HMPPI-BSO HIMAGHITA

Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah

Mengunjungi setiap komisariat HMPPI seluruh Indonesia merupakan suatu target tersendiri dalam 2 tahun periode ini. Berawal dari rasa penasaran dan kerinduan terhadap kawan-kawan peduli pangan Indonesia, saya membulatkan tekad untuk berusaha mencapai target itu. Langkah awal yang telah saya lakukan adalah berkunjung ke Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah tepatnya Minggu, 23 Oktober 2011 kemarin. Bersama Danang Prasetyo (Universitas Mercu Buana Jogja) dan Dwiyanto Hartono (BPP Keilmuan dan Profesi) menuju Solo dengan kereta disertai semangat yang menggebu-gebu.

Komisariat HMPPI Universitas Sebelas Maret yang tergabung dalam BSO HIMAGHITA akan mengadakan FOOD DAY di Dusun tempat pelaksanaan P3L mereka. Membayangkan senyum semangat Iswara (Ketua HIMAGHITA), Reny (Korlak BSO HIMAGHITA), Baskori Aji (Tim Regional Jateng-DIY), Beta (BPP Pengmas) dan kawan-kawan BSO HIMAGHITA lainnya membuatku sabar untuk bertemu mereka.

Sesampainya di Solo tepat Pukul 08.30 WIB, kita bertiga langsung menuju ke UNS, markas besar HIMAGHITA. Setibanya di sana, tampak pemandangan yang cukup menawan dengan pohon-pohon tumbang akibat hujan lebat dan angin kencang yang terjadi semalam di Solo. Tetapi nampaknya itu tak mengkerutkan wajah teman-teman HIMAGHITA dalam melakukan aksinya. Diawali dengan makan nasi liwet khas Solo dilanjutkan dengan sharing HMPPI dengan HIMAGHITA nampak suasana yang bersahabat. Sharing diawali dengan perkenalan dengan teman-teman HIMAGHITA yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng J.

Masuk ke inti pembicaraan yaitu penjelasan mengenai pelaksanaan P3L di HIMAGHITA, sejarah pelaksanaan P3L yang awalnya dinamakan IPP disampaikan oleh Kadiv. Humas HIMAGHITA. Bagian penjelasannya yang membuat takjub yaitu “BSO HIMAGHITA berdiri pada tahun 2009”, artinya baru terbentuk dan saat ini sudah mempunyai anggota aktif lebih dari 20 orang. Lebih hebatnya lagi sampai saat ini mereka sangat massive melakukan gerakan. Saya mengira bahwa BSO ini telah berdiri sekitar 5 tahun karena melihat pelaksanaan program mereka yang sangat nyata dan terorganisir dengan baik sampai sekarang. Ini baru penjelasan sejarahnya lhoooo……

Pembahasan kedua adalah mekanisme pelaksanaan program teman-teman BSO. Seperti halnya harapan kita dalam IPP maupun P3L saat ini adalah bagaimana langkah nyata mengabdi kepada masyarakat dengan mengembangkan poduk pangan lokal melalui pelatihan di desa-desa atau kelompok masyarakat yang berpotensi. Secara umum beberapa tahapan yang telah mereka lakukan adalah Survey lokasi, Persiapan, advokasi dan mediasi, pelatihan, monitoring dan evaluasi, output. Potensi pangan lokal dari desa yang teman-teman UNS bina adalah ubi jalar. Hasil dari pembinaan tersebut terdiri dari kripik ubi ungu, pia ular (pia ubi jalar), stick ubi jalar (balado), dll. Rasanya enak dan pas di lidah. Produk pangan lokal mereka telah dijual di acara HIMAFEST dalam bentuk bazaar pangan di lingkungan Fakultas Pertanian UNS.

Pertanyaan yang tak pernah kita lewatkan adalah, “apa saja kendala yang dihadapai selama ini dalam menjalankan program di BSO????”. Masalah yang dihadapi adalah masalah klasik, antara lain:

1. Peminat untuk membentuk unit usaha di desa-desa atau dusun di sana sangat sedikit.

2. Komunikasi dengan masyarakat di sana kurang intens karena tempatnya yang jauh.

3. Kurangnya tenaga ahli dalam proses-proses pelatihan. Karena yang dihadapi adalah sebagian besar orang yang lebih tua daripada kita, “jadi tau sendiri deh, gimana…..heheheh”

4. Kurangnya keterlibatan dosen.

5. Sponsor yang diajukan kurang ditanggapi.

Pada dasarnya dalam melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini pasti mempunyai kendala. Kita harus bekerja ekstra dalam mengatasi kedala itu dan harus tetap bersemangat. Sampai saat ini ada beberapa kabar gembira sebagai efek pembinaan masyarakat di sana yaitu, adanya ibu-ibu yang sering mendapat pesanan arisan di desanya dengan membuat produk hasil pelatihan. Secara tidak langsung telah menambah penghasilannya dan itu yang diharapkan. If there is a will there is a way. Alhamdulillah sampai saat ini teman-teman di UNS tetap menjalankan program secara serius dan semangat. Saluuuuttttt…..!!!!!!

