Ini tentang perjalanan di kota Solo nan etnik. Aku, Wahyu dan Danang adalah tiga mahasiswa yang selalu bersama sejak semester awal kuliah hingga menjajaki tahun terakhir menjadi mahasiswa saat sekarang. Waktu itu, Aku menyadari bahwa ini tahun terakhir kami sebagai mahasiswa, namun di tahun terakhir itu kebersamaan kami tampak renggang akibat intensitas perkuliahan semakin sedikit dan utamanya kesibukan masing-masing akan penelitan dan tugas akhirnya. Suatu hari Aku memutuskan mengajak mereka jalan-jalan bertiga untuk mengembalikan semangat kebersamaan itu lagi. Kami memutuskan untuk ke Solo pada tanggal 22 Desember 2012, tepatnya di hari Ibu. Kami berangkat menggunakan kereta Prambanan Ekspres menuju Solo dan turun di stasiun Purwosari. Keluar dari stasiun kami memutuskan untuk jalan kaki menuju tempat-tempat wisata yang ada di kota Solo. Setelah berjalan beberapa menit, sampailah kita di sebuah jalan protokol yang bernama Jalan Slamet Riyadi. Di jalan inilah petualangan wisata dimulai.

Solo

Memasuki Jalan Slamet Riyadi, langkah kaki semakin hentak ke tanah, tandanya kami semakin bersemangat. Kami menyebrang jalan melalui jalur pejalan kaki yang rindang. Seandainya setiap tempat punya jalur pejalan kaki seperti ini, saya yakin orang lebih senang jalan kaki daripada naik kendaraan. Begitu rindang, udaranya sejuk dan di setiap beberapa meter terdapat kursi taman yang nyaman untuk beristirahat. Kami tiba di sebuah tempat wisata yang di halamannya terdapat dua buah meriam yang berdiri kokoh tepat di bawah pohon yang rindang. Taman Sriwedari, tertulis di pintu gerbangnya yang besar, di dalamnya telah menunggu sepasang patung pria dan wanita yang sedang berpose romantis. Langsung saja kami mengambil gambar, meskipun kami tidak masuk ke bagian dalam Taman Sriwedari.

Graphic1

Museum Radya Pustaka

Setelah sejenak berteduh di halaman Taman Sriwedari, kami melanjutkan perjalanan beberapa puluh meter dari Taman Sriwedari. Sampailah di Museum Radya Pustaka Surakarta. Dengan rogoh kocek Rp 10.000,- kami sudah bisa menikmati peninggalan-peninggalan sejarah di museum ini. Museum Radya Pustakan merupakan museum tertua di Indonesia, didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh KRA Sosrodiningrat IV.  Awalnya gedung ini bernama Loji Kadipolo, kemudian dibeli oleh Paku Buwana X dari Johannes Busselaar seorang Belanda. Dalam museum ini terdapat berbagai jenis peninggalan berupa naskah dan buku kuno, alat musik, arca, senjata hingga guci dan hadiah-hadiah dari raja-raja luar negeri. Salah satu yang membuatku tertarik, terdapat beberapa hadiah yang diberikan kepada raja Paku Buwana yang berasal dari Napoleon Bonaparte (Raja Perancis) yang terkenal. Hadiah itu berupa guci keramik berwarna merah dan Orgel yang merupakan kotak musik dari Perancis. Selain berbagai benda tersebut, di dalam museum juga terdapat perpustakaan kecil yang berisi buku-buku kuno tentang surakarta dan Jawa pada umumnya. Saat itu aku teringat dengan isi buku Andreas Maryoto yaitu “Jejak Pangan” yang isinya terdapat penjelasan Serat Centhini dikaitkan dengan makanan tradisional jaman kerajaan jawa dahulu.

