Universitas Jember
Universitas Jember

Ada satu kalimat puitis yang sampai saat ini teringat setelah bertualang dari Jember, “Cinta bukanlah cinta kalau tidak dipersembahkan“. Sangat menggelikan, tapi menarik menurutku. Ini adalah kalimat puitis yang terlontar dari seorang Prof. Sugiono, Direktur LPPOM MUI Jawa Timur saat menjadi speaker di acara Seminar di FTP Universitas Jember.

Aku mengawali cerita ini dengan ungkapan cinta tersebut karena aku mencintai apa yang telah kulakukan kemarin, mengunjungi komisariat-komisariat anggota HMPPI di Jawa Timur, antara lain HIMAGIHASTA Universitas Jember, HIMALOGISTA Universitas Brawijaya, HMTP UPN Veteran Jatim, dan DPM FTP Universitas Katolik Widya Mandala. Kota Jember adalah tempat pertama kulangkahkan kakiku di Jawa Timur untuk misi ini.

Hari itu sekitar jam 21.00, Stasiun Jember merupakan tempat pemberhentian terkahir kereta api Logawa. Hujan gerimis mengiringi kedatanganku di stasiun kecil itu. Keluar dari pintu stasiun aku menunggu Poppy datang menjemput. Aku perkenalkan Poppy, dia adalah dara asli Malang, saat ini kuliah di jurusan teknologi hasil pertanian angkatan 2009 di Universitas Jember. Poppy adalah sekretaris umum HMPPI pusat, masalah administrasi dan kesekretariatan pokoknya dia ahlinya dan dia partner yang profesional. Kami semua di BPP HMPPI adalah tim yang kompak. Sebagai tuan rumah, Poppy yang senantiasa menemani petualanganku di Jember.

Setiap berangkat ke berbagai daerah, hal yang selalu ingin kuketahui dan kucatat di buku kuningku adalah inspirasi (ide-ide) dan kuliner khas daerah tersebut. Inspirasi dan kuliner adalah hal wajib yang harus ada dalam setiap perjalananku. I am a food technology student and i am a food traveller, sungguh perpaduan passion yang sangat pas.

Buku Kuning
Buku Kuning

Seminar Regional 

Minggu, 3 Maret 2013 adalah acara Seminar di FTP Unej. Judul seminarnya “Peran Generasi Muda Dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional“.  Seminar yang menarik dengan pembicara yang berkualitas seperti Prof. Sugiono (Direktur LPPOM MUI Jawa Timur), Prof. Achmad Subagio (Guru Besar FTP Unej, Pembina Nasional HMPPI), dan dari KNPI. Pembicara-pembicara yang berjiwa muda tersebut dengan lantang menyuarakan semangat untuk para generasi muda dalam mempersiapkan diri membangun bangsa ini lewat perspektif masing-masing.

Prof. Sugiono membuka dan menutup sesinya dengan filosofi. Pengalaman dan hikmah hidup dia sampaikan dengan berbagai filosofi yang menarik. Beliau membuka cakrawala pengetahuan peserta seminar dengan topik pangan Halal dan Toyib. Pangan Halal dan Toyib bukan hanya secara objektif makanan yang disebutkan dalam aturan-aturan tertulis, namun bagaimana proses dan memperoleh makanan tersebut. Bagaimana sebuah makanan sehari-hari yang kita lihat dianggap sudah baik namun ditelusuri lebih jauh ternyata tidak halal dan toyib. Intinya, sistem dan alur makanan tersebut harus kita pelajari dan benahi agar makanan yang kita makan senantiasa berkah. Prof. Sugiono mengakhiri sesinya dengan beberapa bait puisi, namun yang paling jelas kuingat adalah “Cinta bukanlah cinta jika tidak dipersembahkan“. Mungkin ini ungkapan biasa bagi orang lain, tapi bagiku yang seorang melankolis, kata-kata ini sangat menyentuh, makanya kuangkat ini dalam blogku.