Tantangan jangan sampai menyurutkan kita untuk terus berbuat dan berkarya membantu orang lain. Justru tantanganlah yang menjadi batu asahan bagi kita untuk terus tumbuh menjadi insan yang dewasa.

Dalam mengatasi kendala tersebut, teman-teman HIMAGHITA punya cara yang efektif agar masyarakat lebih tertarik untuk terlibat dalam program ini. Caranya yaitu tidak hanya melaksanakan program saja, namun melakukan kegiatan rekreatif sebagai selingan dalam program yang dilakukan. Adapun bentuk kegiatan rekreatif yang dimaksud, yakni:

1. Melakukan penyuluhan untuk anak-anak sekolah di sana (tidak sedikit dari anak ibu-ibu yang dibina).

2. Pekarangan Hidup untuk bapak-bapak (pelatihan budidaya tanaman à jamur).

3. Lomba masak untuk ibu-ibu binaan.

Dalam berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain, niscaya akan diberi kemudahan untuk menjalankan keseharian kita.

Food Day, acara rekreatif yang dilakukan oleh teman-teman HIMAGHITA di dusun binaan mereka sangatlah bermanfaat dan meningkatkan semangat warga di sana. Acaranya beraneka ragam dan sangat menarik. Lomba makan jagung yang digantung (seperti lomba makan kerupuk di acara 17an) untuk anak-anak di sana. Teriakan-teriakan, nyanyi-nyayian dan canda tawa anak-anak bikin merinding. Merinding karena kesenangan melihat antusias mereka. “Jadi ingat nih masa-masa kecil di kampung..heheheh”.

Acara berikutnya lomba masak untuk ibu-ibu binaan. Menggunakan bahan baku tempe dan harus memiliki unsur kreatifitas yang tinggi. Senyum ibu-ibu saat memasak, rengekan anak-anaknya, dan suara-suara ulekan untuk membuat sambal menghias kegembiran sore itu. Aroma masakannya sangat wangi dan membuat perut keroncongan. Kebetulan sore itu hujan turun dan suasananya dingin. “Hahahaha….. Jadi ngiler nih….”.

Disamping itu terdengar suara anak-anak yang sangat semarak. Tepatnya di lapangan samping balai dusun. Perlombaan memasukkan bola plastik dengan terong yang diikat di pinggang menjadi permainan yang menarik bagi anak-anak. Demi mendapatkan hadiah mereka berjuang keras untuk memasukkan bolanya. Sangat menyenangkan berada di tengah-tengah kumpulan anak kecil yang sedang gembira, bersemangat dan antusias.

Acara terakhir yaitu penyuluhan keamanan pangan dengan topik mengenai bahaya plastik pada makanan. Ibu-ibu dijelaskan mengenai jenis-jenis plastik dan bahayanya. Mereka sangat antusias mengikuti pelatihan. “Naaahhhh……. Untung saja, ada salah satu teman dari UNS yang bahasa Jawanya sangat lancar. Problem satu ini nih yang kadang menjadi kendala bagi pembinaan kelompok yaitu, bahasa”. Sambil penyuluhan kita menilai hasil masakan ibu-ibu tadi. Masakannya enak-enak dan aromanya harum, “Bukan Harum Koreg Jateng-DIY lho…..:D “. Terdiri dari 5 kelompok dengan berbagai jenis masakan berbahan baku tempe. Ada mendoang, oseng-oseng tempe pakai kacang, rolade tempe, tempe kering. Juara pertama diraih oleh kelompok yang membuat rolade tempe. Roladenya sangat enak dan kreatif. Mereka pun diberikan hadiah yang tidak seberapa, namun semangat mereka sangat terlihat di sini. Setelah itu, mereka diberi motivasi untuk membuka usaha dengan masakan hasil karya mereka sendiri.

Menyenangkan dan mengharukan. Itu yang bisa terucap saat melihat kegiatan hari itu bersama teman-teman HIMAGHITA. Menyenangkan bisa berbaur dengan masyarakat di desa dan teman-teman mahasiswa dari UNS. Mengharukan karena merenungi apa yang telah kita perbuat sampai saat ini dan cita-cita yang ingin kita capai. Tak terasa kita telah mengorbankan tenaga dan waktu demi kebahagiaan orang lain. Mengabdi kepada masyarakat lebih indah rasanya jika kita bersama dan dilakukan dengan semangat. Kalau slogan teman-teman HIMAGHITA, Mangesti Luhur Ambangun Ndeso, Niatan Luhur Untuk Membangun Desa.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan bagi kita semua dalam menjalankan hidup dan membantu orang lain. Rasa kepedulian kita dituangkan dalam bentuk nyata dan dilakukan secara berkelanjutan, that’s the real HMPPI. Sebuah bentuk semangat yang patut dicontoh dari teman-teman di Solo. Let’s move……….!!!!!

Pengangkatan Produk Pangan Lokal (P3L).

Ini ceritaku………

The next story, cooming soon.

😀

Salam HMPPI

Peduli, Nyata, Berkelanjutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s