Hari ini 22 Desember merupakan hari ibu. Hari ayah kapan?

Banyak orang yang berkomentar akan hal itu. Seakan-akan ada ketimpangan antara peran ayah dan ibu. Tidak menutupkemungkinan individu-individu baru akan merasakan kultur berbeda dengan keterbiasaan ketimpangan tersebut. Coba bayangkan jika “ketidakadilan” tersebut telah tampak dan semakin berkembang dan dirasakan di masa depan. Saya pun tidak bisa membayangkannya.

Saat ini orang-orang merayakan hari ibu, yang mungkin ini merupakan sifat inisiatif bagi seorang pencetusnya. Padahal hari tetaplah hari, tergantung individunya yang menjalani. Mungkin saat ini mereka tambah sayang pada ibunya, tapi besok, siapa yang tahu ? dan mungkin juga saat ini mereka sayang pada ibunya dan berbalik melupakan kasih sayang terhadap ayahnya.

Kebiasaan seperti ini merupakan sifat modernisasi suatu kaum yang wajar terjadi di tengah perkembangan saat ini, dimana manusia sarat  mengabadikan suatu momen dalam rangka penghargaan atas sebuah apresiasi. Tingkah laku manusia sekarang cenderung melakukan kebiasaan tanpa memandang nilai. Oleh karena itu, jika ini dikatakan sebagai momen hari ibu, jadikanlah momen ini sebagai langkah untuk mempertegas keyakinan akan kuatnya peran seorang ibu dalam membangun seorang manusia.

Bukankah koruptor , maling, pembunuh, dan perampok di sekitar kita juga lahir dari rahim seorang ibu?

Bukankah Presiden, da’i, kiyai, pengusaha, guru, orang bijak, bahkan seorang Nabi juga lahir dari rahim seorang ibu?

Ibu merupakan sosok pelahir insan yang menentukan roda dan arah dunia ini, untuk itu mari kita sadar akan pentingnya peran seorang ibu yang melahirkan berbagai sosok individu yang berbeda-beda. Disamping itu, besarnya peranan seorang ibu tidak bisa lepas dari sosok ayah, baik dalam merencanakan hingga melahirkan seorang insan yang menjadi harapan. Jangan samapai ketimpangan ini terjadi terus menerus akibat kebiasaan umat yang monoton tak bernilai sehingga menimbulkan kesenjangan di kemudian hari.

Momen hari ibu yang digaung-gaungkan sepatutnya diambil hikmah bagi para orang yang punya ibu, sudah tidak punya ibu, akan menjadi ibu, yang ingin menjadi ibu dan telah menjadi ibu.

Semoga momen yang katanya hari ibu ini, para ibu dan calon ibu mempersiapkan insan yang lebih baik lagi dari yang ada sekarang. Dan orang yang telah lahir dari seorang ibu menyadari akan pentingnya harapan mulia mereka sebelum melahirkan kita, jadilah khalifah yang khusnul khatimah dan kebanggaan ibumu.

http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/22/polemik-hari-ibu/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s