Prof. Achmad Subagio sebagai pembicara kedua membuatku terkesan. Aku hanya mengetahui tentangnya melalui artikel-artikel dan cerita orang-orang yang pernah kutemui. Hal yang beliau bahas dalam seminar tersebut adalah tentang singkong. Beliau ingin mengajak para generasi muda untuk membangun jiwa enterpreneur agar dapat membangun bangsa ini kedepan. Selain itu beliau juga ingin mewujudkan sebuah kota enterpreneur singkong. Prof. Subagio selain menjadi guru besar di Unej, beliau juga memiliki banyak usaha, diantaranya outlet mi ayam, oleh-oleh dan usaha jamur tiram. Saat bercerita di sesi seminar, Prof. Subagio selalu menyebut dirinya tukang bakul bakmi, karena usahanya memang mi ayam. Mi ayam yang beliau jual bukan mi ayam sembarangan. Mi ayamnya terbuat dari campuran tepung MOCAF.  Selain mi ayam, Prof. Subagio juga mengembangkan usahanya dengan berbagai makanan olahan dari MOCAF (Modified Cassava Flour) atau tepung singkong termodifikasi.

Prof. Achmad Subagio saat seminar regional
Prof. Achmad Subagio saat seminar regional

Prof. Subagio memiliki ruang usaha untuk memproduksi makanan olahan dari MOCAF dan outlet untuk memasarkan produknya. Outlet yang dimilikinya diberi nama Mister T. Beliau sangat gencar untuk membangun semangat generasi muda untuk berwirausaha. Selain itu, dengan fokus pengembangan MOCAF yang saat ini digeluti, membuatnya dikenal sebagai ahli MOCAF dan dan konsultan terkait usaha-usaha persingkongan dan program-program pengembangan masyarakat yang dikembangkan pemerintah. Sesi presentasinya juga menyinggung tentang pertanian bangsa ini yang kian terpuruk. Seharusnya, posisi petani itu adalah pilihan terbaik di negeri ini, asalkan kepemilikan lahannya minimal 2 hektar dan itu kepemilikan penuh tanpa sewa dan lain sebagainya. Jika seperti itu, penghasilan petani akan lebih dari gaji dosen. Namun sayangnya di negeri kita, kepemilikan lahan bagi petani rata-rata di bawah 0,5 hektar, belum lagi dengan kebutuhan tanam yang lainnya. Dengan kondisi seperti itu, banyak petani yang berpenghasilan pas-pasan menjadi petani dan bahkan besar pasak daripada tiang. Itulah potret negeri ini. Harapan Prof. Subagio adalah mengubah konsep petani negeri ini, yaitu petani adalah pengusaha.

banyak hal yang menarik jika membahas konten seminar dari para pembicara-pembicara yang hadir, termasuk perwakilan organisasi pemuda oleh KNPI yang diisi oleh mantan presiden BEM Universitas Jember. Peran pemuda harus diketakankan dan ditingkatkan dengan mengikuti organisasi-organisasi saat kuliah dalam rangka membangun pengalaman dan kesiapan menghadapi tantangan global yang selalu menggerus semangat dan moral generasi muda di negeri ini.

Misi HMPPI

Sesi seminar selesai, dilanjutkan dengan diskusi kecil dengan Prof. Achmad Subagio dan Poppy. Diskusi ini adalah salah satu misi mengapa kau ke Jember. Beliau adalah salah satu dari 4 pembina HMPPI nasional. Banyak saran yang beliau utarakan terkait pelaksanaan HMPPI di tingkat nasional. Sangat senang bisa berdiskusi dengan beliau, kembali semangat untuk membangun HMPPI dan Indonesia. Setelah diskusi, tentu momen ini tak akan kusia-siakan. Sesi foto bersama Prof. Achmad Subagio untuk kenang-kenangan, hehehe narsis.

