Tik…tik..tik….Kerlingan air hujan yang membasahi atap rumah Pak Jumain. Serpihan suara air jatuhan dari sang Ilahi menyejukkan pendengaranku. Ketika kutegapkan badan, krok..krok..krok…..bunyi tulang berhentakan dari sekujur tubuhku. Aku perlahan menggosok mata dan langsung membuka pintu kamarku. Menengok ke kanan dengan lorong asrama yang berantakan dan kosong. Menegok ke kiri dengan cahaya mentari yang redup dengan angin sejuk menerpa wajah. Seketika aku tersnyum sendiri menyaksikan kesendirianku di pagi hari. Seakan mendapatkan klitikan dari dalam, bibir ini langsung tergerak membentuk senyuman khas Muhammad Ulil Ahsan.Oh asramaku…… Meskipun berantakan, bau, jorok, dan sunyi, namun tetap tegar menaungi kami sang anak perantauan bugis di Jogja. Ku menuju sumber air asrama di lantai dua yang penuh dengan serpihan kain kotor yang penuh daki dan mengeluarkan bau khas yang tertutupi dengan deterjen. Ku membasuh wajah yang setengah ganteng dan setengah jelek ini. Seketika pandangan dan ingatanku segar bak mandi di tengah gurun Sahara.Sama seperti hari-hari sebelumnya. Setelah membasuh muka, aku langsung menuju ke lantai bawah yang merupakan home teater asrama. Di bawah tangga yang megah, di depan ukiran-ukiran kreatif anak asrama, dan bertabur koran yang menumpuk bagai gunung Pattirosompe. Itulah ruang TV. Eitz….. Karena terkesimanya dengan home teater ini, hampir lupa dengan kegiatanku hari-hari sebelumnya. Tak lupa aku menuju ke depan kaca di ruang TV memandangi kumis yang cepat panjang dan jenggot yang lambat panjang. Tapi lumayanlah diriku bisa diajak pergi arisan cewek-cewek muda. Hehehehe…….Aku menelusuri lorong-lorong asrama yang luar biasa indah kotornya, baunya, dan berantakannya. Tapi entah kenapa aku betah tinggal disini. Cerita, cinta dan cita dimiliki oleh anak-anak rantauan di sini termasuk aku. Ceritanya, bercabang-cabang seperti pohon dan tidak jelas. Cintanya, berliku-liku seperti camba (nama daerah menuju makassar), ada yang bertepuk sebelah tangan, bertepuk dua tangan, dan bertepuk tiga tangan malahan. Dan citanya, setinggi langit dan sedalam samudera. Anak-anak asrama memiliki cita-cita yang mereka pertahankan masing-masing, dan sungguh luar biasa kesucian cita mereka.Asramaku istanaku. Walaupun istana pusatku di Sengkang, tapi istana cabangku ini telah meberikan banyak hal kepadaku. Temapt berkumpul dengan sahabat rantauan yang setengah sadar, setengah pintar, setengah bodoh, dan serba setengah. Tapi di asrama ini, hal yang serba setengah itu dapat kami satukan dengan berbagi cerita, cinta dan cita. Asrama La Maddukkeleng II is My Palace…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s