Minggu, 22 Mei 2011

Malam yang dingin dengan suara hentakan gerbong kereta yang bersinggungan dengan rel meramaikan suasana stasiun Pasar Senen kala itu. Padatnya calon penumpang membuat pandangan ini sempat linglung dan hati berdebar-debar. Wajar, karena saat itu baru pertama kali melakukan perjalanan seorang diri, transit di berbagai stasiun tanpa teman bicara dalam perjalan Jakarta-Bogor dan Bogor-Jakarta. Hal itu tak menyurutkan niat dan semangatku untuk bertemu kawan-kawan seperjuangan. Jam stasiun menunjukkan pukul 19.17 WIB. Kuambil selebaran tiket dari dompet dan kucermati, kereta yang akan kunaiki berangkat pukul 19.30 WIB. Tak sabar hati ini untuk naik ke kereta. Saat itu saya akan melakukan perjalanan pulang menuju Yogyakarta.

Bak ayam jantan yang tepat waktu berkokok menandakan pagi, kereta Senja Utama Yogyakarta tiba dengan suara peluit yang nyaring dan hentakan gerbongnya tepat di hadapanku.  Gerbong 5 dan kursi 2B, di pikiranku saat itu. Iringan doa mengantarkanku naik ke kereta dan langsung menuju kurusi tujuan. Tak lama sesampainya di tempat yang akan kutempati, di hadapanku terlihat sebuah keluarga  yang nampak harmonis mengucapkan salam perpisahan kepada ibunya yang juga akan berangkat. Peluit lokomotif pun berbunyi lagi dan menandakan kereta akan segera diberangkatkan. Kupandangi sosok ibu yang berparas damai itu dan bertanya “Ibu, duduk di sini juga ya?” dan dengan suara lembut ibu itu menjawab “iya mas”. Suara itu itu mengingkatkan sosok ibuku yang hampir satu tahun tidak bertemu.

Ketika kereta mulai berangkat, suasana hening dalam kebisingan suara gerbong kereta kembali tercipta. Perasaan aneh dan nervous menggerogoti tubuh ini ketika berdekatan dengan ibu ini. Tiba-tiba sang ibu menoleh ke arahku dan berkata “Mau ke mana mas?”, perasaan nervous itu tiba-tiba lenyap dan langsung menjawab “ke Jogja bu”. Kumulai percakapan dengan ibu itu dengan harapan dapat mengisi hening malam ini menuju Yogyakarta.

saya : “Ibu ke Jogja juga?”

ibu : “iya, saya mau menjenguk anak yang baru mau masuk kuliah, sama mau bawain peralatan rumah tangga.” saya :  “Owh, anaknya kuliah di mana bu?”ibu : “Di daerah Sagan, dia sekolah Kebidanan. Kurang tau jg apa namanya, saya lupa. Kebetulan dia mau pindah kuliah dan cari suasana baru. Lagian di Jakarta biaya hidupnya mahal banget”, ujar ibu sambil tersenyum.

saya : “owh, begitu ya bu. Emang sih bu, di Jogja biaya hidup sangat murah. Ibu tinggal di mana?”

ibu : ” Saya tinggal di Pondok Gede. Dari mana mas ?” alihnya.

saya : ” Saya dari Bogor bu kebetulan ada Seminar Nasional di IPB dan pengen ketemu teman-teman himpunan mahasiswa di sana?”

ibu : “Kuliah di mana dan ambil jurusan apa di Jogja?”

saya : ” Saya di Mercu Buana Jogja, ngambil prodi Teknologi Hasil Pertanian bu”. Kebetulan saya juga tergabung di anggota Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia, sekretariatnya di IPB bu.” Jawabku dengan semangat yang menggebu-gebu.

ibu :  “owh, semester berapa sekarang mas?”

saya : “Saya semester 4 bu. Ibu kerja di mana?””

ibu : “Saya ngajar di taman kanak-kanak, kebetulan saya pengelola Yayasan Darussalam di daerah Pondok Gede. Yayasan itu Alhamdulillah udah ada mesjidnya, taman kanak-kanaknya, TPA-nya. Alhamdulillah, saya termasuk pengelolanya.”

 

Percakapan terakhir mengantarkanku mengingat sebuah mimpi yang telah kubangun beberapa bulan yang lalu. Mimpi yang ingin kuraih dan kurealisasikan. Mimpi yang tidak muluk-muluk dan mimpi yang ikhlas ingin kujalani. Seakan Allah memberikan jalan mewujudkan mimpi ini dengan mempertemukanku dengan ibu ini. Mimpi ini telah kuceritakan ke beberapa temanku di kampus. Namun ini hanya sebatas cerita yang dibalut semangat. Pesimisme kadang muncul ketika memikirkan hal ini, tetapi semangat merealisasikan mimpi ini kembali muncul ketika mengingat teman-teman seperjuangan di HMPPI.