Graphic2

Tentang Serat Chentini

Siang itu perpustakaan tampak sepi, hanya diisi oleh petugasnya. Suasana di ruang perpustakaan sangat sejuk ditambah bau khas buku-buku tua yang berjejeran di lemari. Langsung saja aku menanyakan kepada petugasnya buku kuno tentang pangan. Mereka ragu akan adanya buku khusus tentang pangan, mereka hanya memberikan ensiklopedia tentang upacara-upacara Jawa yang mungkin di dalamnya terdapat petunjuk dan penjelasan tentang pangan. Kemudian aku bertanya lagi tentang literatur Serat Chentini. Dibawakannya beberapa buku-buku yang berkaitan dengan Serat Centini. Lengkap dan lumayan tua buku-buku itu. Aku sangat senang dan sepertinya kegelisahanku tentang pangan di Serat Centhini mulai terjawab. Kubuka satu-persatu buku tua itu dan kucari keterkaitannya tentang pangan. Buku yang menarik perhatianku adalah novel terjemahan Elizabeth D. Inandiak. Novel ini mengungkap isi Serat Chentini yang awalnya ditulis dalam bahasa Perancis.  Serat Chentini diterjemahkan awal oleh orang Perancis, sehingga tidak heran cerita Serat Chentini banyak dipublikasikan oleh orang Perancis termasuk Elizabeth ini.

Serat Chentini merupakan kompilasi berbagai ilmu pengetahuan terkait kehidupan masyarakat Surakarta sekitar abad ke-19. Orang banyak mengenal Serat Centhini karena isinya yang sangat seksi mendekripsikan seksualitas. Serat Centhini banyak berisi tentang seksualitas dan upacara ritual serta cerita-cerita yang dikaitkan dengan kerjaan Surakarta dahulu.. Kalimat seksualitas yang dimaksud misalnya:

Dan begitulah mereka duduk, satu dan lainnya, dengan si lelaki dalam kedudukan sedikit miring diantara kedua kakinya. Mereka memamah sirih sepenuhnya sambil goyang bersetubuh, menutup mata menyelaraskan diri dengan turunnya lingga buta ke jurang liang sanggama.

Terlepas dari unsur seksualitas yang banyak dipaparkan dalam Serat Chentini, aku terfokus mencari cerita terkait pangan sembari asik membaca karya indah terjemahan penulis Perancis tersebut. Bahasanya yang manis dan mudah dicerna membuatkan senyam-senyum membaca karya besar milik Indonesia ini. Kembali keterkaitan pangan dalam Serat Chentini, hal tersebut banyak dibahas pada acara-acara ritual dan perayaan pesta masyarakat Surakarta terdahulu. Yang paling menonjol adalah tentang sesajen pesta dan deskripsi makanan haram yang detail dijelaskan dalam karya ini. Seperti yang dikutip dalam isi novel Elizabeth misalnya:

Tembang 3

Dikisahkan bahwa selama hajatan perkawinan, Syekh Walilanang pantang menyentuh hidangan haram. Ia memohon kepada Allah agar semua makanan terlarang itu dihidupkan kembali. Demikianlah sate babi gula aren, gulai ular sendok masak arak, kaki celeng isi tahu, kue buah pelir macan akil-balik, jantung tim saren genjik, pepes daging dan binatang jorok atau buruan lain yang dikukus dengan seratus rasa kasmaran kembali ke wujud asalnya dan dengan segera naga-naga, induk babi, genjik, harimau, babi dan celeng, melata dan berlarian di sela-sela meja pesta seraya kentut sepuas-puasnya untuk menyatakan puji-syukur mereka kepada yang Maharahim.

Yang paling utama yang mendeskripsikan tentang pangan dalam Serat Chentini adalah ketika diadakannya pesta yang dirangkaikan acara pewayangan diiringi musik gamelan dan tari-tarian. Ritual dan hiasan-hiasan dari hasil bumi disajikan. Nasi Tumpeng dengan sembilan jenis, ubi, beras dan buah-buahan merupakan bagian dari sesajen. Mi ayam, soto bebek, minuman panas, bergula atau bermerica pun tak luput dari bahasan makanan pengisi pesta. Sangat unik dan menarik membaca literatur dan cerita khasanah pengetahuan peninggalan orang jawa dahulu ini.

Pangan adalah aspek vital dalam kehidupan manusia. Terkait pangan tradisional yang sering kita konsumsi sekarang, patutnya kita harus sedikit tahu kronologis turun-temurunnya agar kita dapat menanamkan sifat pelestarian terhadap kekayaan budaya tersebut. Makanan adalah bagian dari suatu kebudayaan, mengenal budaya Jawa khususnya artinya harus mengenal makanannya. Semua tertuang dalam peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu berupa cerita dan aplikasi hidup yang turun temurun. Bagaimana kita, generasi muda menjaga khasanah itu? Mari kita mulai belajar, mencari tahu tentang semua itu. Belajar tentang Serat Chentini ini telah manambah kehausan pengetahuanku tentang budaya pangan di nusantara ini. Setiap daerah punya cerita pangannya sendiri, karena pangan adalah bagian dari kebudayaan.

