Eng…ing…eng….

Tulisan sebelumnya aku bercerita tentang perjalanan di Jember sebagai kota pertama yang kukunjungi selama di Jawa Timur. Kota berikutnya adalah Malang atau yang biasa disebut kota Bunga. Gak menyangka bahwa Malang itu kota Bunga, kayaknya juga bunganya gak banyak banyak amat, trus apa bedanya dengan kota Kembang, Bandung, hehehe. Menurut penuturan Agi, di Malang dulu banyak yang jualan bunga, hingga dia nunjukin letak pasar bunganya. Aku lebih mengenal Malang sebagai kota apel, ternyata apel itu dikenal dari daerah Batu, Malang. Semakin penasaran nih dengan apa yang ada di Malang.

Oh ya, aku kenalin dulu Agi Arinta, disapa Agi. Dia sohib seperjuanganku di badan pengurus pusat HMPPI sebagai ketua divisi pengembangan masyarakat. Soal bindes-bindes alias bina desa dia ahlinya. Agi juga mahasiswa dengan segudang prestasi, seringkali juara lomba desain produk pangan dan yang jelas setiap tahunnya dia ikut Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dari DIKTI selalu dapat. Entah ada jurus apa dia 3 tahun berturut-turut didanai. Katanya sih kalau bikin kayak gitu dibuat lebay aja, hahaha.

Selain itu ada juga Yus, adik kelasku di SD dan SMA yang kini sedang kuliah di Universitas Brawijaya ngambil jurusan yang sama denganku. Gak kalah dengan Agi, roman-romannya Yus juga akan jadi mahasiswa segudang prestasi dilihat dari kesibukan dan antusisnya terhadap keilmuan yang ditekuninya. PKMnya tahun ini didanai DIKTI, dan dia sedang mempersiapkan laporannya. Hari pertama di Malang kulewatkan dengan makan. Saat kutanya makanan khas apa yang ada di Malang, dia menyebutkan salah satunya yaitu rawon. Diajakku menuju tempat makan rawon di daerah dekat stasiun, namanya Rawon Tessy. Mengapa disebut rawon tessy, karena yang jualan mirip Tessy, katanya. Aku jadi makin penasaran mendengan alasan itu. Sesampainya di tempat makan, hal pertama yang kucari adalah pemiliknya. Umurnya kisaran 30-an, pakai topi, rambut agak panjang sebahu kurang, saat itu kulihat dia senyum, dan…… waaaahhhhhh, emang mirip Tessy, hehehe. Selain mirip Tessy, rawonnya juga enak, sampai-sampai nambah 2 piring dan karena memang juga lagi kelaparan.

Rawon Tessy
Rawon Tessy

Habisin 2 piring rawon Tessy membuat ikat pinggangku direnggangkan. Tpi ternyata Agi belum puas mengajakku berwisata kuliner malam hari di Malang. Dia mengajakku lagi ke sebuah tempat tongkrongan yang sering ramai dan digandrungi anak muda, kedai tahu. Tahun ini bukan tahu biasa, ukurannya besar dan isinya gak sembarang isi-isian. Isinya sambel yang pedes, dan baru pertama beli tahu isinya sambel kayak gitu. Biasanya tahu dimakan sama cabe rawit dipisahi, ini malah cabenya diuleg masukin dalam tahu trus digoreng, menurutku itu kreatif. Sambil ngemil tahu, Agi bercerita tenang aneka makanan-makanan yang digandrungi di kota Malang. Uniknya ada yang namanya mi setan, dan lawannya mi setan mi angel. Makanan-makanan itu laris di kalangan anak muda di Malang, karena kreatifitas promosinya dan mengambil peluang di masyarakat.

Berkunjung ke HIMALOGISTA

“Hari ini makan apa lagi ya?”, pikirku. Plan hari kedua yang pasti menuju ke sekretariat HIMALOGISTA Universitas Brawijaya, sekretariatnya anak pangan. Sekitar pukul 10.oo pagi, masih bersama Agi Arinta ke sekret HIMALOGISTA. Kali ini pertama kalinya aku masuk di Universitas Brawijaya. Sepertinya kampus ini juga padat mahasiswa, jalan di dalam kampus sedikit penuh dan agak macet, pasti keren banyak mahasiswanya dan aktif-aktif. Aku menuju ke lantai 3 gedung Fakultas Teknologi Pertanian dan menuju ke ruangan di ujung gedung, tempat berbagai sekretariat organisasi intra kampus berada.

Seperti biasa, misi HMPPI selalu berjalan di setiap kotanya. Berdiskusi dan share ilmu adalah hal yang wajib untuk dilaksanakan. Berkenalan dengan teman-teman baru di HIMALOGISTA dan membangun silaturahmi yang erat sangat menyenangkan. Bertemu dengan ketua HIMALOGISTA yang baru, Edwin dan anggotanya Nela 1, Nela 2 dan anggota yang lainnya. Aku menghabiskan waktu beberapa jam bersama mereka dan berharap kami semua semakin bersemangat untuk bergerak dalam satu wadah HMPPI.

Bersama teman-teman di HIMALOGISTA
Bersama teman-teman di HIMALOGISTA

Bakso Kota 

Setelah dari HIMALOGISTA, kami berencana akan ke Repoeblik of Telo. Namun, saat berdiskusi rasa lapar seakan hilang, tapi selesai diskusi perutnya bernyanyi riang. Akhirnya aku dan Agi memutuskan untuk makan siang sebelum menuju ke Repoeblik of Telo. Kami mampir di tempat makan bakso. Di luar daerah, khususnya di kampungku bakso Malang sangat populer. Banyak gerobak-gerobak bakso yang bertuliskan “Malang”, dan biasanya enak-enak. Itulah salah satu motivasi untuk tidak melewatkan makan bakso di Malang. Kami menuju ke tempat makan Bakso Kota yang katanya salah satu yang enak dan ramai di Kota Malang.

