Merupakan momentum yang tepat ketika EEC UGM menerbitkan sebuah kompetisi blog yang mengangkat  tema “MENYOROT MAHASISWA MODERN: Idealisme VS Pragmatisme“. Mengingat peran generasi muda saat ini cenderung tidak berkarakter dan terbawa arus globalisasi yang kian deras. Intelektualitas menjadi senjata dalam memerangi hal tersebut. Terdapat banyak isu yang mengguncang kesejahteraan masyarakat di negara ini, semua itu memerlukan peran generasi muda dalam menjaga keseimbangannya. Namun, saat ini sikap pesimistis banyak muncul karena melihat banyak generasi muda yang cenderung tidak memikirkan keseimbangan tersebut. Pangan merupakan salah satu isu yang menarik untuk diangkat. Artikel ini menyorot peran generasi muda  khususnya mahasiswa yang menempati fase tertinggi sebagai insan yang siap pakai sebagai motor penggerak bangsa, bagaimana menyikapi isu ketahanan pangan bangsa ini.

Isu Ketahanan Pangan

“Dianaktirikan” oleh generasi muda, itulah tentang isu Ketahanan Pangan. Pangan menyangkut hidup matinya suatu bangsa. Jika pangannya tidak tertata baik, hancurlah bangsa itu. Pangan merupakan isu strategis yang sedang hangat dibicarakan di dunia dan sampai sekarang menjadi bom waktu bagi keberlangsungan hidup manusia di bumi ini. Mengapa tidak, setiap tahun penduduk dunia bertambah seiring dengan pertambahan kebutuhan pangan masyarakat dunia. Disamping itu perubahan iklim yang tidak menentu, pemanasan global dan penyempitan lahan pangan semakin berkurang. Hal ini merupakan ancaman bagi kesejahteraan umat manusia terkait pemenuhan pangannya.

Indonesia, bangsa yang “katanya” kaya akan sumber daya alam tidak dapat mangkir dari ancaman global kerawanan pangan. Makanan pokok masyarakat Indonesia adalah nasi. Sebagian besar orang Indonesia belum makan namanya kalau belum makan nasi. Ketergantungan tingkat akut ini membuat Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara pengkonsumsi beras di dunia, yaitu mencapai 139 kg/orang/tahun. Meningkatknya konsumsi nasi mengiringi peningkatan kebutuhan produksi beras Indonesia untuk memenuhi kebutuhan 3 kali sehari masyarakatnya. Masalahnya, ketersediaan lahan pertanian semakin menurun akibat alihfungsi lahan untuk industri, perumahan dan komoditas non-pangan. Selain itu, global warming yang menyebabkan cuaca tidak menentu, mengakibatkan kekeringan, banjir, tanah longsor, dan bencana lainnya merusak lahan pertanian sehingga mengurangi produktivitasnya. Benturan peristiwa tersebut merupakan ancaman bagi pemenuhan pangan di negara ini karena konsumsi nasi telah menjadi budaya dari generasi ke generasi di sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan impor beras merupakan hal yang wajar dilakukan untuk  memenuhi cadangan pangan masyarakat meskipun banyak yang menentang kebijakan ini karena bersifat pragmatis dan bertentangan dengan upaya kedaulatan dan kemandirian pangan yang ingin dicapai bangsa ini.

rice

Ancaman kerawanan pangan akan lebih riskan ketika ketergantungan konsumsi nasi ini tidak terbendung seiring dengan pertambahan penduduk yang kian meningkat dan mengharuskan pemerintahnya melakukan impor beras 100%. Kejadian ini dapat saja terjadi jika faktor-faktor yang termasuk alihfungsi lahan pertanian terus menerus terjadi diiringi kondisi cuaca ekstrem yang kerap melanda negeri ini. Kerawanan pangan ini akan mengakibatkan ketimpangan sosial semakin tinggi, kemiskinan, dan kelaparan. Apakah Indonesia akan mengalami hal tersebut? Tentu kita tidak mengharapkan itu terjadi. Salah satu cara yang efektif dalam menekan dan mencegah terjadinya  kekhawatiran tersebut adalah mengubah budaya ketergantungan dengan menekan serta mengurangi konsumsi nasi masyarakat Indonesia yang cenderung 3 kali sehari. Pertanyaannya, siapa yang akan melakukan ini?

Menyorot Peran Mahasiswa Dalam Isu Ketahanan Pangan

Makan nasi telah menjadi budaya sebagian besar masyarakat negeri ini. Dalam masalah ini, mengubah pola konsumsi masyarakat dari beras menjadi komoditi non beras sama halnya dengan mengubah budaya. Mengubah budaya adalah hal yang sangat sulit dan membutuhkan proses penyesuaian dan waktu yang lama. Membicarakan budaya tidak lepas dari masalah regenerasi, karena budaya diturunkan melalui generasi dan generasi mudalah yang menjadi objek penentu perubahan ini. Tetapi masalahnya, sebagian besar generasi muda sekarang belum sepenuhnya tahu dan mengerti, bahkan tidak mau tahu akan isu ini.