Karena sudah cukup lama di dalam perpustakan, kami memutuskan untuk beranjak dari museum. Sangat disayangkan hanya menghabiskan waktu belajar di perpustakaan itu sekitar 30 menit. Itu hanyalah awal, mungkin saja akan ada kunjungan kedua dan seterusnya untuk belajar Serat Chentini di museum Radya Pustaka. Kami pun beralih ke tempat wisata berikutnya dan masih dalam jalur Slamet Riyadi Solo.

Graphic3

Mi Ayam Super murah dan Es Kapal Tempo Doeloe

Setelah keluar dari museum, kami menuju seratus meter ke arah sebelum museum. Di sana adalah tempat makan yang biasa dikunjungi Danang bila ke Solo. Terdapat dua gerobak yang berdempetan dan ramai disambangi oleh pelanggan. Mi Ayam adalah topik makan siang kali ini ditemani dengan minuman dengan nama unik Es Kapal Tempo Doeloe. Menurutku, Mi Ayamnya juga gak kalah unik. Harganya yang sangat unik. Seporsi mi ayam dengan mangkung yang penuh ditambah kerupuk dua bungkus hanya seharga Rp 5.000 perak. Kenyangnya dapat, murahnya juga dapat. Tentang Es Kapal Tempoe Doeloe tadi, satu hal penyesalanku adalah menanyakan asal mula nama yang unik itu. Yasudahlah, mungkin rasa penasaran itu akan menggiringku jalan-jalan ke Solo lagi di waktu berikutnya.

Menurutku, Solo adalah surganya mahasiswa karena makanannya yang murah-murah, orangnya ramah-ramah dan jalannya pun teduh-teduh. Maka dari itu setiap ada waktu luang, liburan murah yang tepat untuk dilewatkan adalah ke Solo.

Graphic4

Mesjid Ageng dan Keraton Solo

Setelah menikmati makan siang, terjadilah kebimbangan untuk beranjak ke destinasi berikutnya. Keraton solo, adalah tujuan selanjutnya namun jarak yang bisa dibilang jauh gak juga dan dibilang dekat gak juga membuat kami mimbang antara naik Batik Solo Trans atau jalan kaki. Mengingat cuaca yang cukup terik, kami memutuskan menyebrang jalan menuju halte Batik Solo Trans. Beberapa menit kami menunggu, bus tak kunjung datang. Kami mengubah keputusan dan akhirnya berjalan kaki menuju Keraton Solo. Jalan Slamet Riyadi adalah jalan terpanjang di Solo, saat itu kami berada di sekitar pertengahan jalan, artinya menuju ke Keraton Solo membutuhkan jarak tempuh yang sama dari awal kami berangkat (Stasiun Purwosari) sampai museum, dan museum menuju Keraton Solo. So far, kami masih menikmati jalan-jalan ini.

Beberapa menit berjalan, kami melihat bus Batik Solo Trans lewat dan perasaan kami saat itu berkata wow………
Kami terus melanjutkan perjalanan melewati jalur yang rindang sebagai penolong. Akhirnya kami tiba di sekitar alun-alun keraton. Waktu menunjukkan hampir pukul 2 siang, kami memutuskan untuk mampir di Mesjid Ageng Surakarta untuk Shalat Dzuhur. Saat itu suasana Mesjid sedang dalam tahap renovasi, namun dari luar mesjid masih tampak kemegahan dan keindahan atap dan menaranya yang bagaikan lukisan maestro agung dengan berlatar birunya langit yang dihiasi gelembung awan putih. Eksotisme mesjid dapat kurasakan dengan disandingkan bersama langit biru yang cerah.