Tiba di tempat makan bakso, langsung saja menuju ke tempat ngambil baksonya. Sistemnya prasmanan, jadi terserah mau ngambil bakso jenis apa. Berbagai jenis bakso langsung kuambil, rasanya pengen cobain semua jenis. Tak lupa dimakan bersama buras-nya (orang menyebutnya lontong). Setelah siap dan sudah dibayar, tak lupa sambal, kecap dan saosnya. Karena hidup tanpa sambel, kecap dan saos itu seperti nyuci gak pake detergen, sikat dan pewangi, hehehehe *random. Setelah icip-icip dengan tambahan sambel, kecap dan saos, aku terkesima dan mengingat kampung halaman sambil bilang waahhhhhh….
Karena rasa dari baksonya mirip sama rasa bakso yang sering kumakan di Sengkang sana. Kuah, burasa, sambel, saos ada kemiripan, dan mungkin inilah khas bakso Malang yang dibawa hingga ke Sulawesi. Makanpun lahap selahap-lahapnya.

Makan bakso bareng Agi
Makan bakso bareng Agi

Repoeblik of Telo

Energi yang terisi oleh lontong dan bakso sepertinya akan cukup untuk jalan-jalan berikutnya. Repoeblik of Telo adalah labuhan selanjutnya di siang menjelang sore hari yang terik itu. 30 Menit adalah waktu tempuh yang cukup panjang dengan sepeda motor. Mendekati meeting point Repoeblik of Telo, langsung aku terkesan, “Oh….. ini toh tempatnya”. Awalnya aku mengira tempat ini adalah daerah yang dipenuhi pusat jajanan telo. Ini memang pusat jajan, tapi semacam outlet yang luas dan besar yang menyajikan berbagai olahan telo (Ubi ungu). Warna ungu-nya membuat para pelancong memang tertarik untuk mampir di Repoeblik ini. Kami mampir dan masuk ke pusat perbelanjaannya dan di dalamnya juga serba ungu, tidak hanya produk makanan yang dijual, pakaian karyawannya dan merchandise-nya juga warna ungu, pokoknya serba ungu.

Repoeblik of Telo
Repoeblik of Telo
Pusat jajanan Repoeblik of Telo
Pusat jajanan Repoeblik of Telo

Produk andalan Repoeblik Telo ini adalah bakpao, telobar, bakpia telo, dan es krim. Makanan-makanan kering yang dijajakan di otulet ini juga diperoleh dari asosiasi pengusaha kecil menengah di daerah Malang, sehingga wajar jika Repoeblik of Telo saat ini mulai menjadi icon Malang. Seandainya usaha pangan lokal semacam ini digencarkan di setiap daerah di Indonesia, akan lebih menunjang kesejahteraan, melestarikan kekayaan pangan lokal dan mewujudkan kearifan lokal. Pemerintah daerah-daerah sepertinya perlu banyak belajar ke Repoeblik of Telo ini.

Aku dan agi jalan-jalan di dalam outlet dan memesan beberapa cemilan, semuanya berbahan telo ungu. Salah satu yang kami pesan adalah es krim telo ungu, dan kami menghabiskan cemilan di cafe teras depan yang telah disediakan bagi pengunjung outlet. Sangat menarik mengunjungi tempat ini, bisa banyak belajar peluang pengembangan produk lokal, dan mulai menambah referensi dan yang pasti menyenangkan bisa icip-icip makanan yang beraneka raga. Memang tempat ini seperti kerajaan telo dan wajar saja diberi nama Repoeblik of Telo.

es krim telo ungu
es krim telo ungu
Jajanan
Jajanan

Cukup puas jajan di Repoeblik of Telo, saatnya kembali dan mempersiapkan diri untuk ke Surabaya malam harinya. Perjalanan dari Malang ke Surabaya akan ditempuh dengan bus. Membutuhkan waktu kurang lebih 4-5 jam untuk sampai di terminal Surabaya. Sebelum berangkat menuju Surabaya, aku meneympatkan diri untuk reuni SD bersama Yus dan Maya. Maya dengan nama lengkap Fauziyah Mayasari ini adalah teman kelasku 6 tahun di SDN 2 Sengkang. Meskipun singkat, kami bernostalgia dan banyak bercerita tentang masa-masa SD sambil menikmati bakso bakar yang enak. Maya yang akrab disapa Uchy oleh teman-temannya kini tingkat akhir di Jurusan Teknik Informatika di Universitas Brawijaya. Semoga bisa bertemu lagi dengan Maya dan teman-teman SDku yang lainnya.

Hidup 2 hari di Malang sangat rasanya sangat menarik. Industri kreatif olahan makanan sangat mengesankan dengan nama-nama uniknya. Selain itu bersilaturahmi dengan teman-teman HMPPI di HIMALOGISTA menambah semangat untuk terus bergerak belajar dan mencari inspirasi. Semoga bisa main ke Malang lagi dan menghabiskan waktu lebih lama di sana. Bromo, taman bermain, dan kebun buah masih menunggu untuk dikunjungi.

Next, perjalanan menuju ke Surabaya. Surabaya punya cerita menarik termasuk salah satu momen bahagiaku di sana. Ane mau ngerjain yang lain dulu nih, episode berikutnya ditunggu ya……..

One thought on “Berlabuh di Kota Bunga, Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s