Mahasiswa yang merupakan generasi muda yang berstrata pendidikan lebih tinggi memiliki andil besar dalam menyokong perubahan ini. Kepedulian mereka sangat dibutuhkan dalam mendukung ketahanan pangan negeri ini. Membicarakan tentang regenerasi yang menjadi objek perubahan budaya, peran mahasiswa yang utama adalah mengetahui isu dan membangun kepedulian sehingga menjadi generasi yang dapat dijadikan senjata yang kuat untuk sebuah perubahan. Seiring hal tersebut, pemikiran merupakan jembatan penghubung antara kepedulian dan ide dalam mengubah budaya untuk menghindarkan masyarakat dari keterancaman yang tidak diinginkan.

Idealisme dan pragmatisme merupakan dua hal yang sering dipertentangkan. Ini masalah pemikiran ideal dan praktis di lapangan, tentang mimpi dan realita, tentang visi dan aplikasi, serta kesempurnaan dan manfaat.  Seharusnya kedua hal tersebut dapat saling mendukung perubahan jika posisinya didudukkan pada tempatnya dalam hal ini berkeadilan tumbuh dalam pikiran manusia. Menyorot peran mahasiswa, Idealisme dan pragmatisme seharusnya tidak dijadikan momok untuk memisahkan kedua hal ini dalam kehidupan sehari-hari utamanya dalam menjalankan peran sebagai agent of change. Terlepas dari sisi positif dan negatif keduanya, mahasiswa harus menempatkan dirinya dalam posisi yang benar berdasarkan pemikiran yang tepat.

Peran pemikiran mahasiswa dalam isu ketahanan pangan bangsa yang menjadi objek pembicaraan dalam tulisan ini sangat diperlukan untuk menunjang ide, aplikasi dan keberlanjutan upaya perubahan budaya pola konsumsi beras yang sangat tinggi di negeri ini. Sesungguhnya idealisme dan pragmatisme dapat ditilik dan dipetakan dari kebijakan pangan yang ada saat ini utamanya terkait pemenuhan beras masyarakat. Antara impor dan keinginan surplus beras nasional terdapat pertarungan idealisme dan pragmatisme di dalamnya. Kebijakan tersebut dipegang oleh pemerintah dengan menimbang dan memperhatikan kondisi bangsa dan faktor terkait. Ini tentang kebijakan yang diambil berdasarkan keseimbangan pemikiran idealisme dan pragmatisme. Sama halnya mahasiswa, sebagai agen of change dan generasi penerus bangsa yang kelak akan menjadi bagian dari objek dan penentu kebijakan berikutnya dituntut untuk dapat mengerti dan mendudukkan kedua paham tersebut dalam dirinya. Sehingga kebijakan dapat serta merta memihak kepentingan yang seharusnya disejahterahkan.

Aksi Pemuda Peduli Pangan9

Saat ini dengan kondisi dan realitas yang ada, banyak mahasiswa dalam tahap mencari passion, namun berkaitan dengan isu ketahanan pangan ini adalah masalah bersama dan lintas generasi sehingga passion membangun bangsa harus mengikutsertakan passion dalam membangun ketahanan pangan. Mahasiswa sepatutnya menjalankan perannya dengan didukung pengetahuan dan kepedulian. Pemikiran mahasiswa harus ditata dengan baik utamanya dalam hal mendudukkan idealisme dan pragmatisme-nya sebagai seorang terpelajar yang menyadari dirinya sebagai agen perubahan. Budaya konsumsi masyarakat di masa depan dapat diteropong dengan memandang kondisi masyarakat saat ini. Yang perlu dibangun adalah pemikiran sistematis dalam membangun visi generasi mendatang untuk memecahkan masalah yang muncul saat ini agar tidak menjangkit kehidupan generasi berikutnya. Ketergantungan konsumsi beras masyarakat dan keberancaman terhadap ketahanan pangan negeri ini di masa depan hanya dapat dicegah oleh generasi mudanya. Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan membangun kepedulian dan menata keseimbangan pemikiran generasi muda sehingga mampu menghasilkan ide-ide yang visioner dan penerapan yang tepat di kemudian hari.

Untuk membangun antusiasme generasi muda agar peduli terhadap isu ketahanan pangan saat ini, perlu dilakukan pembiasaan dan pembangunan wacana. Pembangunan wacana ini seyogyanya dapat dilakukan oleh mahasiswa yang telah belajar meramu kata dan membaca lingkungan sejak di bangku perkuliahan. Semakin wacana ketahanan ini diintensifkan pada generasi muda, semakin besar pula perhatian pada wacana ini. Kemudian kepedulian serta ide-ide cemerlang akan tumbuh mewarnai pencegahan kerawanan pangan di masa yang akan datang. Ketahanan pangan dibangun dari pemikiran yang tepat hingga aplikasi yang efektif ke masyarakat. Mulai dari sekarang, dengan pemikiran generasi mudanya, untuk masa depan bangsa yang bermartabat.

2 thoughts on “Ketahanan Pangan: Menyorot Peran Generasi Muda

  1. di Sumatera Utara, ada sebuah tradisi yang dinamakan MANGGADONG.
    ada baiknya HMPPI membuat link ke BADAN KETAHANAN PANGAN PROVINSI SUMATERA UTARA yang telah mensosialisasikan program MANGGADONG tersebut.
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s