Aku, Prof. Achmad Subagio, Poppy
Aku, Prof. Achmad Subagio, Poppy

Setelah diskusi dengan pembina HMPPI, dilanjutkan sesi dengan anggota-anggota HMPPI yang ada di Universitas Jember. Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (HIMAGIHASTA) adalah salah satu lembaga anggota HMPPI. Kami menyebut anggota-anggota HMPPI di tingkatan universitas dengan komisariat. Artinya kalau HIMAGIHASTA adalah anggota HMPPI komisariat Unej. Diskusi HMPPI diawali dengan perkenalan yang dibuka oleh Poppy. Kemudian dilanjutkan dengan ceritaku yang panjang lebar tentang HMPPI. Seperti itulah diriku, suka bercerita meskipun tanpa sadar ceritaku agak membosankan bagi sebagian pendengar. Harapannya dengan berdiskusi bersama mahasiswa-mahasiswa THP di Unej, kita dapat antusias bersama membangun wawasan dan pola berpikir kita untuk membangun bangsa ini dengan berkontribusi dalam hal ilmu pangan. Menebar semangat dan mengompor-ngompori mahasiswa adalah tugasku di HMPPI, hehehe.

Diskusi dengan teman-teman HMPPI di Unej
Diskusi dengan teman-teman HMPPI di Unej

Berdiskusi ria tentang HMPPI selesai, ternyata ada satu hal yang hampir lupa kulewatkan. Setelah sesi seminar berakhir tadi, aku dan Poppy diundang oleh Dekan FTP Unej untuk makan siang bersama Prof. Sugiono dan Ka. Prodi THP, sungguh kesempatan yang sangat bagus bisa bergabung. Kami makan di restoran seafood sekitar pusat kota Jember. Kami berbincang-bincang tentang berbagai hal tentunya terkait pangan dan seperti biasa Prof. Sugiono selalu mengisi ceritanya dengan hal-hal yang filosofis. Menarik sekali, dan akupun suka hal-hal yang sifatnya filosofis dan suka beranalogi. Sambutan yang hangat di Jember membuatku semakin bersemangat. Kami menutup pertemuan dengan foto bersama lagi, hehehe.

Aku, Ketua Prodi, Pak Dekan, Prof. Sugiono, Firjon, Poppy
Aku, Ketua Prodi, Pak Dekan, Prof. Sugiono, Firjon, Poppy

Wisata Kuliner

Ngomong-ngomong soal makanan, hal pertama yang kulakukan saat tiba di Kota Jember adalah berwisata kuliner. Malam itu, setibanya di stasiun Jember, kami langsung menuju ke sebuah rumah makan di sekitar pusat kota Jember. Rumah makan “Ibuku” tempatku melepas lapar dan dahaga setelah perjalanan jauh dari Jogja. Aku bertanya, mengapa rumah makannya diberi nama “Ibuku”, jawabannya sangat simple, agar setiap pelanggan yang datang selalu mengingat masakan ibu di rumah. Memang kesan setelah melihat nama itu aku langsung ingat masakan ibu di rumah. Menu spesial dari rumah makan tersebut adalah Nasi Ingkung Ibuku. Nasi Ingkung adalah makanan khas yang banyak tersebar di beberapa daerah di Jawa, biasanya disajikan untuk upacara adat tertentu. Nasi Ingkung Ibuku  ini adalah perpaduan nasi gurih berbentuk tumpeng dan ayam ingkung, ditambah sayuran dan rempeyek. Setelah merasakan sensasi gurih dan nikmatnya nasi Ingkung, disusul pencuci mulutnya dengan es krim yang super enak dengan eskrim dengan sensasi tape singkong, ditambah krim dan selai nenas di pucuknya, it’s so sweet🙂. Hari pertama di Jember sangat singkat dan mengenyangkan, dilanjutkan dengan istirahat dan menanti hari esok.

