Tahun 2012, Indonesia mulai melangkahkan kakinya menuju tingkat kerawanan gizi yang lebih tinggi yaitu terkait protein. Kontras pada tahun ini dua sumber protein masyarakat mulai terancam, yang pertama adalah kedelai dan yang kedua (sekarang) adalah daging sapi. Kedua komoditas ini merupakan bahan pangan untuk pemenuhan protein masyarakat kita, namun “penyakit” yang sama terjadi pada keduanya yaitu tidak cukupnya bahan baku domestik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 250 juta jiwa dengan presentase kenaikan 1,5% tiap tahunnya.

Kedelai dibuat tahu dan tempe, daging sapi dibuat bakso dan rendang, beberapa makanan dominan di Indonesia sebagai sumber protein. Teringat saat harga kedelai tiba-tiba melambung di pasar tradisional menjadi Rp 8.000/kg, pedagang tahu tempe mogok produksi, rumah tangga keteteran mencukupi kebutuhan protein keluarganya. Tercatat dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2011 produksi kedelai dalam negeri adalah 851.286 ton atau sekitar 29% dari kebutuhan kedelai dalam negeri. Sisanya dipenuhi dengan impor kedelai 2.087.986 ton. Petani pun tidak berani berjudi menanam kedelai domestik dengan tanggungan kerugian, karena kedelai impor lebih murah dan tampilannya lebih bagus daripada kedelai lokal. jika berlarut seperti itu, tidak heran jika impor kedelai semakin hari semakin bertambah akibat keengganan petani untuk menanam kedelai. Sumber protein masyarakat Indonesia akan lebih bergantung lagi terhadap impor.

Sekarang, mendekati penghujung tahun 2012 saya mengamati di beberapa koran ternama di Indonesia telah memajang berita tentang kenaikan harga daging sapi selama beberapa hari di halaman depan sebagai berita utama. Bayangkan dalam kurun waktu beberapa minggu kenaikan harga sapi dalam negeri di pasar tradisional meningkat hingga Rp 150.000/kg dari harga semula sekitar Rp 40.000/kg. Fenomena yang menggegerkan para produsen daging sapi di Indonesia utamanya di pasar-pasar tradisional Ibukota Jakarta dengan tingkat kebutuhan daging sapi yang tinggi.  Seperti fenomena lonjakan harga kedelai, pedagang daging sapi pun menggelar aksi mogok produksi di berbagai pasar tradisional. Kenaikan daging sapi disebabkan oleh jatuhnya pasokan impor sapi ke dalam negeri dibarengi dengan jumlah ketersediaan sapi domestik yang tidak memadai.

Sebenarnya dihitung dari jumlah sapi kita di Indonesia, cukup memenuhi untuk kebutuhan konsumsi daging masyarakat yaitu 14,5 juta ekor (BPS). Dari jumlah sapi tersebut, untuk konsumsi memiliki kriteria beragam termasuk sapi jantan berumur di atas 2 tahun dan sapi betina yang tidak produktif lagi beranak di atas 8 tahun, dominansinya adalah sapi jantan. Jumlah sapi jantan tersebut yang sangat minim, hanya sekitar 11% dari jumlah sapi di Indonesia, sementara kebutuhan sapi potong untuk konsumsi sekitar 21% dari jumlah sapi yang dimiliki. Kebutuhan daging sapi dalam negeri tahun 2012 diproyeksi sekitar 484.060 ton, terdiri dari 399.320 ton daging lokal dan sisanya sebesar 84.740 ton daging impor. Oleh karena itu impor sapi untuk pemenuhan konsumsi daging masyarakat adalah mutlak saat ini.

Sama halnya fenomena kedelai, berdasar pada proyeksi pertambahan penduduk Indonesia 1,5% tiap tahunnya maka kebutuhan daging sapi pun setiap tahun meningkat dari 2 kg/kapita/tahun diprediksi meningkat menjadi 2,2 kg/kapita/tahun, masih jauh lebih rendah dibandingkan negara maju seperti Jerman dengan konsumsi sekitar 50 kg/kapita/tahun. Namun ironisnya, di berbagai daerah di Indonesia kebanyakan di daerah timur, produsen sapi mulai menurun akibat kelangkaan. Adanya penurunan tersebut otomatis akan berdampak dengan meningkatnya impor sapi di periode berikutnya.

