Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembalikan 103 ton ikan impor yang positif mengandung formalin—zat kimia pengawet jenazah—ke Malaysia dan Pakistan, Selasa (14/2/2012). Ikan berformalin tersebut masuk ke Medan, Sumatera Utara (kompas.com, 15 Februari 2012).

Kepala Bidang Pengawasan Perizinan Pengolahan Pemasaran dan Kelembagaan Dinas Kelautan dan Perikanan Nunukan Rukhi Syayahdin mengatakan, pihaknya memusnahkan 10 kilogram ikan yang terdeteksi mengandung formalin saat dilakukan razia di Pasar Jamaker, Jumat (18/11/2011). (kompas.com, 18 November 2011).

Itu hanya sekelumit berita yang terekam media di Indonesia menyangkut maraknya ikan berformalin di masyarakat. Sikap produsen ikan baik pengimpor, nelayan dan pedagang yang tidak bertanggung jawab merupakan sebabnya. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai bahaya formalin bukanlah hal yang utama karena berbagai pihak telah melakukan penyluhan dan penyebaran informasi terkait hal tersebut, namun hanya tidak intens dan berkelanjutan menurut berbagai pendapat masyarakat.

Ikan merupakan sumber protein hewani yang cepat mengalami kerusakan atau pembusukan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengawetkannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat dalam keadaan layak untuk dikonsumsi. Upaya pengawetan ikan di masyarakat dimulai dari awal penangkapan ikan, distribusi hingga sampai ke tangan konsumen. Tetapi pada saat ini masih terdapat penanganan ikan dengan menggunakan cara yang tidak bertanggung jawab. Penggunaan formalin sebagai salah satu cara tidak bertanggung jawab yang masih dilakukan oleh oknum-oknum tertentu untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan.

Selain itu, persaingan antar produsen ikan segar kini semakin ketat sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian konsumen ikan. Salah satu upaya produsen ikan adalah mempertahankan kesegaran ikan hingga ke tangan konsumen. Tidak hanya produsen ikan dalam negeri, produsen ikan dari luar negeri pun ikut bersaing dalam produksi ikan di Indonesia. Impor ikan dari luar negeri juga tidak lepas dari kandungan formalin. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan memperketat masuknya ikan impor ke Indonesia menyusul ditemukannya ikan impor yang terindikasi melanggar aturan. Pelanggaran yang ditemukan, ikan impor itu mengandung bahan pengawet berbahaya, yaitu formalin. Harga ikan impor tersebut bahkan lebih murah dibandingkan harga ikan produk lokal (Kompas, 10 Maret 2010).

Mutu dan keamanan produk pangan adalah persyarataan yang mutlak harus dipenuhi dalam produksi bahan pangan khususnya ikan. Saat ini, keracunan akibat produk perikanan sering terjadi, bahkan seringkali impor produk pangan terutama ikan sering ditolak di suatu negara karena adanya masalah mutu dan keamanan pangan. Selama ini, dalam hal keamanan pangan telah ditemukan berbagai hal yang tidak diharapkan terutama dalam penggunaan bahan-bahan yang tidak selakyaknya digunakan dalam pangan, kini marak terjadi seperti disajikan pada tabel berikut.

Hasil survey penggunaan bahan tambahan bukan untuk pangan pada penanganan dan pengolahan produkperikanan.

No.

Jenis Malpraktek

Jenis Produk

Jenis Bahan yang Digunakan

1. Penggunaan bahan pewarna yang tidak dianjurkan
  1. Terasi

Rhodamin B, Kesumba

Cap Belalang, pewarna

lain tanpa merk yang

jelas

  1. Daging kerang hijau

Pewarna Cap Kodok

dan Pewarna Cap Ikan

Mas Koki

  1. Pindang kuning

Auramin

2. Penggunaan Insektisida
  1. Ikan Jambal

Pastak, Endodan 350

EC, Baygon, Startox

  1. Ikan Asin

Startox

  1. Ikan Asin Rebu

Baygon dicampur

minyak tanah

  1. Tepung ikan/Bahan

baku tepung ikan

Baygon

  1. Sirip Hiu

Startox

3. Penggunaan Borax
  1. Ikan Jambal

Borax

  1. Bakso Ikan

Borax

4. Penggunaan HidrogenPeroksida
  1. Ikan Asin/Jambal

H2O2

  1. Ikan Teri

H2O2

  1. Ikan Peda

H2O2

5. Penggunaan Bahan Pemutih     Ikan Asin

Bayclin

6. Penggunaan Sabun Cuci
  1. Sirip Ikan Hiu

Deterjen

  1. Cumi-Cumi Kerin

Deterjen

7. Penggunaan Tawas Ikan Asap

Tawas

8. Penggunaan Bahan PengawetMayat Ikan Segar

Formalin

Sumber: Irianto dan Murdinah (2006)

Pemakaian formalin didalam makanan sangat tidak dianjurkan karena didalam formalin terkandung zat formaldehid yang didalam tubuh bersifat racun. Kandungan formalin yang tinggi didalam tubuh akan menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik dan bersifat mutagen serta orang yang mengkonsumsinya akan muntah, diare dan kencing bercampur darah dan apabila terhirup akan merangsang terjadinya iritasi hidung, tenggorokan dan mata (Winarno, 2004).

Lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat (EPA) dan lembaga internasional untuk penelitian kanker (IARC) menggolongkan formalin sebagai senyawa yang bersifat karsinogen. Formalin akan mengacaukan susunan protein atau RNA sebagai pembentuk DNA di dalam tubuh manusia. Jika susunan DNA kacau maka akan memicu terjadinya sel-sel kanker dalam tubuh manusia. Tentu prosesnya memakan waktu yang lama, tetapi cepat atau lambat jika tiap hari tubuh kita mengonsumsi makanan yang mengandung formalin maka kemungkinan terjadinya kanker juga sangat besar (Widyaningsih dan Murtini, 2006).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s