Nasi Ingkung Ibuku
Nasi Ingkung Ibuku

Jalan-jalan ria untuk wisata kuliner berikutnya adalah menuju ke Mister T, outlet milik Prof. Subagio yang diceritakan di sesi seminar tadi. Aku sangat penasaran dengan makanan-makanan dari MOCAF itu, sekaligus menjalankan misi SingkongDay untuk mencari informasi seputar singkong. Aku, Poppy, Vonny, Sabrina, Wiwik, dan Putri memesan mi ayam yang menrupakan menu utama di sana. Mi ayam ini bukan mi ayam biasa, minya dibuat dari subtitusi tepung MOCAF. Selain itu, aku melihat-lihat produk lain yang terbuat dari tepung MOCAF, antara lain roti, brownis dan kue kering lainnya. Aku mencicipi roti dan brownisnya sebagai pencuci mulut, dan rasanya sama dengan roti pada umumnya. Ini mempertegas keyakinanku bahwa MOCAF memang dapat digunakan untuk mensubtitusi terigu di berbagai jenis makanan. Hal inilah yang ingin dikembangkan Prof. Achmad Subagio di Indonesia dan itu menjadi harapannya untuk bangsa ini.

Outlet Mister T
Outlet Mister T
Aneka makanan dari MOCAF
Aneka makanan dari MOCAF

Setelah MOCAF, apa lagi  ya makanan wajib di Jember?
Untuk makanan yang satu ini, selalu dibawa pulang mahasiswa rantauan yang kuliahnya di Jember. Warnanya hijau, berbentuk biji, dikemas kayak pete, apakah itu? Ya, Edamame.
Edamame adalah jenis panganan yang diproduksi di Jember. Edamame yang ada di Jember adalah kualitas ekspor ke Jepang, tpai benihnya bukan dari Indonesia. Benihnya diimpor dari Jepang dan dikembangan dan dikemas di Indonesia. Saat itu hari terakhir di Jember sebelum menuju ke kota berikutnya. Ide mencicipi Edamame ini berasal dari hasil perbicangan bersama Ka. Prodi THP di rumah makan seafood sehabis seminar. Edamame yang dijual di Jember berpusat di swalayan yang juga merupakan outlet pabrik edamame. Aku dan Poppy mengunjungi outlet tersebut dan membeli edamame kualitas ekspor. Sesampainya di kosan aku langsung mencicipi, rasanya memang enak dan pas untuk cemilan. Edamame kaya akan vitamin dan mineral, salah satu kelompok kacang-kacangan yang mengandung sejumlah nutrisi yang baik untuk kesehatan.

Edamame
Edamame

Sebenarnya masih banyak makanan-makanan khas dan unik dari daerah Jember yang belum terjamah olehku, karena keterbatasan waktu di sana. Pusat penelitian kakao juga terdapat di Jember, yang menurutku sayang untuk dilewatkan, meskipun lewat juga sih di depan pusat penelitiannya kalau mau ke stasiun. Tapi ada satu yang khas di Jember, yaitu makanan olehan tape singkong. Olahan fermentasi singkong sepertinya telah melekat di daerah ini. Prol tape, suwar-suwir hingga es krim yang kumakan saat pertama kali tiba di Jember itu semua bersensasi tape singkong. Itulah hal yang melekat jika berbicara soal kuliner di Jember.

Menarik sekali momen berkunjung di Jember ini. Hari-hari yang kulalui sungguh produktif. Beginilah caraku memproduktifkan diri, dengan berpetualangan dan menjadi musafir. Tujuan berikutnya adalah Malang. Ada cerita apa di Kota Bunga itu???? yang pasti selalu ada cerita indah dan menarik di setiap perjalananku. Tadi cerita ini kubuka dengan sebuah kalimat puitis dari Prof. Sugiono, sekarang aku tutup cerita di Jember ini dengan kalimatku sendiri:

“Hidup takkan berarti jika tidak dijalani, oleh karena itu “Jalan” dan berbagai tranformasi katanya harus dimaknai dan direalisasikan untuk mengartikan hidup ini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s