Jalan-jalan ke kota Pekalongan, jangan lupa membeli batik

Jalan-jalan ke kota Pekalongan, ada museum batik juga lho!

(Pantun gak jelas!! hehehe…)

Senangnya ditakdirkan untuk PKL di kota Pekalongan. Kota yang dijuki Kota Batik ini memang menyimpan beribu kenangan yang indah dengan warga yang ramah dan warisan budaya yang mengagumkan. Batik, sebagai ikonnya memiliki beragam cerita dan kekhasan. Salah satunya adalah Museum Batik.

Hari Minggu di Pekalongan tidak seru rasanya jika tidak mengunjungi Museum Batik yang terdapat di tengah kota. Bersama Pak Galih, Agus dan Eko, berjalan kaki dari daerah Krapyak Lor. Melewati jalan pintas dengan menyebrangi sungai menggunakan perahu tarik, 5 menit berjalan sampai ke lokasi Museum.

Akhirnya sampai ke depan Museum. Tak sabar rasanya untuk masuk dan memotret berbagai corak batik di dalamnya dengan camdig pink pinjaman kakak yang selalu setia di genggamanku.

Dengan langkah cepat, langsung menyambangi lobby gedung Museum Batik yang telah menunggu dua gadis cantik guide museum. dan gubrak..!!!!
Masuk gedung tiba-tiba diperhadapkan dengan sebuah tulisan di dinding, Dilarang memotret di dalam ruangan. Seketika langsung drop dan menyembunyikan camdig ke saku tas jinjingku. Sungguh kecewanya saat melihat tulisan itu.

Di sisi lain, sambutan hangat sang guide museum seakan mengurangi rasa kecewaku. Keramahan orang Pekalongan memang tidak diragukan lagi, sebagai buktinya dalam menyambut pelancong seperti kami. Lalu kami membeli tiket di meja registrasi dan bertanda tangan sebagai tamu. Terjangkau, ya, dengan rogoh kocek Rp 5.000,- sudah bisa menjelajahi museum batik sepuasnya.

Masuk ke dalam ruang museum, pandangan mata terbelalak dan perasaan terasa kagum dengan koleksi-koleksi batik yang bervariasi dan indah. mulai dari bahan-bahan kimia dan alami dalam membuat batik dipajang di meja dengan tersusun rapi. Di sisi kanan dan kiri terdapat dinding kaca yang di dalam kaca itu dilebarkan kain batik yang beragam corak, asal dan tahunnya. Di tengah ruangan, tergantung kotak kaca tergantung tali yang berisi lipatan kain batik dengan corak yang berbeda juga, seperti pada bagian sisi ruangan. Sejuknya ruangan tersebut menambah nuansa nyaman melihat dan memandangi koleksi batiknya.

Kami berempat ditemani oleh seorang guide yang cantik dan ramah. Dia menjelaskan dengan lengkap tentang koleksi-koleksi batik yang ada. Saat ini ada 900 koleksi batik yang dimiliki oleh museum. Semuanya berasal dari sumbangan masyarakat dari berbagai kalangan dan umur corak batik pun beragam, ada yang dari tahun 1800-an hingga tahun 2000-an. Semuanya tersimpan rapi di ruang penyimpanan. Mereka menyumbangkan batik warisannya secara cuma-cuma ke museum untuk dirawat karena jika di tangan mereka, khawatir tidak dapat lestari dengan baik. Oleh karena itu, sebagai bentuk apresiasi pengelola museum batik, para donatur diberikan sertifikat penghargaan.

Batik yang dipajang di dalam ruang museum dan kotak kaca hanyalah sebagian dari jumlah koleksi. Setiap 3 bulan sekali dilakukan rotasi, batik-batik yang dipajang diganti lagi dengan koleksi yang baru. Saat di dalam museum, berbagai corak terpajang di ruangan. Batik khas daerah Pekalongan, Cirebon, Solo, Yogyakarta, dll. Ada dua tipe batik nusantara, yaitu bercorak pedalaman dan yang telah terakulturasi.

Corak pedalaman merupakan corak batik yang masih mempertahankan kekhasan keraton. Batik yang bercorak pedalaman seperti Batik Solo dan Yogyakarta. Sedangkan corak yang telah terakulturasi adalah batik yang motifnya bercorak khas misalnya China dan Arab. Corak Cina bercirikan lengkungan meliuk-liuk dan adanya bunga-bunga serta lebih berwarna. Sedangkan corak khas Arab dengan pola simetris pada corak batiknya. Corak batik yang berkesan adalah corak batik Cirebon dengan corak yang tegas dan enak dipandang. Namun, selera orang berbeda-beda, apalagi dalam hal motif batik, tergantung selera.

Setelah melewati berbagai ruangan berisi beragam batik, selanjutnya menuju ke ruangan workshop. Disambut oleh dua orang pengrajin batik, kami diajak untuk mencoba cara membuat batik. Aku pun langsung duduk di depan pengrajin dan meminta untuk diajarkan cara membatik. Saya disuguhi selmbar kain yang telah diberi desain dengan pensil, kemudian diajarkan cara memegang canting  lilin (tinta batik) yang diserok di wajan yang dipanaskan dengan Anglo (kompor dari tanah liat). Kemudian meniup ujung canting lalu menggoreskannya sesuai dengan garis yang telah disketsa di atas kain.

Ternyata membatik itu membutuhkan konsentrasi dan kesabaran yang besar. Tak ayal jika batik tulis asli lebih mahal dibandingkan batik cap. Saat ini dengan adanya batik cap yang produknya lebih rapi dan murah, menggeser dan mereduksi batik tulis asli di masyarakat.

Setelah menikmati proses membatik, akhirnya kami keluar dan kembali ke lobby museum. Seakan pandanganku tak ingin terlewatkan dari celah-celah potret museum, kutemukan sebuah pajangan tepat di belakang meja guide. Sebuah pajangan berisi setifikat berbahasa asing dan ternyata dari UNESCO. Memang, batik saat ini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Sungguh membanggakan dan akupun langsung memotretnya.


Setelah berkagum ria dengan plakat itu, guide museum mengajak kami masuk ke ruangan merchandise. Barang yang dijual bagus-bagus. Namun sayang beribu sayang, kantong sedang bolong, apalah daya merchandise tak terbeli. Begitulah nasib mahasiswa di hari akhir PKL.

Selepas itu, kami keluar museum. Tepat di depan museum, ada monumen batik yang sangat menarik. Tanpa basa-basi kami menuju ke monumen yang letaknya di sudut lapangan itu. Monumen itu terdiri dari huruf bertuliskan BATIK. Tiap huruf berukuran sekitar 2,5 meter tingginya dan lebar sekitar 1,5 meter dengan lapisan luar motif batik. Aku dan teman-teman berfoto ria tanpa ragu di monumen yang indah itu.

Karena cuaca siang itu sangat menyengat, kami tidak berlama-lama di monumen batik. Bergegas kami langsung pulang dengan berjalan kaki dan melewati jalur yang sama. Sungguh menyenangkan mengunjungi museum Batik di Pekalongan. Secara umum sangat berkesan ketika di waktu senggang kita mengunjungi museum sebagai pembelajaran akan warisan budaya kita khususnya budaya nusantara.

Ayo ke Museum…!!!!

3 thoughts on “Museum Batik Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s