“Tanniya iko bawang melo tuo ki linoe
engka mofi matu wija sibawa appomu melo mondroi
Taro-tarongengngi kasi’ ye kessi-kessinna linoe” 

Assalamualaikum…..

Waktu buka-buka twitter, tiba-tiba terarah kepada tranding topic di media saat ini yaitu 60+ alias Earth Hour. Iseng-iseng menjelajahi program ini, ternyata aku mulai tertarik. 60+ ini merupakan program sederhana dengan inti gerakannya mematikan lampu selama 60 menit pada waktu tertentu dan dilakukan secara bersamaan dalam satu daerah, kota besar atau negara. Targetnya sih ibukota negara atau pusat keramaian.

Ancaman global warming saat ini yang menggerakkan mereka membangun gerakan ini, gerakan real dan sederhana. Memadamkan lampu hanya 1 jam pada tanggal 31 Maret pukul 20.30 waktu setempat. Masuk akal dan coba bayangkan! Berapa banyak manfaat yang bisa diperoleh di tengah-tengah pemakaian energi besar-besaran saat ini.

It’s for saving the earth!

Abis mengeksplorasi 60+ ini, spontan kuingatkan teman-teman asrama yang kebetulan nongkrong dikamar untuk bersiaga mematikan lampu jam 20.30. Awalnya mereka bingung, tapi langsung mengerti setelah dijelaskan sedikit tentang 60+ ini. Sambil nunggu waktunya, kami turun ke ruang TV untuk mengingatkan teman-teman yang lain. Dan memang masih banyak yang tidak tahu apa itu 60+ bahkan ada yang agak kurang setuju dengan itu. Aku jelaskan sedikit sambil berguyon melihat kondisi anak-anak asrama yang cuek dengan hal-hal seperti ini, apalagi kalau ini akan mengganggu kesenangan mereka saat main kerambol di malam hari. Wajar sih, ini juga spontan saya lakukan.

Ting…tong…. Tiba pukul 20.30

Awalnya, melihat kepesimisan teman-teman menjalankan program ini, aku niatnya untuk mematikan lampu dan listrik kamarku sendiri. Kemudian aku menjelajahi pelosok asrama, ternyata banyak anak-anak yang lagi gak stand by di asrama alias lagi malam mingguan di luar. Aku dan beberapa teman memutuskan untuk mematikan lampu di lorong asrama lantai 2, lantai 1, WC, parkiran, TV, serta kamar teman-teman lainnya yang lagi kosong. Kita memutuskan untuk berkumpul di ruang TV dan lampu tempat itu yang kita nyalakan karena buat penerangan main kerambol. Sebenarnya lampu ruang TV bukan satu-satunya lampu yang menyala, tapi ada beberapa kamar anak-anak asrama yang ditinggal terkunci dan tidak mematikan lampunya.

Menunggu 60 menit berlalu kami sambil bermain kerambol, kemudian datang teman asrama yang satunya dengan ekspresi heran. Ikut ngumpul bareng kami di ruang TV, sambil ngobrol dan bertanya

Teman:”Maga na mate lampue??”(Kenapa lampunya dimatikan?)

Aku: “Program Earth Hour, untuk bumi, hehehe

Tanniya iko bawang melo tuo ki linoe (Bukan kamu aja yang mau hidup di dunia ini)
engka mofi matu wija sibawa appomu melo mondroi (masih ada anak dan cucumu yang mau tinggal)
Taro-tarongengngi kasi’ ye kessi-kessinna linoe (simpankan buat mereka baik-baiknya bumi)”
Bahasa bugis ini spontan terucap dari mulutku sambil senyum bersemangat ngejelasin kenapa kita mematikan lampu asrama.

Agak terkesima juga sih melihat antusias teman-teman asrama putra Wajo dalam menjalankan program ini. Rela mematikan lampu kamarnya,  ikut kita kumpul di ruang TV dan menunggu selama 60 menit untuk nyalain lampu lagi.

Gak nyangka aja, selama ini, kalau listrik atau lampu lagi padam beberapa menit, mereka pasti udah pada teriak-teriak kayak ada maling, “woy, kenapa lampunya mati ?”, sambil ngeluh, dan ekspresi kekesalan lainnya. Tapi untuk 60+ ini mereka merelakan waktunya sejam dengan sadar akan penyelamatan bumi.

Akhirnya 60 menit berlalu, waktunya tak terasa karena kami menunggu sambil ngobrol dan main kerambol. Aku langsung naik ke kamar dan memutuskan menulis cerita menarik ini di blogku. Mengingat makna logo 60+ itu selain 60 menit mematikan lampu, tanda (+) menyimbolkan sikap berkelanjutan. Artinya tidak hanya momen hari ini kita mematikan lampu, tetapi ini diharapakan menjadi kegiatan berlanjut untuk penghematan energi di bumi ini untuk pelestarian planet indah ini dan kesejahteraan anak cucu kita kelak.

Wassalam

Yogyakarta, 31 Maret 2012

One thought on “Cerita 60+ di Asrama Putra Wajo, Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s