Mimpi ini muncul dan terilhami saat saya kuliah evaluasi gizi di kampus. Dibawakan oleh dosen yang tegas dengan ciri khas tampilan data dan hasil survey di setiap perkuliahannya. Data yang sering dia paparkan mengenai pola jajan anak sekolah saat ini yang tidak memperhatikan kandungan zat-zat berbahaya di makanannya. Kandungan bahan makanan sebagai jajanan anak-anak saat ini mengandung boraks, rhodamin, formalin, pewarna tekstil, dll. Saat ini belum berkurang penggunaannya di kalangan anak-anak. Pikirku, Bagaimana bangsa ini ingin melindungi kalau anaknya dibiarkan memakan panganan yang berbahaya setiap hari. Bagaimana bangsa ini ingin mencerdaskan ketika mereka membiarkan anaknya mengkonsumsi pangan yang merusak kecerdasan otak. Hanya sebatas program, tempelan-tempelan dan omongan saja.  Itu tidak cukup. Pernahkah mereka lakukan kegiatan intens dalam mengawasi jajanan anak yang beredar ? Tidak. Kalaupun pernah, mungkin hanya sebatas program sementara dan tidak ada tindak lanjutnya. Kalaupun hanya program sementara, hanya menimbulkan dampak yang sangat sedikit. Dampak yang sangat sedikit dibarengi dengan pergerakan intens produsen panganan berbahaya, sama aja bo’ong……… (maaf, lagi emosi…hihihihi :D)

Kulanjutkan perbincangan dengan ibu di sampingku, menceritakan mimpi yang ingin kurealisasikan. dengan ekspresi semangat, to the point aku melanjutkan perbincangan.

saya : “Kebetulan bu, di himpunan peduli pangan itu gabungan dari berbagai universitas di Indonesia yang mau bergerak peduli terhadap pangan di Indonesia. Saya punya cita-cita program bu, ingin ngadain Pendidikan Pangan Usia Dini buat anak-anak TK maupun SD secara intens. Tapi program ini membutuhkan peran intensif dan konsisten dari tiap lembaga.”

ibu : “Ya, bagus juga.”

saya : dengan suntikan semangat, “Iya bu, saya mau mengawali dengan memberikan pendidikan tentang bahaya jajanan kepada anak-anak kecil supaya mereka sadar akan pangan berbahaya di sekelilingnya. Mungkin yayasan-yayasan seperti yang dikelola ibu nanti bisa diajak kerja sama merealisasikan program ini dan bisa menjadi kelompok percontohan buat taman kanak-kanak yang lain ketika dapat konsisten. Impian saya jika sudah berjalan konsisten, dapat mempengaruhi setiap taman kanak-kanak atau sekolah-sekolah di Indonesia. Ketika telah intens, ini akan mempengaruhi semua stakeholder yang bersinggungan langsung dengan kegiatan ini.” 

ibu : “Oh iya mas, hubungi nomor saya aja atau nomor bapak, dicatat dan nanti hubungi ibu aja kalau ke Pondok Gede.”. Jawab sang ibu dengan ekspresi senang dan semangat. Saya dengan ibu Muli”

saya : “Oh, iya bu, kalau insya Allah jadi dan ada waktu, saya akan jalan-jalan ke tempat ibu”.

 Kelegaan terasa saat melihat ekspresi dan semangat ibu ini saat mendengar celotehan saya yang mungkin menurut orang hanya omongan belaka. Terserah orang mau bilang apa, yang namanya mimpi adalah hak setiap orang dan ini mimpi saya. Percakapan mengenai topik itu berhenti sejenak setelah kami bertukar nomor handphone. Setelah itu, rasa kantuk mulai mendera dan irama suara hentakan gerbong di atas rel mengantarku tidur di dalam kereta malam itu.

Tanpa terasa kereta akan segera sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta, dinginnya kota Yogyakarta di saat subuh masuk ke dalam kereta. Kereta berhenti dan saya langsung turun membawa tentengan karton ibu Muli menuju ke tempat duduk stasiun menunggu ojek langganan keluarga ibu Muli. Saya langsung berpamitan dan pulang menuju asrama tercinta di daerah Wirobrajan. Perbincangan dengan ibu Muli kuceritakan dengan beberapa teman kampus di esok hari. Perbincangan ini merupakan suntikan semangat dan dukungan yang diberikan alam melalui takdir Allah dengan mempertemukan saya dengan Ibu Muli. Bukti nyata semangat ini adalah pada hari Minggu, 29 Mei 2011  tepat pukul 12.07 WIB tulisan ini diselesaikan dengan semangat menggapai mimpi yang ingin kurealisasikan bersama teman-teman seperjuangan nantinya.

Peduli, Nyata Berkelanjutan

😀

4 thoughts on “Semangat Mimpi Dalam Kereta

  1. salam mahasiswa de..masi ingat dengan saya?
    btw bgmn cara bergabung menjadi stakeholder di lontara project?sdh lama saya cara wadah untuk menyatukan teman2 disini untuk memperkenalkan budaya bugis keseluruh penjuru dunia.

    1. iye… Kakak angkatan di SMA 3🙂
      Lontara Project sifatnya volunteer, lebih lengka yang bisa jelaskan mungkin Pendirinya, di facebook Louie Buana🙂

      Saya bagian dari volunteer lontara project jg🙂
      makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s