Melihat keadaan saat ini yang menggetarkan perasaanku. Rencana kenaikan harga BBM. Statusku sebagai mahasiswa, pertanggungjawabanku sebagai penerus bangsa, pegawal kebijakan dan control sosial. Posisiku sebagai pejuang pangan, melihat kebijakan ini sungguh miris rasanya. Meski kita tahu kenaikan harga BBM akan membawa dampak besar bagi rakyat, uatamanya terhadap pangan.

Selain harga pangan akan naik, tak menutup kemungkinan distributor-distributor kotor juga akan bertambah. Serigala-serigala ganas akan merajalela. Kelaparan merajalale, kuantitas warga miskin akan bertambah, gizi buruk akan meningkat. Semua berdampak kepada sikap dan perilaku generasi muda yang akan terbiasa dengan kehidupan kasar penuh penindasan pemikiran dan fisik dari kaum kapitalisme yang tidak beradab. Aku tidak bisa membayangkan Indonesia di masa depan yang miskin semakin miskin, kaya semakin kaya. Yang miskin akan merasakan hidup layaknya orang mati, tidak ada gunanya untuk hidup di tanah Indonesia.

Aku ingin demo, sangat ingin…..!!!

Malam ini tepat pukul 20.45 WIB, ibuku menelepon dan berkata “Nak, tolong jangan ikut demo, ibu tidak tahan melihat orang-orang demo di TV, mereke seperti bukan mahasiswa lagi, anarkis. Mohon jangan seperti itu nak, hindari itu nak”. Percakapan itu menggunakan bahasa Bugis.

Sebagai anak yang berbakti, titah ibuku adalah sebuah kewajiban nomor 2 dari perintah Allah SWT. Ridho ibu adalah ridho Tuhanku. Apa daya, aku hanya bisa menelan ludah. Satu hal yang hanya bisa kupikirkan adalah sebuah alternatif.

Altenartif gerakan, ya…!
Sejenak aku berpikir, apakah demonstrasi adalah sebuah kewajiban mahasiswa yang harus dilakukan untuk menjawab dan memberikan solusi atas sebuah kebijakan?. Baru saja aku menyelesaikan halaman terakhir buku Komunikasi Propaganda. Di dalamnya dijelaskan teori-teori propaganda yang tidak lepas dengan isu, dan isu itu berkutat saat ini (tentang BBM). Isu dan propaganda tidak dapat dipisahkan dengan opini publik. Opini publik bergerak di kisaran isu.

Kita, saat ini berdasarkan definisi publik, berada dalam posisi sebagai publik mahasiswa pangan. Adanya perbedaan pandangan, sikap, pemikiran, sifat yang signifikan terhadap kenaikan harga BBM nantinya disebut opini publik. Faktor definisi opini salah satunya adalah ekspresi pendapat. Saat inilah kita di-galau-kan oleh ekspresi pendapat itu.

Aku ingin demo, sangat ingin…!!!!!

Ekspresi pendapat hal yang mutlak dalam definisi opini publik. Lumrahnya ekspresi publik dalam bentuk kata-kata yang dituliskan atau diucapkan. Saat ini kepalan tangan, lambaian tangan, bahkan helaan nafas dari publik juga dapat diartikan sebagai ekspresi pendapat. Dan memang tidak ada definisi dan kesepakatan baku tentang ekpresi publik.

Aku membayangkan, kita (Aku, kamu dan mereka), memiliki ekspresi yang bervariasi dalam memperjuangkan rakyat. Namun ekspresi itu tepat sasaran dan membawa dampak yang benar-benar terasa. Kita bebas berekspresi tapi tidak anarkis, tidak menimbulkan sara dan masalah baru yang berkepanjangan. Kita, mahasiswa harus memiliki posisi dan daya tawar. Tidak mengorbankan kredibilitas mahasiswa sebagai kaum intelektual hanya untuk pencitraan gerakan yang sia-sia.

Aku memimpikan, sebuah gerakan, yang murni dari hati nurani bersih mahasiswa dipadukan dengan pemikiran cerdas intelektual yang terstruktur. Menusuk hingga ke jantung kebijakan, menghasilkan solusi yang menjamin kesejahteraan. itulah kepedulian, bertindak nyata dan berkelanjutan (kontinyu). Dibutuhkan komitmen dan konsistensi dari kalian kaum muda intelektual.

Untuk itu, mari kita susun gerakan kita, opini kita, rencana kita, kontribusi kita untuk hal yang satu ini. Kita analisis dampak kebijakan BBM tidak sekedar melihat dari bingkainya. Kita analisis lebih jauh lagi. Dengan bacaan, tulisan dan diskusi.

Saya mengajak teman-teman untuk bertindak, berpikir, bersuara. Janganlah kita menjadi apatis akan hal ini. Minimal ada yang bisa mewakili kita sebagai wakil mahasiswa pangan, pejuang kesejahteraan masyarakat. Tidak seperti para legislatif yang katanya adalah perwakilan rakyat tetapi tidak menampakkan batang hidunya dalam hal memperjuangkan rakyat saat ini.

Kawan, kumohon….!!!

Jika gerak tubuhmu tertahan, lisankanlah gerakanmu…
Jika lisanmu tak terdengar, tuliskanlah perjuangan…
Juka tulisanmu tak tergubris, lapangkanlah dadamu
Perjuangkan hati nurani dan pikiranmu untuk tetap teguh dalam pendirian.

Sesungguhnya amal yang dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun sedikit (Muhammad SAW).
Man jadda wajada…!!!

Salam,
Peduli, Nyata, Berkelanjutan

Yogyakarta, 21 Maret 2012

Muhammad Ulil Ahsan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s