Anak-anak muda Sulawesi-selatan sekarang jika dilontarkan pertanyaan “Apa itu La Galigo?”, sebagian besar dari mereka tidak mengetahui. Ada yang menjawab dia adalah pahlawan, sastra, pelaut, utusan tuhan bahkan ada yang melongok tidak tahu apa yang mesti dia jawab tentang itu. Begitulah potret pengetahuan anak muda Sulawesi-selatan jika ditanya tentang La Galigo. Antusiasme anak muda terhadap khasanah budaya yang satu ini sangatlah minim. Padahal realitas pengetahuan dan keunikan dibaliknya sangat luar biasa hebat serta patut dibanggakan oleh orang Sulawesi-selatan khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Faktanya, La Galigo adalah karya sastra epik tulis terpanjang di dunia yang diakui oleh UNESCO sebagai Memory of The World terdiri dari 300.000 baris teks dan 12 volume manuskrip. Di dalamnya terdapat cerita-cerita yang tidak kalah seru dan menarik dibandingkan dengan kisah Mahabrata, Ramayana, dan lain-lain yang sudah memenuhi telinga kita sejak kecil. Saat ini naskah asli La Galigo tersimpan rapi dan aman di perpustakaan Universitas Leiden di Belanda. Bukan hanya sebagai penemuan mereka di  Indonesia sebagai bekas jajahan, tetapi kepedulian mereka untuk melestarikan dan menjaga peninggalan dunia yang unik dan mengagumkan ini.

Berkebalikan di Indonesia, pelestarian La Galigo sangat jauh berbeda dengan di Belanda. Manuskrip tidak terwat dengan baik, bangunan tempat penyimpanannya sangat tidak memadai serta orang yang betul-betul serius merawat La Galigo ini hanya segelintir dan dapat dihitung jari.

Beranjak dari keprihatinan ini, sejumlah anak muda dari berbagai perguruan tinggi tergerak untuk memacu pelestarian La Galigo ini dengan metode kontemporer agar bisa dierima secara kultur di lingkungan anak muda jaman sekarang yang notabene tidak peduli dengan budaya lokal mereka sendiri. Muhammad Amri Buana (UGM), Maharani Budi (STISI Telkom Bandung), Setia Negara (ITB), dan Fitria Sudirman (Universisat Indonesia). Mereka adalah putra-putri daerah asli berdarah Sulawesi-selatan. Mengusung La Galigo For Nusantara Project yang disingkat LONTARA Project sebagai pergerakan nyata dalam melestarikan La Galigo di Indonesia sebagai warisan budaya yang sangat luar biasa.

Ditemui di Alun-alun Kidul, tepatnya di Indonesia Boekoe (iboekoe) pada tanggal 21 Februari 2012, mereka mengadakan program Road Show dan Grand Launching LONTARA Project di Yogyakarta. Peserta dalam hal ini anak muda Sulawesi-selatan yang hadir dan memenuhi undangan dapat dihitung jari, ada sekitar 15 orang termasuk para presenter dan volunteer LONTARA Project berjumlah 7 orang . Salah satu bukti nyata kurangnya kepedulian anak muda terhadap warisan budaya daerah. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat tim LONTARA Project untuk mempresentasikan tentang gerakan mereka.

Dengan mengusung tema Konservatif Kreatif, tim LONTARA Project yang dimotori Ahlul, Setia, Rani dan Fitri ini mencoba memperkenalkan La Galigo kepada Indonesia dan dunia dengan cara yang kontemporer, familiar dengan kehidupan anak muda sekarang agar dapat diterima dan dilestarikan. Kenali (Uncover), Lestarikan (Preserve) dan Sebarkan (Speak) La Galigo merupakan bentuk tahapan gerakan yang mereka lakukan dalam LONTARA Project ini yang dikenal dengan I UPS! La Galigo.

Kenali (Uncover) La Galigo adalah mengenali seluk beluk La Galigo melalui tulisan-tulisan di web, diskusi, dan lain-lain. Lestarikan (Preserve) La Galigo adalah melakukan gerakan dengan T-Shirt La Galigo, merchandise La Galigo, dan menggalang donasi. Sebarkan (Speak) La Galigo adalah gerakan menyebarkan foto, video atau musik kreatif terkait La Galigo dan LONTARA Project ini.

Ketiga tahap tersebut saat ini sedang berjalan dan mendapat respon yang luar biasa dari anak-anak muda khususnya di dunia maya yang sering ditongkringi oleh para anak muda saat ini. Salah satu tahap gerakan yang menarik yang sekarang berjalan adalah memperkenalkan karakter-karakter dalam cerita La Galigo melalui komik dengan bahasa dan tampilan yang menarik. Selain itu, ada juga ilustrasi karakter dalam La Galigo yang dibuat dalam bentuk visualisasi wallpaper, seperti La Massaguni, Sawerigading, We Tenriabeng, dan lain-lain. Serta masih banyak hal-hal menarik yang dilakukan dan ditawarkan dalam gerakan LONTARA Project ini.

Untuk memperkenalkan gerakan ini, para anak muda tersebut memanfaatkan dengan baik media yang ada, utamanya media jejaring sosial. Pusat informasi gerakan ini dapat dilihat di website LONTARA Project: www.lontaraproject.com. Selain itu dapat berinteraksi melalui facebook: La Galigo For Nusantara dan twitter: @lontaraproject. Dalam 3 bulan terakhir ini, telah terdapat ratusan follower jejaring sosial gerakan ini dan telah banyak volunteer-volunteer yang ikut serta mengembangkan gerakan ini agar dapat membumi di Nusantara.

Dengan adanya gerakan yang diusung oleh anak muda ini, telah memberikan harapan cerah bagi masa depan La Galigo. Menghidupkan dan menggemakan kembali keemasan budaya Sulawesi-selatan adalah tugas mulia yang harus mereka emban sebagai bentuk kesadaran primordial. Membumikan La Galigo di Indonesia sebagai kekayaan bangsa, serta membangun karakter anak muda yang peduli terhadap warisan budayanya untuk Nusantara yang lebih bermartabat.

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s