Graphic5

Setelah menunaikan kewajiban shalat fardhu, kami melanjutkan masuk ke kompleks bagian dalam keraton. Tampak dari luar keraton tampak kecil, namunsetelah masuk kami disambut dua meriam besar yang kata Danang tidak terdapat di keraton Yogyakarta. Daerah pendopo dekat meriam tampak sepi, kami mengira keraton hanya halaman itu. Ternyata kata penjaga di sana, keraton masuk lagi ke dalam melewati gerbang pendopo itu. Kami pun beranjak berjalan sekitar 100 meter lebih dan menemui gerbang dengan patung Paku Buwana terpampang di depannya. Kami masuk ke dalam dan terdapat halaman luas yang rindang melintang di tengah keraton tersebut. Setelah itu, kami masuk lagi ke bagian dalam dan diwajibkan untuk melepas sandal atau sepatu. Selain itu wanita dengan celana di atas lutut diwajibkan memakai sarung sebagai wujud kesopanan dan menghormati aturan keraton Solo.

Siang itu keraton dalam tahap renovasi, dan kami menyambangi sebuah bangunan yang di luarnya terpajang patung-patung putih gaya Eropa dan bersayap. Sayangnya, kami pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas bangunan pendopo yang luas itu dan hanya mampu memotret dari luar. Setelah itu, kami keluar lagi ke bangunan sebelumnya dan memasuki ruang-ruang yang berdekatan di sepanjang bangunan dalam keraton. Isi setiap ruang berbeda-beda mulai dari foto-foto keluarga keraton, kereta-kereta tua hingga alat untuk memasak nasi untuk banyak orang yang muat ratusan kg beras. Suasana mistik sangat tampak di setiap ruangan karena lampunya yang agak redup dan kuning serta bentuk bangunan yang agak kuno, mengingatkanku akan Lawang Sewu di Semarang.

Graphic6

Puas sudah perjalanan kami hingga ke keraton Solo. Kami beranjak meninggalkan keraton diiringi dengan gerimis yang sejuk. Sore itu kami memutuskan untuk langsung pulang menuju stasiun Solo Balapan dengan jadwal kereta pukul 16.00 WIB. Dari Keraton Solo kami melalui jalan depan dan tembus tepat di depan patung Slamet Riyadi Solo yang berarti ujung jalan Slamet Riyadi. Wah, ini perjalanan yang melelahkan nan mengasyikkan, penuh dengan imajinasi dan pengetahuan serta dramatis. Ada satu hal yang belum kuungkap di awal tentang perjalanan ini. Kami menetapkan modal jalan-jalan ini hanya Rp 50.ooo termasuk biaya transport, makan dan tiket masuk wisata.

Keputusan taktis ini mengembalikan semangat kami bertiga yang sejak awal masuk perguruan tinggi sering bersama bertiga. Mulai dari pulang nge-bus bareng, jalan kaki dan mampir beli es krim bareng, jalan-jalan menyusuri jogja bareng hingga membangun keaktifan organisasi bareng-bareng. Semangat bareng-bareng itu kubangun lagi dengan jalan-jalan ini. Kebersamaan ini akan terus dijaga dan dipupuk hingga tua dan untuk menjadi cerita inspirasi untuk generasi keturunan kami kelak tentang indahnya kebersamaan. Satu hal kusyukuri bahwa bersama teman semuanya menjadi indah.

Untuk pembaca blogku yang setia, kalau hubungan dengan teman dekat kalian dirasa mulai renggang akibat kesibukan dan sebagainya, lakukan sesuatu untuk merajut kemesraan itu kembali, buatlah hal yang bisa kita kenang bersama, selama-lamanya.

Wassalam

14 thoughts on “Menyusuri Jalan Slamet Riyadi Solo: Tentang Wisata, Pengetahuan dan Kebersamaan

  1. mas conan iki tulisan macam racun untuk menghantar ke solo beneran hehehe…
    okey nanti semoga segera bisa berbaur dengan suasana solo untuk menapaki panduan jalan2 mas conan dkk..
    nuwun, salam kenal…

    hore….

  2. Selamat ttg kebersamaannya!
    Berarti anda mendapatkan berbagai macam hal menarik itu hanya disatu jalan saja di jl slamet riyadi ?

  3. kenangan yang tak mungkin terlupakan
    kalimat terakhir yg akan ku lalui besok pagi 2 juni 2015 dengan kedua temanku ; vhalendya dan kris, mungkin cerita mas ulil, mas danang n mas wahyu bisa membantu dalam perjalanan kita.
    karena kita sibuk dengan kuliah mungkin comot dikit dari cerita mas ulil bisa membuat kita sejenak menghilangkan stres karena mata perkuliahan

    matur nuwun mas, salam kenal..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s