengembangkan desa ini, desa yang masih mempertahankan tradisi dan tentunya kaya akan Singkong. Sekian

6 thoughts on “Misi SingkongDay dan Kebudayaan di Dusun Turunan

  1. thank’z udh menulis tentang desaku,,,salam kenal.. aku adalah penata tari,koordinator sekaligus penari jaranan itu,,
    aku yg memakai seragam surjan hitam motif bunga,,yg ada difoto itu..hhehe

  2. Thank bro…
    Itu desa tempat lahirku…
    Skrg aku di bekasi
    Jarang bgt aku pulang ke sana…
    Coz klg ku ada disini…
    Hny mbah putri yg masih di sana.
    Beliau dulu yg merawatku dr kecil…
    Love mbah putri…semoga sll sehat…we love u all…
    I’ll be back to my sweet home…some memories is never forgetted…
    Berjuta harapan berawal dari desa kecilku…
    I love u all people there…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s