dua komoditi sumber protein rakyat Indonesia
dua komoditi sumber protein rakyat Indonesia

Rawan Gizi Protein

Kedelai dan daging sapi merupakan bahan sumber utama protein yang termasuk dalam piramida makanan. Ketersediaan dua bahan pangan ini menunjang pemenuhan protein masyarakat Indonesia untuk kecerdasan anak bangsa. Meskipun bahan pangan sumber protein lainnya tersedia, namun tingkat konsumsinya pun tak sebanding dengan kedelai dan daging sapi. Misalnya saja ikan, konsumsinya belum menjadi prioritas di negara maritim ini. Selain itu, konsumen protein mulai beralih kepada peningkatan konsumsi telur dan daging ayam, namun ini masih kurang menjamin karena tingkat konsumsi daging ayam dan telur masyarakat kita  pun rendah dan masih di bawah negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Fenomena kenaikan harga kedelai dan daging sapi tahun ini sungguh mempengaruhi pola asupan gizi protein masyarakat Indonesia.

Asupan protein mempengaruhi pertumbuhan fisik dan kecerdasan seseorang. Kelahiran kerdil dan rentan penyakit pada bayi bisa disebabkan karena asupan protein ibunya tidak terpenuhi. Penyakit defisiensi zat gizi essensial saat bayi dapat berdampak buruk pada pertumbuhannya di masa depan, mempengaruhi pertumbuhan fisik dan mentalnya saat dewasa, menghasilkan pemuda yang kurang produktif akibat keterbatasan fisik dan mental. Tentunya resiko ini akan terjadi pada masyarakat miskin yang merasakan langsung dampak kenaikan harga sumber protein utamanya kedelai yang selama ini bisa mereka jangkau. Kekurangan asupan protein juga dapat mempengaruhi stabilitas fisik seseorang termasuk pemulihan luka yang lambat, tekanan darah rendah, penyusutan otot dan edema hingga penurunan tingkat kecerdasan.

Suatu saat jika angka kelahiran dan kemiskinan semakin meningkat, seiring dengan instabilitas harga protein yang tak kunjung diselesaikan secepatnya maka penyakit akibat defisiensi protein mengancam sebagian besar masyarakat utamanya tingkat bawah yang tidak berkecukupan untuk memenuhi asupan protein mereka sehari-hari. Hal tersebut akan mengancam pertumbuhan anak-anak Indonesia, kecerdasan semakin merosot mempengaruhi kualitas pembangunan bangsa di masa depan.

Peran Pemerintah

Permasalahan kenaikan harga kedelai dan daging yang sempat menjadi trending topic media massa di tahun 2012 ini secara nyata berdampak bagi pemenuhan asupan gizi essensial masyarakat yaitu protein. Untuk mencegah masalah sampai ke kekhawatiran tersebut, pemerintah harus menanta rapi sistem pasokan pangan yang menjadi bahan utama intake gizi di masyarakat seperti kedelai dan daging sapi. Mengoptimalkan kembali pos-pos ternak sapi dan tempat pemotongan di daerah-daerah tengah dan timur melalui jaringan BUMN merupakan langkah yang perlu dilakukan mengingat dampak defisiensi protein banyak dialami masyarakat di sebagian wilayah Indonesia tengah dan timur.

Belajar dari peristiwa melonjaknya harga kedelai dan daging sapi tahun ini, pemerintah harus menyiapkan strategi penataan pasokan bagi komoditas-komoditas pangan lainnya yang rawan terhadap masalah instabilitas harga. Biasanya bahan-bahan pangan yang rawan tersebut sebagian besar yang kita impor seperti gandum, tepung terigu, kentang dan beras. Penataan tentunya harus dilakukan dan disiapkan mulai sekarang agar suatu saat jika terjadi masalah pasokan impor tidak menjadi shock therapy bagi produsen dan konsumen di pasar. Selain itu, pemerintah harus bertindak tegas dan berhati-hati terhadap oknum-oknum yang mencoba melakukan kolusi dalam hal pasokan impor bahan pangan di Indonesia. Artinya, pembenahan internal dan eksternal perlu dilakukan untuk penataan sistem pangan yang rapi menuju Indonesia yang sehat, cerdas, dan bermartabat.

Muhammad Ulil Ahsan
Undergraduate Student
Faculty of Agroindustry
Mercu Buana University of Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s